
Rafael kaget mendengar Ayana mengomeli dirinya. Dia merasa kesal pada istrinya itu yang sikapnya berubah-ubah padanya.
“Pagi-pagi udah kena omelan bini. Apes banget dah. Lagian aku heran sama dia. Bukannya dia tadi manis banget sikapnya? Kenapa sekarang dia malah ngomel gara-gara aku menyuruh Bik Darmi mengambilkan aku minuman? Padahal kan aku menyuruh Bik Darmi, bukannya menyuruh dia,” ucap Rafael dengan kesalnya mengomel di dalam mobilnya sambil mengemudi menuju kampusnya.
Sedangkan di rumah, Ayana dilarang oleh Bik Darmi agar tidak berkata kasar dan memarahi Rafael. Bik Darmi tahu jika sebenarnya Ayana bermaksud baik padanya, tapi dia tidak bisa membiarkan begitu saja Ayana dalam masalah.
Bik Darmi takut jika Ayana akan mendapatkan kemarahan dari majikannya jika mereka mengetahui putra semata wayangnya dimarahi dan diomeli oleh orang lain.
Ayana diam saja ketika Bik Darmi menuturinya, dia hanya mengatakan maaf saja pada Bik Darmi.
Tapi Ayana tetap tidak suka jika Rafael bersikap begitu pada orang yang lebih tua darinya. Dia akan tetap memberitahu pada suaminya itu agar tidak melakukan hal yang sama lagi.
“Bik, Ayana berangkat ke kampus dulu ya,” ucap Ayana sembari mengambil tangan Bik Darmi dan mencium punggung tangannya.
Bik Darmi kaget sewaktu Ayana menarik dan memaksa tangannya untuk dicium. Tapi Bik Darmi tersenyum melihat ketulusan dari Ayana.
Tangan Bik Darmi mengusap rambut Ayana dengan lembut dan penuh kasih sayang. Dalam hatinya dia mendoakan agar Ayana mendapatkan jodoh yang terbaik dan mendapatkan kebahagiaan.
Dengan ojek online yang tadi telah dipesannya, Ayana berangkat ke kampusnya. Di hari pertamanya menginjak kampusnya itu, dia berharap agar kehidupannya bisa berubah menjadi lebih baik dan cita-citanya akan dengan mudahnya bisa tercapai.
Ayana menatap kagum pada bangunan besar yang terlihat megah dan sangat bagus menurutnya. Jantungnya berdebar ketika kakinya melangkah masuk ke dalam kampus tersebut. Untaian doa dan harapan dibacakannya dalam hati saat kaki pertamanya masuk ke dalam kampus itu.
Sungguh dia sangat bahagia berada di tempat itu. Dia merasa sangat antusias dan bersemangat berada di sana.
“Kak, maaf. Saya mahasiswa angkatan baru yang akan mengurus berkas-berkas saya. Bisa tunjukkan pada saya di mana tempat untuk mengurusnya?” tanya Ayana pada seorang laki-laki yang kebetulan sedang berpapasan dengannya.
Laki-laki yang sedang membaca buku sambil berjalan itu seketika mengalihkan perhatiannya dari buku yang sedang dibacanya. Kini dia menatap kagum pada Ayana yang sedang berdiri sambil tersenyum di hadapannya sambil berkata dalam hati,
Gila… nih cewek cakep banget. Siapa dia?
“Kak… maaf. Apa saya bisa meminta tolong untuk menunjukkan arah kantor? Saya akan mengurus berkas-berkas saya,” tanya Ayana kembali pada laki-laki tersebut sambil menunjukkan berkas-berkas yang diambilnya dari dalam tasnya.
“Eh, iya. Kamu mahasiswa baru?” tanya laki-laki tadi sambil tersenyum manis pada Ayana.
__ADS_1
“Iya Kak. Di mana ya kantornya?” tanya Ayana kembali sambil memberikan senyum manisnya yang membuat laki-laki di hadapannya itu terpanah.
“Aku akan mengantarmu. Tapi sebaiknya kita kenalan dulu, karena nantinya kamu pasti akan bertemu setiap hari denganku. Aku Satria. Nama kamu siapa?” ucap Satria sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Ayana.
“Namaku Ayana Kak,” jawab Ayana sambil tersenyum dan menerima uluran tangan laki-laki tampan yang ada dihadapannya untuk menjabat tangannya.
Satria terpanah dengan senyuman manis Ayana yang memperlihatkan dua lesung pipinya. Dia merasa jatuh hati padanya di saat pertama kali melihatnya.
“Kak,” ucap Ayana sambil menggerak-gerakkan tangan mereka yang masih berjabat tangan.
Tangan Ayana tidak bisa lepas karena Satria yang memegangnya terlalu erat seolah tidak mau membiarkan Ayana pergi.
Seketika Satria tersadar dan dia melepaskan tangan Ayana sambil berkata,
“Maaf… Ayo aku antar.”
Kemudian Satria mengajak Ayana untuk berjalan disampingnya. Dia menanyakan banyak hal tentang Ayana. Tentu saja Ayana menjawab semua yang ditanyakan oleh Satria, karena dia gadis yang jujur dan selama hidupnya dia tidak pernah berbohong.
“Apa kamu sudah punya pacar?” tanya Satria ragu sambil menggaruk tengkuk lehernya.
Bukannya Ayana berbohong, tapi memang benar jika dia tidak memiliki pacar. Dalam hatinya dia berkata,
Tapi aku sudah punya suami.
Mendengar jawaban dari Ayana, Satria terlihat senang karena dia merasa memiliki kesempatan untuk menjadi pacar Ayana. Dan jika perlu, dia ingin menjadikan Ayana sebagai istrinya.
“Aku masuk dulu Kak. Terima kasih sudah mau mengantar,” ucap Ayana sambil tersenyum manis pada Satria.
Setelah itu dia masuk ke dalam kantor tersebut meninggalkan Satria yang masih berdiri di sana. Satria tidak mau membuang kesempatan untuk bisa lebih dekat dengan Ayana.
Selama ini dia memang disukai banyak perempuan dan mereka selalu mendekatinya. Sayangnya dari semua perempuan yang berusaha mengambil hatinya, tidak ada satupun yang bisa masuk ke dalam hatinya.
Baru kali ini dia merasakan tertarik pada perempuan. Di saat pandangan pertamanya pada Ayana, jantungnya berdegup dengan kencangnya sehingga dia tidak bisa mengacuhkan perasaannya itu.
__ADS_1
Terlebih lagi di saat Ayana tersenyum padanya. Senyuman manis Ayana dengan kedua lesung pipinya itu membuatnya tidak bisa menghilangkan bayangan wajah Ayana dari pikirannya.
“Loh Kak, kok Kakak masih ada di sini?” tanya Ayana ketika dia keluar dari kantor melihat Satria yang masih berdiri di sana.
Satria yang tadinya kembali membaca buku sambil berdiri, kini dia menutup buku tersebut ketika mendengar suara Ayana yang memanggilnya. Kemudian dia berkata,
“Aku sengaja menunggumu. Aku takut jika kamu kesasar karena tidak tau jalan di sini.”
Seketika Ayana terkekeh mendengar candaan Satria. Kemudian dia berjalan bersama Satria menuju parkiran.
Dahi Ayana mengernyit ketika mereka berjalan menuju parkiran sambil berkata,
“Kok kita ke parkiran Kak? Aku gak bawa kendaraan Kak. Aku ke sini tadi pakai ojek online.”
“Aku yang akan mengantarkan kamu pulang,” jawab Satria sambil tersenyum pada Ayana.
“Tapi Kak, aku-“
“Aku tidak menerima penolakan Ayana,” sahut Satria menyela ucapan Ayana sambil menarik tangan Ayana menuju mobilnya.
Banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka berdua. Mereka terlihat kesal karena Satria menggandeng tangan perempuan cantik dan tersenyum manis padanya.
Tidak seorang pun yang pernah diperlakukan seperti itu oleh Satria, sehingga mereka sangat iri melihat kedekatan Ayana dengan Satria yang notabene nya adalah mahasiswa most wanted di kampus tersebut.
“Siapa sih cewek itu?”
“Sepertinya bukan anak sini.”
“Apa dia mahasiswa baru?”
“Berani sekali dia menggoda Satria kita.”
Beberapa mahasiswa perempuan membicarakan Ayana dengan sinis dan mereka menatap kesal pada Ayana yang terlihat sangat dekat dan akrab dengan Satria.
__ADS_1
“Ay. Ngapain kamu di sini?”
Tiba-tiba ada suara laki-laki yang memanggil Ayana dan merangkul pinggangnya dengan posesif.