
Dengan terpaksa Rafael mengantarkan Ayana ke sebuah butik bersama dengan mamanya.
"Ini semua pasti pas untukmu," ucap Rafael sambil memberikan beberapa kaos, kemeja dan celana.
Ayana membelalakkan matanya melihat tumpukan kaos, kemeja dan celana yang diberikan oleh Rafael padanya.
"Hah, sebanyak ini?" tanya Ayana dengan tatapan tidak percayanya menerima semua pakaian dan celana yang diberikan oleh Rafael padanya.
Rafael menganggukkan kepalanya sambil memberikan senyum manisnya pada istrinya itu. Dalam hati dia berkata,
Ayo ambil cepat supaya kita bisa cepat keluar dari Mall ini dan tidak bertemu dengan Ruby.
"Ambil saja itu semua. Dan gantilah dress itu dengan baju dan celana sekarang," ucap Rania memerintahkan pada Ayana.
"Baik Bu," ucap Ayana sambil menganggukkan kepalanya.
Dengan segera Ayana masuk ke dalam ruang ganti untuk berganti pakaian. Dia menghela nafasnya dan berkata,
"Padahal hanya mencoba pakaian saja, tapi rasanya lelah sekali. Aku tidak boleh mengeluh. Bukankah ini semua rezeki yang diberikan Allah padaku melalui mereka? Aku harus bersyukur dan berterima kasih pada mereka."
Selama Ayana berganti pakaian di dalam ruang ganti, Rania membeli beberapa lingerie tanpa sepengetahuan Ayana dan Rafael.
Setelah Ayana keluar dari ruang ganti, semua pakaian yang sudah dipilihkan oleh Rafael segera dibayar oleh Rania.
Setelah membayar semua pakaian itu, mereka berjalan keluar dari butik itu menuju parkiran.
Tiba-tiba terdengar suara dering telepon dari ponsel Rania. Segera diambilnya ponsel tersebut dari tas miliknya dan menjawab telepon tersebut.
"Papa sudah menunggu di parkiran. Semua barang belanjaannya taruh saja di mobil Papa. Setelah itu kalian berdua pulanglah bersama," ucap Rania sambil berjalan menuju parkiran.
"Kenapa Ayana tidak ikut pulang bersama dengan Mama saja pulangnya?" tanya Rafael yang terlihat heran pada mamanya.
"Mama sama Papa mau pacaran dulu. Kalian berdua pulanglah bersama atau pacaran dulu juga tidak apa-apa. Yang penting jangan menginap di luar. Mengerti?" tukas Rania sambil tersenyum pada Ayana dan juga Rafael.
Sontak saja Rafael dan Ayana saling menatap. Mereka terlihat sama-sama malu dan salah tingkah.
Rania menahan senyumnya melihat reaksi Rafael dan Ayana. Dalam hati dia berharap jika nanti rencananya itu akan berhasil.
__ADS_1
"Itu mobil Papa. Ayo Rafael masukkan semua tas belanjaan itu ke dalam mobil," ucap Rania sambil menunjuk mobil milik suaminya.
Dengan langkah malasnya Rafael memasukkan semua tas belanjaan itu ke dalam mobil.
Ayana mencium punggung tangan Rania sebelum majikannya itu masuk ke dalam mobil.
"Rafael, sini," ucap Rania sambil melambaikan tangannya agar Rafael mendekat kepadanya.
Rafael pun bersandar di pintu mobil dan kepalanya sedikit masuk ke dalam mobil sambil berkata,
"Ada apa lagi sih Ma."
"Kamu jaga Ayana. Jangan sampai dia lecet. Awas kalau ada yang lecet sedikit saja, pasti kamu akan Mama hukum," ucap Rania mengancam Rafael dengan tegas.
"Ck, Mama ini memperlakukan dia seperti anak kandung Mama saja. Rafael malah diperlakukan seperti anak tiri. Mana gak dikasih uang lagi. Bagaimana kalau tiba-tiba Rafael butuh uang di jalan, misalnya beli bensin. Mau pakai uang apa Ma?" ucap Rafael sedikit merajuk.
"Itu hukuman buat kamu agar bisa membedakan perempuan yang baik-baik dengan perempuan yang hanya memanfaatkan kamu saja. Nanti kalau butuh uang kamu pinjam saja sama Ayana, biar Mama yang bayar ke dia. Udah sana ajak Ayana pacaran. Jangan sampai buat dia sakit hati atau menangis. Awas aja kalau sampai dia nangis," tukas Rania sambil menyingkirkan bagian tubuh Rafael yang masuk ke dalam mobilnya.
Antonio hanya terkekeh tanpa mengatakan apa pun. Dia tidak mau membela anaknya karena memang dia bersalah. Dan tanpa mendukung istrinya pun, sudah bisa dipastikan jika istrinya itu pasti menang melawan Rafael.
Mobil Antonio pun melaju meninggalkan Ayana dan Rafael di parkiran Mall tersebut.
Rafael berjalan menuju parkiran motornya dan diikuti oleh Ayana di belakangnya.
Rafael memegang helm yang tadinya dipakai oleh Ruby. Biasanya dia akan memakaikan helm tersebut di kepala Ruby. Kini dia bingung dan berkata dalam hatinya,
Haruskah aku memakaikan helm ini di kepalanya seperti aku memakaikannya pada Ruby? Atau cukup aku berikan saja helmnya?
"Ini Ay helmnya, pakailah," ucap Rafael sambil memberikan helmnya pada Ayana.
Ayana menerima helm tersebut, tapi dia ragu memakainya.
Sreeet!
Rafael mengambil dengan cepat helm itu kembali dari tangan Ayana. Dia mengira jika Ayana tidak bisa memakai helm tersebut.
Tanpa berkata-kata, Rafael memakaikan helm tersebut dengan hati-hati di kepala Ayana. Setelah itu dia memakai helmnya.
__ADS_1
"Naiklah," ucap Rafael yang sudah siap di atas motornya.
Ayana yang masih ragu-ragu pun akhirnya naik di boncengan motor Rafael. Dia mengambil jarak satu jengkal tangannya dari punggung Rafael.
Merasa jika Ayana berjarak sangat jauh darinya, Rafael pun tersenyum dan berkata,
"Pegangan Ay, atau kamu akan jatuh nanti."
Rafael pun melajukan motornya. Dan benar apa yang dikatakan oleh Rafael. Dengan sendirinya tubuh Ayana mendekat hingga tubuh bagian depannya menempel pada punggung Rafael ketika motor tersebut sengaja dimainkan oleh Rafael.
Tubuh bagian depan Ayana yang empuk dan kenyal itu menempel sempurna pada punggung Rafael.
Rafael menyeringai merasakan sensasi empuk yang terasa di punggungnya. Dan dia merasakan kedua tangan Ayana yang memegang jaketnya dengan erat.
Rafael memperlambat laju motornya, tangan kirinya menarik kedua tangan Ayana secara bergantian untuk melingkar pada pinggangnya.
Ayana tidak bisa mengelak karena Rafael mempercepat laju motornya dan kembali mempermainkan motornya.
Kini tubuh mereka benar-benar tidak berjarak. Rafael tersenyum puas telah mempermainkan Ayana.
Entah mengapa hatinya sangat bahagia dan berbunga-bunga hingga dia lupa akan Ruby yang sudah bisa dipastikan akan sangat marah padanya.
Motor Rafael berhenti di sebuah taman. Dia melepaskan helmnya dan berkata,
"Turun Ay. Kita istirahat di sana dulu," ucap Rafael sambil menunjuk arah taman.
Ayana pun turun dari motor Rafael dan dia mencoba melepaskan kaitan helmnya.
Dengan segera Rafael membantu melepaskan kaitan helm Ayana. Kemudian dia melepaskan helm miliknya sendiri dan turun dari motornya.
Tanpa sadar, tangan Rafael menggandeng tangan Ayana dan mengajaknya berjalan menuju taman.
"Duduklah di sini sebentar, aku akan membeli minuman," ucap Rafael sambil mendudukkan Ayana di bangku taman.
Mata Ayana selalu mengawasi ke mana Rafael berjalan. Hati Ayana semakin gundah. Perasaan antara suka dan kesal pada Rafael membuatnya bingung dan gelisah.
Tangan Ayana memegang dadanya yang berdegup dengan kencangnya tatkala Rafael tersenyum melihatnya. Dalam hati dia berkata,
__ADS_1
Apa aku mencintainya? Apa ini cinta?