Ternyata Suamiku Luar Biasa

Ternyata Suamiku Luar Biasa
Bab 29 Cemburunya Rafael


__ADS_3

Satria masih setia menunggu Ayana di depan toilet wanita. Dia enggan meninggalkan Ayana sendirian di sana.


Dia menatap cemas ke arah toilet tersebut karena Ayana yang belum juga keluar sedari tadi.


Tiba-tiba ponsel yang ada dalam saku celananya bergetar. Segera diambil ponselnya itu dan dijawabnya telepon tersebut.


Satria, kamu di mana? Kegiatan akan segera dimulai. Cepatlah ke lokasi sekarang juga, suara seorang perempuan yang terdengar dari telepon tersebut.


"Sebentar lagi aku sampai. Kalian persiapkan saja semuanya dengan baik," ucap Satria dengan nada memerintah.


Setelah itu segera dimatikannya panggilan  telepon tersebut karena mendengar suara pintu toilet wanita yang ada di hadapannya terbuka.


"Ayana, kamu kenapa? Kamu baik-baik saja kan?" tanya Satria cemas seraya tangannya memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku celananya.


Ayana yang terkejut melihat Satria ketika dia membuka pintu toilet wanita, kini tersenyum padanya. Kemudian dia berkata,


"Biasa… urusan perempuan."


Satria menghela nafasnya lega dan dia tersenyum seraya berkata,


"Syukurlah, aku kira ada apa-apa. Tiba-tiba saja kamu lari seperti itu, aku kira terjadi sesuatu denganmu."


Ayana kembali tersenyum manis memperlihatkan kedua lesung pipinya pada Satria. Dan dia berkata,


"Maaf jika kamu jadi cemas karena aku. Dan terima kasih karena kamu telah mencemaskan aku."


Satria tersenyum gemas melihat dua lesung pipi milik Ayana. Tanpa menunggu lama tangannya menggandeng tangan Ayana dan mengajaknya untuk berjalan menuju lapangan tempat kegiatan mahasiswa baru.


Dari kejauhan terlihat semua mahasiswa baru dan anggota BEM sudah berkumpul. Mereka sudah berbaris rapi untuk membuka kegiatan bagi mahasiswa baru.


"Eh itu dia Satria," ucap seorang laki-laki yang berada di jajaran anggota BEM menunjuk ke arah Satria dan Ayana.


"Sama cewek cantik. Siapa dia?" sahut seorang anggota BEM lainnya.


Semua anggota BEM terpesona dan tersenyum menyambut kedatangan Satria bersama dengan Ayana.


Namun, ada seorang perempuan yang juga berada di antara anggota BEM lainnya menatap tidak suka pada Ayana.


"Satria, ke mana saja sih kamu? Gak biasanya kamu telat seperti ini. Tadi juga, kenapa teleponnya tiba-tiba kamu matikan begitu saja? Padahal aku kan belum selesai bicara," perempuan tersebut mengomel pada Satria yang baru saja tiba di hadapan mereka.


Ayana menundukkan kepalanya. Dia merasa tidak enak dan canggung berada di situasi seperti sekarang ini.

__ADS_1


Segera dilepaskannya tangan Satria yang masih saja menggandeng tangannya. Satria menoleh karena terkejut tangan Ayana melepaskan gandengan tangannya.


"Aku ke sana dulu Kak," ucap Ayana sambil menunjuk ke arah barisan mahasiswa baru.


Satria tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Pandangan matanya tidak terlepas dari Ayana yang sedang berjalan menuju barisan.


"Ck, Satria, kamu harusnya menjawab pertanyaanku," ucap perempuan yang sedari tadi mengomel pada Satria.


Semua anggota BEM di sana tersenyum mendengar omelan perempuan tersebut yang mirip seperti seorang istri sedang mengomel pada suaminya.


Satria menoleh ke arah perempuan tersebut. Senyumnya sudah pudar. Sama seperti biasanya yang jarang sekali tersenyum pada orang lain. Tapi dia selalu tersenyum pada Ayana.


"Kenapa Dev? Aku rasa belum terlambat? Kenapa harus dipermasalahkan?" tanya Satria pada perempuan tersebut yang ternyata bernama Devi, seorang sekretaris BEM.


Devi mendekati Satria. Dia tersenyum manis pada Satria dan memegang tangannya sambil berkata,


"Satria, kamu itu ketua BEM, jadi wajar jika kita mencarimu sebelum kegiatan dimulai."


"Eh kita gak nyariin Satria tuh. Kamu aja kali Dev," sahut Tama sambil terkekeh.


Seketika mata Devi menatap tajam pada Tama seolah memperingatkannya agar tidak ikut campur dengan urusannya.


Saat itu pula kekehan Tama terhenti. Bibirnya seketika mengatup setelah mendapatkan tatapan tajam dari Devi.


Satria menghempaskan tangan Devi dan berjalan ke arah barisan mahasiswa baru. Dia berdiri dengan sangat berwibawa di hadapan semua mahasiswa baru, tak terkecuali Ayana.


Dia memberikan pengarahan tentang kegiatan mereka hari ini sebelum mereka memulai kegiatan mereka.


Setelah itu mereka dipersilahkan bubar untuk melakukan kegiatan sesuai dengan pengarahan dari Satria dan Tama yang bertindak sebagai wakil dari Satria.


Waktu terasa berjalan begitu cepat pada hari ini. Setelah semua kegiatan usai, Ayana sedang bersiap-siap untuk pulang. Dari kejauhan, Satria memperhatikannya. Dia tidak ingin Ayana hilang dari pandangannya.


Satria segera berlari mendekati Ayana ketika melihat Ayana akan berjalan meninggalkan tempat itu.


"Ayana, kita pulang bersama ya," ucap Satria sambil terengah-engah setelah berlari untuk mendekat ke arah Ayana.


Ayana menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke arah Satria berada. Kemudian dia berkata,


"Kak Satria?! Loh Kakak ngapain lari-lari?"


Satria tersenyum sambil mengatur pernafasannya yang masih sedikit terengah-engah.

__ADS_1


"Aku sengaja mengejarmu untuk mengantarmu pulang," ucap Satria sambil menarik tangan Ayana untuk segera berjalan bersamanya.


"Satria! Kamu mau ke mana? Urusan kita belum selesai!" seru Tama dari tempat anggota BEM yang saat ini sedang berkumpul.


"Sebentar! Nanti aku kembali!" seru Satria ke arah Tama.


Setelah itu dia mengajak Ayana untuk kembali berjalan menuju parkiran.


Ternyata Satria hari ini juga membawa motor sport nya. Motor Satria diparkir di dekat motor Rafael. 


Kini Satria yang tangannya masih menggandeng Ayana berhenti tepat di  sebelah Motornya. 


Di sana ternyata sudah ada Rafael dan Ruby yang sedang memakai helm.


Satria dan Ayana berdiri di belakang Rafael yang ternyata di belakang Rafael terparkir motor Satria.


Ayana melihat semuanya. Seperti biasa, Rafael memakaikan helm pada Ruby yang tersenyum manis padanya.


Ruby yang memang melihat adanya Ayana dan Satria di sana, dia semakin manja pada Rafael. Dia ingin Ayana dan Satria melihat keromantisan mereka berdua.


Ruby melingkarkan kedua tangannya di pinggang Rafael. Tubuh mereka berdua berdekatan dan saling berhadapan.


Tampak sekali Ruby mencoba merayu Rafael yang hanya diam dan tidak merespon apa pun.


Dari dulu hingga sekarang Rafael hanya diam ketika Ruby merayu dan berusaha menyentuh tubuhnya. Jika dia menolak, pasti Ruby akan marah besar padanya. Dan dia tidak merespon karena memang dia tidak merasakan apa pun pada Ruby.


Rafael memang mengaku mencintai Ruby, tapi anehnya dia tidak menginginkan tubuh Ruby.


Awalnya dulu memang Ruby yang mendekati Rafael. Candra, Raka dan Farrel mendesak Rafael untuk menerima Ruby sebagai pacarnya agar tidak disebut sebagai pecinta sesama jenis.


Karena memang Rafael dan Satria memang sama-sama menjadi idola kaum hawa. Sayangnya, mereka berdua tidak pernah merespon semua perempuan yang mendekati mereka.


Ruby, dia perempuan idola kaum adam di kampus tersebut. Sebenarnya dia menyukai Satria yang menjabat sebagai ketua BEM. Sayangnya Satria selalu menolak ketika Ruby mendekatinya.


Ayana mencoba sekuat mungkin agar hatinya tidak terluka. Dia tersenyum di atas kepedihan hatinya.


"Maaf, permisi Raf," ucap Satria yang akan mengambil motornya di belakang Rafael.


Rafael pun menoleh. Matanya terbelalak ketika melihat Ayana yang berdiri di belakangnya.


Bahkan Satria memperlakukan Ayana seperti Rafael memperlakukan Ruby. Satria memakaikan helm pada Ayana dengan sangat hati-hati. Dan mereka berdua saling tersenyum hingga membuat Rafael sangat kesal dan ingin menghajar Satria.

__ADS_1


"Ay, kamu mau ke mana? Bukannya Mama menyuruh kamu untuk pulang bersamaku?" tanya Rafael dengan wajah kesalnya.


__ADS_2