Ternyata Suamiku Luar Biasa

Ternyata Suamiku Luar Biasa
Bab 22 Bimbang


__ADS_3

Sepasang mata Ayana tidak lepas melihat sosok laki-laki yang membuat hatinya berantakan.


Laki-laki tersebut mendekatinya dan memberikan sebotol minuman isotonik padanya. Dia tersenyum manis dan berkata,


"Ini Ay minumannya. Minumlah."


Ayana menerima botol minuman tersebut sambil tersenyum dan berkata,


"Terima kasih Raf."


Rafael duduk di kursi taman yang sama dengan Ayana. Dia duduk di samping Ayana sambil melihat lurus ke depan memandangi kolam yang terdapat banyak ikan hias di dalamnya.


"Ay, apa kamu mengatakan semuanya pada Mama?" tanya Rafael yang masih menatap ke arah kolam tersebut.


"Mama? Maksud kamu Bu Rania?" tanya Ayana sambil mengernyitkan dahinya. 


Seketika Rafael ingat jika dia menyembunyikan statusnya pada Ayana. Kemudian dia tersenyum kikuk dan berkata,


"Eh iya. Nyonya Rania."


Ayana menoleh ke samping di mana Rafael sedang duduk di sampingnya. Dia menatap Rafael dengan penuh tanda tanya dan berkata,


"Aku tidak mengatakan apa-apa padanya. Memangnya kenapa Raf?" 


"Tidak ada apa-apa. Dia baik sekali sama kamu. Kalian seperti ibu dan anak," jawab Rafael sambil tersenyum pada Ayana.


"Bu Rania memang baik sekali orangnya. Beliau bilang ingin memiliki anak perempuan, sayangnya tidak keturutan. Karena itulah beliau menganggapku seperti anaknya sendiri. Mungkin karena itu kamu juga dianggapnya seperti anak kandungnya," tukas Ayana sambil tersenyum mengingat kebaikan Rania padanya.


Ternyata Ayana masih menganggapku sebagai sopir di keluarga itu. Untung saja dia sangat lugu, jadi sangat gampang dibohongi. Aman deh kalau begini, Rafael berkata dalam hatinya sambil tersenyum tipis.


"Oh iya Raf. Kamu sudah diangkat anak oleh Bu Rania dan suaminya? Lalu, di mana kedua orang tua kandungmu?" tanya Ayana menatap intens manik mata Rafael.


Rafael gugup hingga dia salah tingkah. Akhirnya dia hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan Ayana padanya.


Ayana menghela nafasnya. Kemudian dia tersenyum getir dan berkata,


"Ternyata kamu masih belum menganggapku sebagai istrimu Raf. Aku tidak mengharapkan banyak hal dari statusku itu. Jika memang kamu tidak bisa menerimaku menjadi istrimu, lebih baik lepaskan saja aku Raf. Aku tidak keberatan. Toh kamu juga memiliki perempuan yang kamu cintai."


Deg!


Hati Rafael terasa sangat sakit mendengar perkataan yang keluar dari bibir Ayana. Istrinya itu mengatakan tentang perpisahan mereka. Entah mengapa itu membuat hati Rafael sangat sedih dan merasa tidak rela.

__ADS_1


"Ruby?" celetuk Rafael seolah bertanya tentang nama perempuan yang dimaksud oleh istrinya itu.


"Iya si Rubah betina itu," jawab Ayana sambil terkekeh.


Seketika Rafael ikut terkekeh mendengar Ayana menyebut Ruby dengan sebutan Rubah. Dan dia berkata,


"Kamu itu ada-ada saja Ay."


"Maaf, bukannya aku cemburu dengannya. Aku hanya tidak suka dengan orang yang seperti itu," ucap Ayana di sela kekehannya.


"Cemburu juga tidak apa-apa Ay. Gak ada yang ngelarang juga kok," sahut Rafael sambil terkekeh.


"Aku bukan perebut milik orang lain Raf. Lebih baik aku bersama dengan laki-laki yang mencintai aku daripada bersama dengan laki-laki yang terpaksa mencintaiku," ucap Ayana sambil tersenyum getir.


Deg!


Lagi-lagi hati Rafael terasa sakit bagai disayat benda tajam. Entah mengapa dia tidak terima jika Ayana bersama dengan laki-laki lain jika sudah lepas darinya.


Hatinya ingin mengatakan jika dia tidak rela untuk melepasnya. Sayangnya rasa angkuh dalam dirinya tidak mengijinkannya.


Rafael masih terdiam mencari kata-kata yang mungkin bisa dikatakannya. Hati, pikiran dan bibirnya saling berontak untuk meminta Rafael menurutinya.


"Oh iya Raf, bagaimana dengan Ruby? Apa dia masih di Mall yang tadi?" tanya Ayana yang baru ingat tentang keberadaan Ruby.


"Aku lupa. Pasti dia sangat marah padaku. Aku sengaja mematikan HP ku tadi," ucap Rafael sambil terkekeh dan menggaruk rambutnya dengan ekspresi malu pada Ayana.


Ayana tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Dia tidak percaya melihat Rafael melupakan keberadaan pacarnya yang sedang menunggunya di Mall untuk membelanjakannya.


Tawa Rafael terhenti karena terpesona dengan senyuman Ayana yang sangat manis dan mempesona dengan kedua lesung pipinya.


Dalam hatinya dia memuji kecantikan Ayana. Terlebih penampilan Ayana yang sangat modis dan tidak lagi seperti gadis desa. Sungguh menyegarkan matanya ketika melihat gadis yang sudah berstatus menjadi istrinya.


"Yuk pulang Raf. Takut Bu Rania sampai lebih dulu di rumah," ucap Ayana sambil beranjak dari duduknya.


"Mereka pasti pulang nanti Ay. Kamu gak dengar tadi Mama bilang jika mereka akan pergi berdua untuk pacaran," sahut Rafael sambil terkekeh.


"Ya biarkan saja mereka pulang nanti. Kita pulang saja sekarang. Kasihan Bik Darmi tidak ada yang membantunya," ucap Ayana sambil menarik tangan Rafael.


Seketika Rafael merasa bersalah karena menempatkan Ayana sebagai pembantu di rumah itu.


Harusnya kamu menjadi nyonya di rumah itu Ay, bukan sebagai pembantu. Maafkan aku Ay, Rafael berkata dalam hatinya sambil berjalan di samping Ayana.

__ADS_1


Rafael menarik tangan Ayana dan menggandengnya menuju parkiran motornya. 


Sama seperti tadi, Rafael memakaikan helm di kepala Ayana. Setelah Ayana naik di boncengan motornya, Rafael menarik kedua tangan Ayana agar memegang rapat pinggangnya.


Motor sport itu membuat Ayana tersiksa. Dia harus duduk merapat ketika dibonceng oleh Rafael. Dan dia tidak bisa memprotesnya karena laju motor itu sendiri membuatnya semakin dekat dan tidak berjarak dengan Rafael.


Bagian tubuh depan Ayana menempel erat pada punggung Rafael hingga bisa dirasakan oleh Rafael. Sepertinya Rafael sudah melupakan Ruby untuk saat ini.


Tiba-tiba di tengah perjalanan mereka, hujan mengguyur dengan derasnya.


"Ay, sebaiknya kita berhenti dulu. Kita berteduh saja, hujannya bertambah deras," ucap Rafael di tengah derasnya suara hujan.


"Jalan saja Raf, biar bisa cepat sampai rumah. Kasihan Bik Darmi," ucap Ayana dengan suara yang lebih keras dari biasanya agar Rafael mendengarnya di tengah derasnya hujan yang turun.


Rafael mengangguk dan dia menarik tangan Ayana agar lebih erat berpegangan padanya. Kemudian dia berkata,


"Pegangan yang erat Ay."


Rafael tidak berani melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Dia ingat akan pesan mamanya agar membawa Ayana pulang tanpa terluka sedikit pun.


Motor Rafael melaju dengan kecepatan sedang seolah mereka menikmati hujan yang sedang turun mengiringi perjalanan mereka.


Setelah beberapa saat, akhirnya mereka sampai di rumah Rafael. Motor Rafael perlahan masuk ke halaman rumahnya.


Ayana dan Rafael masuk ke dalam rumah dalam keadaan basah kuyup.


"Ya ampun… Kenapa kalian bisa basah kuyup seperti ini? Kenapa tidak berteduh dulu Rafael?" 


Tiba-tiba suara Rania menyambut kedatangan mereka yang sedang memasuki rumah.


"Tuh kan Ay, kamu gak percaya sih," ucap Rafael dengan suara sedikit bergetar karena kedinginan.


"Maaf Bu, ini bukan salah Rafael. Saya yang memintanya agar tidak berteduh. Kasihan Bik Darmi sendirian tidak ada yang membantunya jika saya harus berteduh menunggu hujan," sahut Ayana mencoba menjelaskan pada Rania.


Jawaban dari Ayana itu membuat Rania tersenyum. Dia merasakan kebaikan hati Ayana yang tulus pada orang lain.


"Ya sudah. Lebih baik kamu ganti pakaian dulu. Oh iya, sekarang kamar Ayana ada di sebelah kamar Rafael. Semua barang kami sudah dipindahkan ke sana," ucap Rania sambil tersenyum pada Ayana.


"Tapi Bu, saya-"


"Ibu tidak suka dibantah Ayana," sahut Rania menyela perkataan Ayana.

__ADS_1


"Baik Bu," ucap Ayana dengan terpaksa.


__ADS_2