
Ayana masuk ke dalam kamar yang bersebelahan dengan kamar Rafael. Dia memandang ke seluruh ruangan kamar tersebut. Ada rasa bahagia dan rasa terharu berada dalam kamar tersebut.
"Mana mungkin kamarku sebagus ini?" ucap Ayana sambil memandangi seluruh ruangannya.
"Mungkin saja. Buktinya ini sekarang menjadi kamarmu."
Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang menyahuti ucapan Ayana dari arah pintu kamar tersebut.
Ayana menoleh ke arah pintu dan terkejut mendapati seorang wanita yang berdiri di sana.
"Bu Rania," celetuk Ayana yang terlihat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Rania berjalan mendekati Ayana. Tangannya mengusap lembut rambut Ayana dan berkata,
"Mulai sekarang ini kamar kamu dan kamu berhak menempati kamar ini. Jangan sungkan dan tetaplah menjadi Ayana yang baik hati."
Ayana tersenyum dan matanya berkaca-kaca. Dia merasa terharu mendengar perkataan Rania dan perlakuan Rania padanya.
"Terima kasih Bu. Saya akan tetap menjadi Ayana yang sama seperti sekarang," ucap Ayana dengan suara yang sedikit tercekat.
Rania tersenyum menenangkan Ayana. Tangannya kembali mengusap lembut rambut Ayana dan berkata,
"Sekarang mandilah. Ibu akan menunggumu di sini."
Ayana menganggukkan kepalanya. Dengan segera dia masuk ke dalam kamar mandi agar Rania tidak terlalu lama menunggunya.
Rania mengeluarkan seluruh barang belanjaan yang dibelikannya untuk Ayana. Semua barang-barang tersebut diletakkannya di atas ranjang Ayana.
Dia tersenyum melihat semua barang-barang tersebut. Dalam hatinya dia berkata,
Ini semua yang akan membuat Rafael menyadari perasaannya.
Apa yang ada dalam pikiran Rania tidak bisa ditebak oleh Ayana dan Rafael. Bahkan Antonio saja yang menjadi suaminya tidak mengerti apa pun rencana Rania pada Rafael dan Ayana. Suaminya itu hanya mendukung penuh rencana Rania.
Setelah beberapa saat, Ayana keluar dari kamar mandi. Tubuhnya masih terbalut dengan bathrobe berwarna putih yang disediakan dalam kamar mandi.
Tiba-tiba matanya terbelalak ketika melihat semua tumpukan barang yang ada di atas ranjangnya.
"Loh Bu, kenapa jadi sebanyak ini barangnya?" tanya Ayana dengan memperlihatkan wajah herannya.
"Ini semua barang yang kamu butuhkan. Jadi gunakanlah semua barang ini," jawab Rania dengan senyum ramahnya.
Ayana mendekat dan melihat semua barang yang ada di atas ranjangnya. Kemudian dia mengambil tas berwarna dusty pink yang tadi dibeli oleh Rania di counter salah satu brand ternama di dunia.
__ADS_1
"Bu, bukannya ini tas yang Ibu beli tadi? Kenapa bisa ada di sini?" tanya Ayana sambil menyerahkan tas tersebut dengan sopan.
Rania memberikan kembali tas tersebut pada Rania dan berkata,
"Ibu membeli tas itu buat kamu. Pakailah. Pasti sangat cantik sekali jika kamu yang memakainya."
Ayana kembali memberikan tas tersebut pada Rania seraya berkata,
"Tapi Bu, ini sangat mahal sekali. Saya tidak bisa menerimanya."
"Ibu sudah memberikannya padamu. Kamu tidak bisa menolaknya. Dan sekarang, pakailah dress ini," ucap Rania sambil memberikan dress pilihannya.
Lagi-lagi Ayana tidak bisa menolak. Dia hanya bisa menuruti perintah Rania sebagai majikannya dan orang yang paling baik padanya.
Setelah Ayana mengganti bathrobe nya dengan dress tersebut, Rania mengajak Ayana untuk menuju ke ruang makan.
Di ruang makan tersebut belum ada seorang pun yang duduk di sana. Antonio sedang menonton tayangan berita dari televisi di ruang tengah. Sedangkan Rafael masih berada di kamarnya.
"Bu, saya akan membantu Bik Darmi di dapur," ucap Ayana dengan memberikan senyum lembutnya pada Rania.
Rania menganggukkan kepalanya, setelah Ayana pergi ke dapur, Rania menyusul suaminya yang berada di ruang tengah.
Setelah beberapa waktu, semua menu makanan sudah siap. Bik Darmi dibantu oleh Ayana menyajikan semua makanan tersebut di meja makan.
Rania menoleh ke arah Ayana yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berada. Kemudian dia berkata,
"Ayana, tolong kamu panggilkan Rafael. Tunggulah dia sampai turun ke ruang makan. Jangan ditinggal. Bisa-bisa makan malam kita tertunda gara-gara menunggu Rafael."
"Baik Bu," ucap Ayana dengan menundukkan kepalanya untuk berpamitan meninggalkan tempat itu.
Di dalam kamarnya, Rafael sedang pusing mendengar omelan dari Ruby. Pacarnya itu mengomelinya habis-habisan. Hingga dia tidak ada kesempatan untuk berbicara.
Tok… tok… tok…
Pintu kamar Rafael diketuk oleh Ayana. Sayangnya pintu tersebut tidak segera dibuka oleh Rafael sehingga Ayana membuka pintu kamar tersebut tanpa ijin dari Rafael.
Tiba-tiba tangan Ayana menarik tangan Rafael yang sedang berbicara melalui telepon dengan Ruby. Dia menarik tangan Rafael begitu kuatnya sambil berkata,
"Rafa, sudah waktunya makan. Ibu sama Bapak sudah menunggu di bawah. Ayo buruan, mereka akan marah jika kamu tidak cepat-cepat datang ke sana."
Tanpa sadar Rafael mematikan teleponnya. Dia terpanah melihat Ayana yang terlihat sangat cantik natural tanpa make up dengan memakai dress pilihan Rania.
Sudah bisa dipastikan jika Ruby sangat marah padanya. Tapi apa daya, Rafael tidak bisa menolak pesona Ayana sekarang ini.
__ADS_1
Rafael hanya menurut ketika tangannya ditarik oleh Ayana. Dia berjalan mengikuti Ayana menuju ruang makan.
Rania menahan tawanya melihat Rafael yang seperti kerbau dicucuk hidungnya.
Rafael duduk di kursi makan yang biasanya ditempatinya. Setelah melakukan tugasnya, Ayana hendak pergi ke dapur untuk makan bersama Bik Darmi seperti biasanya.
"Ayana mau ke mana?" tanya Rania menghentikan langkah Ayana.
"Mau ke dapur Bu," jawab Ayana dengan sopan.
"Kamu makan di sini saja Ayana. Duduklah di sebelah Rafael. Kamu tau kan jika saya tidak suka dibantah?" tukas Rania dengan tegas.
Ayana kembali menuruti perintah Rania. Dia duduk di sebelah Rafael. Dengan lincahnya tangan Ayana mengambilkan nasi serta lauk pauk untuk Rafael.
Rania juga mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Antonio. Mereka berdua tersenyum melihat Ayana yang sangat perhatian dengan Rafael.
Rafael sudah terbiasa dengan apa yang dilakukan Ayana sebelum mereka makan. Dalam hatinya dia merasa senang karena ada yang mengambilkan makanan untuknya, sama seperti mamanya mengambilkan makanan untuk papanya.
Rania tersenyum melihat Rafael dan Ayana yang sedang makan di hadapan mereka. Kemudian dia berkata,
"Melihat mereka berdua duduk di depan kita, seperti melihat Rafael sudah menikah ya Pa?"
Seketika Rafael tersedak mendengar apa yang diucapkan oleh mamanya. Sedangkan Ayana, dia segera memberikan segelas air putih miliknya pada Rafael.
Rafael pun menerima gelas tersebut dan meminumnya.
Setelah itu mereka kembali makan dengan tenang. Sesekali Rafael mencuri pandang pada Ayana. Entah mengapa dia selalu ingin melihat istrinya itu.
Tanpa disadari oleh Rafael, Rania dan Antonio selalu melihat semua gerak-geriknya. Mereka yakin jika sebenarnya Rafael memiliki perasaan pada Ayana yang sudah berstatus sebagai istrinya.
Acara makan malam pun sudah selesai. Ayana membantu Bik Darmi untuk membereskan meja makan dan dapur.
"Ayana, ayo ikut Ibu sebentar," ucap Rania sambil menarik tangan Ayana.
Rupanya Rania mengajaknya ke dalam kamar Ayana. Kemudian dia memberikan paper bag sambil berkata,
"Pakailah ini. Ibu ingin melihat kamu memakainya."
Ayana mengambil sesuatu dari paper bag tersebut. Seketika matanya terbelalak melihat apa yang dipegangnya saat ini dan tanpa sadar dia berkata,
"Apa ini Bu?"
Rania tersenyum melihat ekspresi Ayana saat ini. Kemudian dia berkata,
__ADS_1
"Lingerie. Pakailah."