
Ayana berkali-kali berganti pakaian. Dan semuanya terlihat pas di badan Ayana.
Rania terpanah tiap kali melihat Ayana keluar dari ruang ganti. Dia selalu terpesona melihat kecantikan dan keanggunan dari Ayana.
Balutan semua dress yang dipilihkan oleh Rania membuat Ayana sangat terlihat berbeda. Kini dia tidak lagi terlihat seperti gadis desa yang terjebak di kota.
Rania benar-benar terpesona dengan gadis yang kini ada di hadapannya. Dia berjalan mendekati Ayana, menyentuh pundaknya dengan lembut serta tersenyum lembut pada Ayana sambil berkata,
"Cantik sekali kamu Ayana."
Ayana tersipu malu. Dia tidak pernah membayangkan akan berpenampilan seperti sekarang ini dan mendapat pujian dari majikannya.
Apalagi majikannya itu memperlakukannya sangat baik dan menganggapnya seperti anak sendiri. Ayana merasa hidupnya sangat beruntung bisa bertemu dengan Rania dan Antonio yang sangat baik menurutnya.
"Ini yang terakhir kan?" tanya Rania pada Ayana.
"Iya Bu," jawab Ayana dengan sopan.
"Kalau begitu kamu pakai ini saja, biar gak ganti-ganti," tutur Rania sambil tersenyum senang melihat Ayana.
"Saya menurut saja Bu," ucap Ayana sambil menundukkan kepalanya.
"Ya sudah. Ayo kita jalan lagi. Ibu akan membeli sesuatu," tukas Rania sambil menarik tangan Ayana.
Setelah Rania membayar semuanya, dia mengajak Ayana keluar dari butik tersebut. Kedua tangan Ayana penuh dengan paper bag yang bertuliskan nama butik tersebut.
"Kita ke sana dulu ya," ucap Rania sambil menunjuk sebuah counter dengan tulisan salah satu brand ternama di dunia.
Masuklah mereka ke dalam counter tersebut yang berisikan pakaian, tas dan sebagainya dari salah satu brand ternama di dunia.
"Selamat sore Bu. Ini tas yang baru saja launching dan limited edition," ucap penjaga toko tersebut.
Rania berjalan mendekati tas yang diperlihatkan oleh penjaga toko tadi. Dia melihat-lihat dan tertarik dengan tas tersebut. Kemudian dia bertanya pada Ayana yang berdiri di sampingnya.
"Ayana, tolong pilihkan Ibu. Bagus yang warna apa?"
"Maaf Bu, Ayana tidak pandai memilih," ucap Ayana ragu.
Rania tersenyum mendengar kepolosan Ayana. Kemudian dia mengambil tas limited edition tersebut yang berwarna merah marun dan memberikannya pada penjaga toko tersebut sambil berkata,
"Tolong bungkus yang ini Mbak."
Ternyata tidak hanya selesai di situ saja. Mata Rania masih berkelana mencari sesuatu.
"Ayana, yang ini bagus tidak?" tanya Rania sambil memperlihatkan sebuah tas berwarna dusty pink pada Ayana.
"Bagus Bu. Cantik," jawab Ayana sambil tersenyum memperlihatkan kedua lesung pipinya.
__ADS_1
Rania memberikan tas pada penjaga toko tersebut dan berkata,
"Yang ini juga dibungkus ya Mbak."
Ayana tersenyum melihat Rania yang terlihat bahagia ketika berbelanja. Dalam hatinya dia bersyukur bisa bekerja pada Rania meskipun hanya sebagai pembantu.
Dahi Rania mengernyit melihat Ayana tersenyum ketika melihatnya. Lalu dia bertanya,
"Kenapa Ayana?"
"Tidak Bu. Saya suka melihat Ibu senang ketika berbelanja tanpa memikirkan keuangan," jawab Ayana sambil tersenyum.
"Kamu juga bisa nanti," tukas Rania sambil tersenyum dan menggandeng tangan Ayana.
"Tidak Bu. Meskipun saya banyak uang, saya harus berhemat," ucap Ayana sambil terkekeh.
Tiba-tiba Rania dan Ayana menghentikan langkahnya. Rania menatap tajam pada orang yang sedang berdiri di depannya.
Kini Rafael berdiri tepat di depan mamanya dan istrinya. Mamanya itu menatap tajam pada Rafael yang lengannya sedang digandeng mesra oleh Ruby.
"Mama," celetuk Rafael yang terlihat kaget ketika berhadapan dengan mamanya.
Mata Rafael mengarah ke samping mamanya. Dia terpesona melihat penampilan gadis yang telah berstatus sebagai istrinya.
"Cantik," celetuk Rafael tanpa sadar ketika melihat Ayana.
Sontak saja Ruby mendaratkan sikutnya pada perut Rafael, hingga dia menahan sakitnya.
Ruby mengulurkan tangannya sambil tersenyum pada Rania dan berkata,
"Tante, saya Ruby. Tante masih ingat kan?"
Rania tersenyum sinis pada Ruby dan menjabat tangannya sambil berkata,
"Tentu saja Tante ingat. Hanya kamu perempuan yang berani menghabiskan uang anak saya."
Seketika senyum Ruby memudar. Dia tidak mengira akan dipermalukan seperti itu di tempat yang biasanya dikunjungi olehnya bersama dengan Rafael.
"Mama," ucap Rafael lirih dengan tatapan memohon.
"Mama bicara fakta Rafael. Oiya, mana kartu kredit kamu? Punya Mama ketinggalan, belanjaan Mama belum bayar semua. Mama pinjam kartu kamu," ucap Rania sambil mengulurkan tangannya untuk meminta kartu kredit milik Rafael.
Rafael pun menurut. Dia tidak ada alasan untuk menolak permintaan mamanya. Dia mengambil dompetnya dari saku waist bag nya.
Namun, tanpa disangka Rania mengambil dengan cepat dompet tersebut dari tangan Rafael. Mamanya itu mengambil kartu kredit beserta kartu debit miliknya.
"Loh Ma, kok dipinjam dua-duanya?" tanya Rafael yang terlihat gusar ketika dua kartu sumber keuangannya ada di tangan mamanya.
__ADS_1
"Ini Mama kembalikan," tukas Rania sambil meletakkan dompet milik Rafael di tangan putranya itu.
"Ayana, yuk kita bayar barangnya," ucap Rania sambil menarik tangan Ayana.
"Ayana? Itu sepupu kamu yang waktu itu kan Sayang? Kok bisa jadi cantik gitu?" tanya Ruby dengan raut wajah tidak suka melihat perubahan penampilan Ayana.
Mata Rafael masih saja memandang ke arah Ayana yang sedang berada di kasir bersama dengan Rania. Tanpa sadar dia menjawab pertanyaan Ruby.
"Iya benar. Dia jadi cantik banget."
Sontak saja Ruby menatap tajam ke arah Rafael dengan menampakkan wajah kesalnya dan mencubit lengan pacarnya itu.
Rafael meringis merasakan cubitan yang sangat sakit dari jari Ruby yang memiliki kuku panjang dan terawat.
"Pokoknya sekarang kamu harus membelikan aku tas dan baju," ucap Ruby dengan sewotnya.
Seketika Rafael membelalakkan matanya. Dia baru ingat jika kedua sumber keuangannya telah diambil oleh mamanya.
Kepanikannya bertambah ketika melihat ke arah kasir dan tidak ada mamanya ataupun Ayana di sana.
"Sayang, sepertinya aku harus mengejar Mama dulu sekarang. Sepertinya Mama lupa mengembalikan kartuku," ucap Rafael yang tegesa-gesa.
"Tunggu, lalu bagaimana denganku?"
Pertanyaan dari Ruby itu mampu menghentikan langkah Rafael.
Rafael pun menoleh pada Ruby dan berkata,
"Lebih baik kamu di sini saja untuk memilih barangnya."
Ruby pun menganggukkan kepalanya. Terlihat jelas wajah bahagianya meskipun dia telah mendapatkan hinaan dari mama Rafael.
Rafael mencari mamanya dan Ayana di sekitar toko tersebut. Dia berusaha mencari mamanya itu.
"Mama!" seru Rafael yang melihat mamanya dan Ayana turun dari eskalator.
Melihat mamanya tidak menoleh ke arahnya, dia bergegas menuruni eskalator dengan berjalan cepat agar tidak kehilangan jejak mamanya.
Rafael memegang tangan mamanya untuk menghentikan langkahnya. Dengan nafasnya yang terengah-engah itu dia berkata,
"Ma, mana kartuku?"
Rania dan Ayana menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Rafael. Rania tersenyum melihat putranya yang berhasil dihukumnya. Kemudian dia berkata,
"Semua kartu kamu Mama sita."
Seketika badan Rafael lemas. Dia tidak bisa hidup tanpa dua kartu sumber keuangannya itu.
__ADS_1