Ternyata Suamiku Luar Biasa

Ternyata Suamiku Luar Biasa
Bab 9 Cemburu?


__ADS_3

Rafael tidak bisa makan dengan tenang. Matanya selalu mengarah pada meja Ayana dan Satria.


"Sayang, ayo dong dimakan makanannya," ucap Ruby dengan manjanya.


Rafael tersenyum pada Ruby dan dia hanya mengaduk-aduk makanannya saja. Pikirannya berkecamuk memikirkan apa yang akan dilakukannya nanti untuk menghukum istrinya.


Melihat Rafael yang tidak juga memakan makanannya, Ruby segera mengambil alih sendok Rafael dan menyuapkan makanan yang ada dalam piring Rafael ke dalam mulut pacarnya itu.


"Kamu sengaja ya ingin aku suapi?" tanya Ruby setelah menyuapi Rafael.


Rafael tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Dalam hati dia berkata,


Benar, aku harus fokus pada Ruby. Dia pacarku dan aku mencintainya. Aku tidak boleh memikirkan perempuan lain meskipun perempuan itu adalah istriku. Karena aku tidak mencintainya. Cintaku hanya untuk Ruby.


Saat itu juga Rafael membulatkan tekatnya agar dia tidak lagi melihat ke arah Ayana. Dia mengacuhkan Ayana seolah tidak mengenalnya.


Seperti biasanya, Ruby bermanja-manja pada Rafael. Dan Rafael selalu tidak bisa menolaknya. Dia benar-benar memanjakan Ruby. Sepertinya Rafael sudah jatuh dalam pesona Ruby.


"Kak, pulang yuk. Aku harus segera pulang. Banyak pekerjaan yang belum aku kerjakan," ucap Ayana sungkan pada Satria.


Satria tersenyum dan menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan dari Ayana.


Mereka berdua segera beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kasir untuk membayarnya.


Mata Ayana dan Rafael beradu. Mereka tidak sengaja saling menatap ketika Ayana berjalan melewati meja Rafael.


Melihat Ayana yang sedang menatapnya, Rafael segera menyuapi Ruby dengan sangat romantis, berharap jika Ayana cemburu padanya.


Namun, berbeda dengan apa yang dibayangkan oleh Rafael. Ayana dengan tenangnya melewatinya tanpa menyapa ataupun marah padanya.


Ayana kesal pada suaminya. Dia sangat tidak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh suaminya. Bermesraan dengan perempuan lain di saat statusnya sudah menjadi suaminya.


Tapi, Ayana adalah gadis desa yang berpendidikan. Dia tidak mau membuat keributan di tempat umum. Satu-satunya yang diinginkannya saat ini adalah segera menyelesaikannya dengan Rafael di rumah.


"Eh Rafael, Ruby, kalian di sini juga? Kami pulang dulu ya," ucap Satria sambil menepuk pundak Rafael.


Rafael dan Ruby menganggukkan kepalanya menanggapi sapaan sekaligus ucapan pamitnya pada mereka.


Namun, mata Rafael tanpa sadar memperhatikan Ayana hingga keluar dari restoran tersebut.


Bagaimanapun dia menenangkan hatinya, tetap saja dia merasa kesal melihat Ayana digandeng oleh Satria. Dia merasa tidak terima jika istrinya digandeng oleh lelaki lain.

__ADS_1


Ayana sudah berusaha menolak ketika Satria menggandengnya. Tapi, dia tidak bisa menolaknya ketika Satria tiba-tiba menarik tangannya untuk menunjukkan jalan yang akan mereka lewati menuju parkiran.


Satria benar-benar mengantar Ayana pulang. Dia mengantarkan Ayana hingga ke rumah Rafael.


"Terima kasih Kak sudah mentraktirku makan dan mengantarkan aku pulang. Maaf tidak bisa mempersilahkan masuk ke dalam," ucap Ayana sebelum keluar dari mobil Satria.


"Gak usah sungkan. Aku sangat senang sekali jika kamu mau menemaniku makan kembali seperti tadi. Apa kamu bersedia Ayana?" tanya Satria dengan tatapan penuh harap pada Ayana.


Ayana tidak bisa menolak permintaan Satria yang sudah sangat baik padanya. Dia menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan Satria.


Kemudian dia keluar dari mobil Satria dan berjalan masuk ke dalam rumah besar itu dengan sangat sopan.


Dia selalu menyapa satpam dengan sopan seperti ketika dia menyapa tetangganya di desa.


Kebiasaan itu masih tetap dipakainya. Di mana pun dia harus melakukan hal baik sesuai dengan apa yang diajarkan oleh kedua orang tuanya.


"Bik, maaf Ayana telat pulangnya," ucap Ayana ketika sudah berada di dapur.


Bik Darmi menoleh ke arah Ayana berdiri. Kemudian dia tersenyum sambil berkata,


"Tidak apa-apa. Bibik masih bisa mengatasi semuanya sendiri."


Bik Darmi menatap Ayana dengan tatapan teduhnya dan tersenyum padanya. Dia sangat bersyukur mengenal Ayana yang sangat baik dan sangat menghormatinya.


"Ayana? Apa kamu pembantu baru yang dikatakan oleh Rafael?" 


Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang mengalihkan perhatian mereka berdua.


"Nyonya," celetuk Bik Darmi melihat majikannya berdiri di dekat mereka.


Mendengar Bik Darmi menyebut perempuan itu dengan sebutan nyonya, membuat Ayana mengetahui jika wanita yang berada di dekatnya saat ini adalah majikannya.


Ayana mengusap tangannya dan mengambil tangan wanita tersebut untuk dicium punggung tangannya.


Tentu saja wanita tersebut kaget diperlakukan seperti itu oleh Ayana. Tapi, setelah itu dia tersenyum karena merasa jika dia seperti sedang berhadapan dengan putrinya.


Rania dan Antonio Atmaja hanya mempunyai seorang putra saja yang diberi nama Rafael Atmaja. 


Tentu saja memiliki anak laki-laki sangat berbeda dengan memiliki anak perempuan. Kini, ketika dia melihat Ayana membuatnya seperti menjadi seorang ibu yang memiliki seorang putri.


Entah mengapa Rania suka pada Ayana sejak melihatnya beberapa detik yang lalu. Ditambah lagi dengan sikap sopannya itu membuat Rania semakin suka padanya.

__ADS_1


"Kamu masih kuliah kan?" tanya Rania pada Ayana sambil tersenyum manis padanya.


"Iya Bu," jawab Ayana sambil tersenyum manis dan menganggukkan kepalanya secara malu-malu pada Rania.


Rania terkekeh melihat sikap Ayana. Kemudian dia berkata,


"Lesung pipi kamu itu loh, bikin gemes aja."


Bik Darmi ikut tertawa menanggapi candaan majikannya. Sedangkan Ayana, dia semakin malu hingga terlihat semburat merah pada wajahnya.


"Oh iya Ayana, kapan-kapan kamu temani saya untuk berbelanja ya," ucap Rania sambil mengusap lembut lengan Ayana.


"Baik Bu," ucap Ayana sambil tersenyum manis pada majikannya itu.


"Ya sudah Bik, jangan lupa masak yang enak untuk dua laki-laki hebat di rumah ini," ucap Ratih sambil terkekeh pada Bik Darmi.


"Iya Nyonya. Akan Bibik masakan seperti biasanya," ucap Bik Darmi sambil memandang majikannya.


"Ya sudah, saya tinggal dulu ya. Oh iya Bik, tolong antarkan minuman saya ke kamar saya ya," ucap Ratih sebelum pergi meninggalkan mereka.


"Baik Nyonya, sebentar lagi akan saya antarkan," tukas Bik Darmi menanggapi perintah dari majikannya.


Ratih memberikan senyumannya pada Ayana sebelum dia meninggalkan dapur.


"Ayana, sebaiknya kamu ganti baju dulu. Bibik akan mengantarkan minuman Nyonya ke kamarnya," ucap Bik Darmi sambil membawa segelas orange jus untuk majikannya.


"Baik Bik. Ayana ganti baju dulu ya Bik," tukas Ayana sebelum dia berjalan menuju kamarnya.


Bik Darmi pun segera mengantarkan minuman yang dibawanya tadi menuju kamar majikannya.


Tok… tok… tok…


Pintu kamar Ratih diketuk oleh Bik Darmi.


"Masuk Bik!" seru Ratih dari dalam kamarnya.


Bik Darmi pun segera masuk ke dalam kamar majikannya itu sesuai dengan perintahnya.


"Ini Nyonya minumannya," ucap Bik Darmi sambil meletakkan segelas orange jus yang dibawanya di atas meja.


"Bik, saya mau tanya. Apa Rafael tidak memiliki hubungan apa pun dengan Ayana?" tanya Ratih dengan rasa ingin tahunya.

__ADS_1


__ADS_2