
Rafael berangkat kuliah dengan pikiran yang berantakan. Dia memikirkan ke mana mamanya akan membawa Ayana pergi. Tapi di sisi lain dia memikirkan tentang perkataan mamanya yang mengatakan bahwa Ayana pantas menjadi menantunya.
Sesampainya di parkiran kampus, dia bertemu dengan Candra, Farrel dan Raka yang sudah datang terlebih dahulu. Mereka sengaja menunggu Rafael di parkiran seperti biasanya.
"Tumben sendirian. Mana Ceweknya?" tanya Farrel ketika sudah berada di dekat Rafael.
"Cewek?" tanya Rafael sambil mengernyitkan dahinya.
"Lah emang cewek kamu siapa? Apa jangan-jangan kamu sudah putus sama Ruby gara-gara sudah punya Ayana?" tanya Raka dengan sangat antusias.
"Ruby? Gawat, aku kan disuruh jemput dia tadi. Aku cabut dulu," ucap Rafael sambil menaiki kembali motor sport miliknya.
Raka, Farrel dan Candra hanya menatap kepergian Rafael dengan tidak percaya.
"Sejak kapan dia lupa dengan Ruby?" tanya Candra sambil terkekeh.
"Sepertinya Rafael sudah perlahan menyingkirkan Ruby dari hatinya," ucap Farrel sambil tersenyum melihat tingkah Rafael yang lucu menurutnya.
"Apa bisa dia menyingkirkan Ruby? Kalian pasti tau jika Ruby tidak mudah disingkirkan. Bagi dia, haruslah dia yang menyingkirkan cowok dari sisinya, bukan dia yang disingkirkan cowok dari sisinya," sahut Raka sambil menyeringai mengingat kesombongan dari seorang Ruby.
"Kita lihat saja nanti, bagaimana akhir dari kisah percintaan Rafael," ucap Candra sambil terkekeh.
Setelah beberapa menit, akhirnya Rafael tiba di rumah Ruby. Benar saja apa yang ditakutkannya. Kini Ruby menyambutnya dengan wajah yang cemberut.
"Kenapa bisa telat sih?" tanya Ruby dengan kesalnya.
"Macet banget Sayang. Tadi di jalan sana ada kecelakaan," ucap Rafael dengan cepatnya mencari alasan.
"Harusnya kamu berangkat lebih awal biar gak kena macet," sahut Ruby yang tidak pernah mau mengalah.
Mana aku tau kalau ada macet atau kecelakaan, Rafael berkata dalam hatinya.
Ingin sekali Rafael mengatakannya dengan lantang pada pacarnya itu, tapi sayangnya dia tidak mau membuat kemarahan Ruby bertambah.
Dia tahu jika kemarahan Ruby bertambah, maka akan ada sesuatu yang diinginkannya untuk segera dituruti.
"Lain kali aku akan lebih pagi berangkatnya. Jangan marah dong," ucap Rafael, berusaha merayu pacarnya.
__ADS_1
Dengan wajah yang masih kesal dan terlihat marah, Ruby berkata,
"Ya sudah, kalau begitu nanti kamu harus mau berbelanja denganku. Kamu tidak bisa menolak karena semalam kamu membuatku menghubungimu berkali-kali."
Tuh kan bener… baru saja kemarin belanja, masa' iya sekarang belanja lagi. Bisa tekor dong bulan ini, Rafael menggerutu dalam hatinya.
Ruby melipat kedua tangannya di depan dadanya sambil berkata,
"Kenapa diam? Kamu keberatan ya?"
"Eh enggak dong Sayang," jawab Rafael sambil tersenyum kaku.
"Ya sudah, ayo berangkat," ucap Ruby sambil menaiki motor Rafael.
Rafael pun menghela nafasnya sambil menyalakan mesin motornya. Motor itu segera dilajukannya agar cepat sampai di kampusnya.
...----------------...
Di rumah Rafael, kini Rania mengajak Ayana untuk pergi bersamanya. Ingin sekali Ayana menanyakan tujuan mereka, tapi hanya dipendamnya dalam hati. Dia tidak berani mengatakannya pada Rania yang menjadi majikannya saat ini.
"Ayana, temani Ibu ke salon tempat biasanya Ibu perawatan ya," ucap Rania pada Ayana ketika duduk di dalam mobil yang dikendarai oleh Pak Yanto.
Setelah beberapa saat, kini mereka sudah berada di sebuah salon yang terdapat di salah satu Mall terbesar di kota itu.
Rania memaksa Ayana untuk melakukan perawatan bersamanya. Mereka melakukan perawatan mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Sudah beberapa jam mereka melakukan perawatan di salon tersebut, hingga Ayana merasa lelah melakukan semua yang diperintahkan oleh terapis yang merawatnya.
"Wah… cantik sekali," ucap hair stylist yang melakukan penataan rambut pada Ayana.
Rania tersenyum lebar melihat Ayana kini menjadi perempuan yang modis dan sangat cantik.
"Dasarnya orangnya sudah cantik, di permak jadi tambah cantik lagi. Iya kan Mbak?" tanya Rania pada hair stylist tersebut sambil berdiri di belakang Ayana yang duduk di depan cermin.
"Iya Bu. Orang cantik meskipun diapa-apain ya tetap saja cantik," jawab hair stylist tersebut sambil tersenyum dan terpesona melihat Ayana yang kini sedang berdiri di depan cermin.
Ayana tersenyum lebar melihat penampilannya yang sangat berbeda dari biasanya.
__ADS_1
Kini dia tampil modis dan cantik dengan warna rambut golden brown dan model spiral gantung. Tubuh tinggi semampainya itu dibalut dengan dress yang sangat pas untuknya.
Kulit Ayana yang memang putih, kini menjadi lebih bersih dan bersinar. Wajahnya pun lebih terlihat segar dan bersinar.
Untuk bajunya, Rania meminta tolong pada mereka untuk mencarikan yang pas untuk Ayana. Dan terbukti pilihan mereka sangat tepat. Dress yang mereka pilih sangat pas dan terlihat sangat menarik ketika dipakai oleh Ayana.
"Sekarang kita berbelanja yuk," ucap Rania sambil menggandeng lengan Ayana setelah membayar di kasir.
"Bu, apa pakaian ini tidak terlalu terbuka?" tanya Ayana ragu pada Rania.
Rania menghentikan langkahnya. Dia mundur selangkah menjauhi Ayana dan melihat Ayana dengan teliti dari atas hingga bawah. Kemudian dia berkata,
"Kamu sangat cantik Ayana. Tidak ada yang salah. Dan baju itu tidak terlalu terbuka. Percaya deh sama Ibu. Kamu itu Ibu anggap sebagai anak Ibu. Apa kamu keberatan? Sebenarnya Ibu ingin sekali mempunyai anak perempuan, sayangnya Ibu tidak mendapatkannya."
Rania berkata dengan menampakkan wajah sedihnya ketika mengatakan tentang keinginannya mempunyai anak perempuan.
Ayana memegang kedua tangan Rania. Dia menatap lembut mata Rania dan memberikan senyuman manis padanya. Kemudian dia berkata,
"Tentu saja Ayana sangat senang dan merasa sangat beruntung bisa dianggap menjadi anak Ibu. Tapi apa Ayana pantas dianggap sebagai anak Ibu? Ayana hanya gadis desa Bu."
Rania tersenyum manis pada Ayana. Dia memeluk Ayana sambil berkata,
"Kamu memang gadis desa. Tapi kamu sangat baik. Bahkan kamu sangat cantik. Ibu merasa sangat beruntung jika mendapatkan putri atau menantu seperti kamu."
Setelah itu Rania mengurai pelukannya dan kembali menggandeng lengan Ayana untuk diajaknya berjalan menuju tempat tujuan Rania selanjutnya.
Di sinilah mereka sekarang berada. Di sebuah butik ternama yang menjadi tempat tujuan Rania selanjutnya.
"Yang ini, yang ini, yang ini dan yang ini," ucap Rania sambil menunjuk beberapa dress untuk Ayana.
Si penjaga butik tersebut mengambilkan beberapa dress yang ditunjuk oleh Rania.
"Silahkan dicoba Bu," ucap penjaga butik tersebut pada Rania.
"Ayana, ikutlah dengannya. Cobalah semua dress itu," tutur Rania sambil menunjuk semua dress yang dipegang oleh penjaga butik.
"Tapi Bu-"
__ADS_1
"Jangan membantah Ayana. Ibu tidak suka jika kamu membantah perintah Ibu," ucap Rania dengan lembut sambil mengusap lembut lengan Ayana.
"Baiklah Bu," ucap Ayana dengan berat hati.