
Ayana terkejut mendengar suara laki-laki yang tidak asing lagi di indera pendengarannya.
Dia tertegun karena terkejut merasakan pinggangnya yang dipeluk dengan posesif dari samping oleh laki-laki tersebut.
"Rafa," celetuk Ayana setelah menoleh ke samping dan mendapati Rafael yang sedang memeluknya.
Rafael tersenyum manis pada Ayana dan semakin mempererat pelukannya di pinggang Ayana.
Satria yang tangannya masih memegang tangan Ayana, terkejut melihat Rafael memeluk pinggang Ayana dan menariknya untuk lebih mendekat padanya, sehingga tangan Ayana terlepas dari tangan Satria.
"Apa kalian saling kenal?" tanya Satria yang terlihat tidak terima, perempuan yang disukainya dipeluk oleh laki-laki lain.
"Sayang. Kamu apa-apaan sih? Kenapa kamu peluk-peluk dia? Siapa perempuan ini?"
Tiba-tiba suara perempuan mengalihkan perhatian mereka bertiga.
Perempuan cantik yang mempunyai tinggi semampai dengan posesifnya melingkarkan tangannya pada lengan Rafael.
Ayana menatap tajam pada Rafael seolah meminta penjelasan padanya tentang perempuan tersebut.
Rafael mengerti arti dari tatapan yang diberikan oleh Ayana padanya. Hanya saja dia dalam keadaan sulit saat ini.
"Emmm dia sepupuku," jawab Rafael sambil tersenyum kaku.
Seketika Ayana menghempaskan tangan Rafael yang melingkar dengan indah di pinggangnya. Setelah itu dia berjalan dengan hati yang sangat kesal meninggalkan mereka semua.
"Ayana tunggu! Biar aku antar kamu pulang!" setu Satria sambil berlari mengejar Ayana yang berjalan dengan cepat meninggalkan mereka.
Rafael mengepalkan tangannya. Dia merasa kesal karena Ayana yang sudah menjadi istrinya, kini dekat dengan Satria, temannya dan juga salah satu most wanted di kampus itu, sama seperti dirinya.
"Sayang, kenapa? Sepupu kamu itu ceweknya Satria ya?" tanya Ruby sambil menyenderkan kepalanya pada pundak Rafael.
"Bukan. Satria aja tuh yang kegatelan ngejar-ngejar Ayana," ucap Rafael kesal dan terdengar tidak suka dengan kedekatan Satria dan Ayana.
Ruby menegakkan kepalanya dan melihat Rafael yang wajahnya terlihat sangat kesal melihat Satria yang kini sedang membukakan pintu untuk Ayana.
"Kamu gak suka sama kedekatan mereka? Biarkan saja mereka dekat. Toh gak ada salahnya juga. Satria kan keren, tajir juga. Apa salahnya dia menjadikan sepupu kamu itu pacarnya," ucap Ruby sambil melihat ke arah mobil Satria yang sedang berjalan meninggalkan tempat parkir.
__ADS_1
"Bukan itu masalahnya. Ayana itu, ah udahlah gak usah dibahas," ucap Rafael dengan kesal.
Untung aja gak keceplosan ngomong kalau Ayana itu istriku, Rafael berkata dalam hatinya.
"Ya udah yuk kita ke Mall, temani aku belanja," ucap Ruby sambil menarik paksa tangan Rafael agar berjalan bersamanya.
"Jangan sekarang ya Sayang ke Mall nya. Sekarang aku ada perlu penting banget," tukas Rafael mencoba membujuk Ruby.
"Tapi aku mau beli tas. Ini limited edition loh. Kalau kehabisan nanti gimana?" Ruby merajuk sambil bergelayut manja pada lengan Rafael.
Rafael menghela nafasnya. Dia memang mencintai Ruby, tapi dia tidak suka jika selalu diajak belanja olehnya.
Selain menguras dompetnya, belanja bersama dengan Ruby bisa menguras waktunya, sehingga waktu dia bersama dengan teman-temannya menjadi berkurang hanya karena menemani Ruby berbelanja.
"Besok aja ya, jangan sekarang," ucap Rafael sambil memegang kedua tangan Ruby dan menatap matanya.
"Gak mau. Kalau kamu gak mau menemani aku belanja sekarang, lebih baik kita putus saja," sahut Ruby dengan entengnya.
Rafael terbelalak mendengar kata putus yang keluar begitu saja dari mulut pacarnya. Dia tidak mengira jika begitu gampangnya pacarnya itu mengucapkan kata putus hanya karena dia tidak menemaninya berbelanja.
"Ya udah yuk. Tapi jangan lama-lama ya. Aku mau antar Mama soalnya," ucap Rafael lesu.
"Terima kasih Sayang."
Hal ini yang membuat Rafael selalu bersemangat. Ruby seorang perempuan yang agresif, sehingga tidak ada laki-laki yang bisa menolaknya.
Dengan wajah cantik dan tinggi badan yang sempurna, serta sikap agresifnya itu membuatnya selalu mendapatkan apa yang dia mau.
Akhirnya, di sinilah mereka. Di sebuah store salah satu brand ternama yang ada di Mall terbesar kota itu.
Dengan cerianya Ruby memilih tas yang memiliki harga sangat fantastis. Dia sangat bersemangat ketika penjaga store menunjukkan tas mereka yang limited edition.
Lagi-lagi Rafael menghela nafasnya. Dia melihat jam yang melingkar di tangan kanannya, kemudian dia melihat ke arah Ruby dan berkata,
"Sayang, masih lama?"
"Sebentar dong Sayang. Aku bingung nih mau pilih yang mana," jawab Ruby sambil melihat tas-tas yang ditunjukkan oleh penjaga store tersebut.
__ADS_1
Rafael kembali menghela nafasnya, dalam hati dia berkata,
Sudah aku duga jika akan begini jadinya. Jika terus-terusan begini, waktuku akan terbuang sia-sia hanya untuk menunggunya belanja.
Kemudian dia beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Ruby.
"Sudah, beli yang ini saja. Ini bagus kok," ucap Rafael sambil melingkarkan tangannya pada pundak Ruby.
"Tapi aku ingin beli yang ini juga Sayang," ucap Ruby sambil memelas menatap Rafael.
"Beli yang ini saja dulu. Kalau ke sini lagi, kamu bisa beli yang ini," tukas Rafael yang bermaksud untuk membantu Ruby dalam memilih.
Tuh kan bener, dia tuh gak peka banget. Harusnya dia bilang, beli aja dua-duanya. Ini apa? Dia malah milihin aku. Jangan salahkan aku jika aku berselingkuh dari kamu Rafael, Ruby berkata dalam hatinya.
Rafael mengambil tas yang ada di tangan Ruby. Kemudian dia memberikan tas tersebut pada penjaga store yang ada di dekat mereka sambil berkata,
"Yang ini saja."
Ruby menatap tidak percaya pada Rafael yang seenaknya saja memutuskan barang yang akan dibelinya.
Namun, dia tidak menghalangi penjaga store tersebut untuk memproses pembayarannya karena tas tersebut salah satu tas limited edition bulan ini.
"Yuk Sayang," ucap Rafael sambil menarik tangan Ruby untuk berjalan menuju kasir.
Untung saja kamu tampan dan tajir, kalau kamu kere, pasti akan aku tinggalkan kamu dari kemarin-kemarin, Ruby berkata dalam hatinya sambil menunggu proses pembayaran di kasir.
Setelah proses pembayaran selesai, mereka berdua keluar dari store tersebut dengan tangan Ruby yang bergelayut manja pada lengan Rafael. Sedangkan Rafael membawa goody bag yang didalamnya terdapat tas milik Ruby yang baru dibeli.
"Makan dulu yuk Sayang, lapar nih…," ucap Ruby dengan manjanya.
"Sayang, tapi aku-"
"Kamu mau aku sakit karena kelaparan?" sahut Ruby yang merajuk pada Rafael.
Rafael tidak bisa lagi berkata-kata. Dia selalu kalah jika pacarnya itu sudah merajuk dan bersikap manja padanya.
"Baiklah," ucap Rafael setelah menghela nafasnya.
__ADS_1
Ruby pun tersenyum manis pada Rafael mendengar pacarnya itu menyetujui keinginannya.
Mereka masuk ke dalam salah satu restoran yang ada di dalam Mall tersebut. Baru saja beberapa langkah Rafael dan Ruby masuk ke dalam restoran tersebut, wajah Rafael terlihat kesal melihat pemandangan yang ada di meja paling sudut di restoran tersebut.