
Rafael terperangah mendengar perkataan Ayana. Apa yang dikatakannya saat ini membuatnya menyadari kesalahannya.
Dia sudah menyia-nyiakan istrinya yang selalu ada di sampingnya. Bahkan selalu perhatian padanya. Sayangnya dia masih buta akan rasa yang dikatakannya sebagai cinta pada Ruby.
Rafael masih berdiri di dalam kamar Ayana. Dia sadar jika dia bersalah, tapi dia tidak mau jika dengan alasan kesalahannya itu membuat Ayana bersama dengan laki-laki lainnya.
"Keluarlah Raf, aku akan mandi sekarang," ucap Ayana yang sudah berjalan menjauh darinya dan memunggunginya.
Rafael menoleh ke arah istrinya. Dia memandang punggung istrinya yang terlihat mencoba untuk tegar.
"Ay, aku mohon maafkan aku. Semua yang kamu lihat itu belum tentu–"
"Aku lelah Raf. Cepatlah keluar," sahut Ayana menyela ucapan dari Tristan yang mencoba membujuknya.
Ayana menahan sekuat tenaga perasaan sakit yang menghimpit dadanya ketika dia teringat apa yang dilihatnya tadi. Istri mana yang bisa melihat suaminya memangku perempuan lain dan bermesraan dengan perempuan tersebut setiap saat.
Meskipun hubungan Ayana dan Rafael tidak seperti layaknya pasangan suami istri yang lainnya, tetap saja dia merasa kecewa dan sakit hati melihatnya.
Rafael menghela nafasnya mendengar penolakan dari istrinya. Dia berjalan pelan menuju pintu kamar tersebut.
Tangannya terulur hendak menyentuh pundak istrinya, sayangnya Ayana menyadari hal itu. Dia segera bergerak menjauh dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Rafael kembali menghela nafasnya. Dia menatap kecewa pada punggung istrinya yang berjalan meninggalkannya.
Di dalam kamar mandi, Ayana mengeluarkan kesedihannya. Lagi-lagi dia menangis tanpa bersuara.
Wajar saja dia sangat sakit hati dan bersedih, ini merupakan pertama kalinya bagi Ayana. Selama ini dia selalu menjauhi setiap lelaki yang mengharapkan cintanya karena dia tidak siap untuk merasakan sakit hati. Dan kini dia telah merasakannya.
Ayana mengusap kasar air mata yang dengan lancangnya sudah membasahi pipinya tanpa dikehendakinya seraya berkata dengan lirih,
"Apa yang aku lakukan? Aku tidak punya banyak waktu untuk larut dalam kesedihan. Aku harus segera bangkit dan meraih mimpiku. Aku akan membuat bangga Bapak dan Ibu seperti tujuanku selama ini."
Berulang kali dia menghirup udara dalam-dalam dan menghelanya secara perlahan untuk melegakan dadanya yang terasa sesak itu.
Setelah dirasa sudah lebih lega dan perasaannya sudah membaik, Ayana keluar dari kamar mandinya.
"Ayo Ayana, tunjukkan bahwa kamu perempuan kuat yang tidak lemah hanya dengan hal sepele seperti itu," ucap Ayana untuk menyemangati dirinya sendiri.
Ayana segera mengambil baju dari lemari dan menggantinya. Setelah itu dia berjalan keluar dari kamarnya menuju dapur.
Ayana kini menguatkan tekadnya untuk tidak jatuh pada rayuan dan pesona Rafael. Dia benar-benar ingin mengenyahkan Rafael dari hatinya.
__ADS_1
Dia tidak mempermasalahkan statusnya sebagai istri dari Rafael. Dan dia pun tidak mempermasalahkan jika nantinya akan menjadi janda di usianya yang masih sangat muda.
"Masak apa Bik?" tanya Ayana yang baru masuk ke dapur dan melihat Bik Darmi sedang sibuk dengan beberapa sayuran serta bumbu dapur.
"Eh Ayana. Ini Bibik mau masak sayur kesukaan Tuan Muda Rafael," jawab Bik Darmi yang tanpa sadar memanggil Rafael dengan sebutan tuan muda.
Dahi Ayana mengernyit mendengar sebutan tuan muda yang diberikan Bik Darmi pada Rafael. Tapi, beberapa detik kemudian dia teringat jika Bik Darmi sudah sering keceplosan memanggil Rafael dengan sebutan itu.
Mungkin karena sudah diangkat menjadi anak Bu Rania dan Pak Antonio, jadi Rafael dipanggil tuan muda oleh Bik Darmi, Ayana berkata dalam hatinya.
"Ayana bantu ya Bik," ucap Ayana seraya mengambil alih sayuran yang sedang dipotong oleh Bik Darmi.
"Apa kamu tidak sedang sibuk? Jika kamu sedang ada pekerjaan, lebih baik kerjakan saja dulu. Biar semua ini Bibik yang mengerjakan. Bibik sudah terbiasa kok mengerjakannya sendiri," tukas Bik Darmi dengan lembut dan tersenyum pada Ayana.
"Ayana sedang tidak ada pekerjaan Bik. Jadi lebih baik Ayana membantu Bibik saja di dapur. Jika Bibik ada pekerjaan lainnya, lebih baik Bibik kerjakan saja, biar cepat selesai dan Bibik bisa cepat istirahat," jawab Ayana seraya tangannya sibuk mengupas sayuran dan memotongnya.
Bik Darmi pun menyetujui permintaan Ayana. Dia meninggalkan urusan dapur di tangan Ayana. Sedangkan Bik Darmi menyelesaikan pekerjaan lainnya.
Setelah usai mengerjakan pekerjaan lainnya, Bik Darmi segera kembali ke dapur untuk membantu Ayana.
Bik Darmi terkejut melihat semua masakan sudah siap di sana. Bahkan di sana juga ada sambal yang aromanya menggugah selera semua orang.
Ayana tersenyum dan menganggukkan kepalanya pada Bik Darmi seraya berkata,
"Iya Bik. Takut kelamaan kalau nunggu Bik Darmi selesai. Maaf jika tidak seenak masakan Bik Darmi."
Bik Darmi tersenyum dan mengusap pundak Ayana. Dia menatap kagum pada Ayana yang menurutnya sangat layak menjadi menantu majikannya.
"Pasti enak. Dari aromanya saja sudah menggugah selera. Apalagi ini, sambalnya ini loh, wuuuh… Bibik jadi lapar," ucap Bik Darmi sambil terkekeh dan menunjuk sambal yang berada di cobek.
Ayana pun tertawa mendengar ucapan Bik Darmi. Kemudian dia mengangkat beberapa menu makanan itu sambil berkata,
"Ayana bawa ke meja makan ya Bik."
Bik Darmi pun menganggukkan kepalanya. Dia pun turut membantu membawa beberapa menu makanan yang masih tersisa di sana.
Ternyata pada saat itu Rania dan Antonio berjalan menuju meja makan. Dia melihat semua makanan yang sudah ada di meja makan.
"Ayana, Rafael masih ada di kamarnya?" tanya Rania yang sudah duduk di kursinya.
"Iya Bu," jawab Ayana singkat sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kamu panggil dia. Suruh cepat turun. Bilang padanya Mama dan Papanya sudah menunggu," tukas Rania dengan lembutnya dan tersenyum manis pada Ayana.
"Lebih baik Bik Darmi saja yang memanggil. Ayana masih perlu menyiapkan yang lainnya," bisik Ayana di telinga Bik Darmi.
"Tapi–"
Ucapan Bik Darmi tidak diselesaikannya. Dia melihat Ayana yang menatapnya dengan wajah mengiba padanya.
Bik Darmi pun beranjak dari tempatnya untuk memanggil Rafael di kamarnya.
Setelah beberapa saat, terlihat Rafael berjalan di belakang Bik Darmi. Dia duduk di kursi yang biasa di ditempatinya. Matanya selalu memandang ke arah Ayana.
Namun, Ayana sama sekali tidak melihat ke arahnya. Dia mengacuhkan Rafael dengan berpura-pura sibuk menyiapkan semuanya di meja makan.
"Ayana, kamu mau ke mana?" tanya Rania ketika melihat Ayana akan meninggalkan ruangan tersebut.
Ayana menghadap ke arah Rania dan menundukkan kepalanya seraya berkata,
"Saya mau ke dapur Bu."
Rania menghela nafasnya. Dia merasakan ada yang tidak beres di antara Rafael dengan Ayana. Kemudian dia berkata,
"Loh, kenapa ke dapur? Kamu makan di sini saja bersama dengan kita. Bukannya ini semua masakan kamu ya? Ayo kita nikmati bersama. Kamu kan menantu kami."
Ayana tersenyum getir mendengar kata menantu yang diberikan padanya. Dia mengalihkan perhatiannya pada Rafael dan berkata,
"Maaf Bu, lebih baik saya makan bersama Bik Darmi saja di dapur. Permisi."
Setelah mengatakan itu Ayana segera berjalan menuju dapur tanpa memberi kesempatan Rania untuk menghentikannya.
Rania menatap tajam ke arah Rafael dam berkata,
"Ada apa Rafael? Kenapa Ayana tidak seperti biasanya? Kenapa dia seperti menghindarimu? Bahkan dia tidak mau memanggilmu untuk segera makan malam meskipun Mama yang memerintahkannya."
Rafael menghela nafasnya. Dia tidak bisa menyembunyikan apa pun dari mamanya. Rania selalu tahu apa yang sedang terjadi padanya.
"Cuma salah paham Ma," jawab Rafael sambil tertunduk lemas.
"Mama tidak mau tau. Kamu harus mengembalikan Ayana seperti biasanya," ancam Rania dengan tegas.
"Sudah, lebih baik kita makan dulu. Setelah makan kita membahasnya kembali," tutur Antonio seraya tangannya mengusap lembut punggung istrinya.
__ADS_1