Ternyata Suamiku Luar Biasa

Ternyata Suamiku Luar Biasa
Bab 27 Awal kecemburuan


__ADS_3

"Ayana, sini sebentar," ucap Rania ketika melihat Ayana dan Rafael turun dari lantai atas dengan bergandengan tangan.


Seketika tangan Rafael dihempaskan oleh Ayana dan segera dia berjalan cepat menuju Rania yang berada di ruang tamu tengah bersama dengan Antonio.


Rafael berjalan mendekati mereka. Tapi dengan cepatnya Rania menghentikannya.


"Rafael, sebaiknya kamu siapkan kendaraan kamu saja di luar. Mama akan berbicara sebentar dengan Ayana," ucap Rania dari tempatnya berdiri saat ini.


Rafael menghela nafasnya. Lagi-lagi dia merasa menjadi anak tiri dari orang tua kandungnya. Dengan langkah beratnya dia berjalan menuju pintu.


Rania memberikan uang seratus ribuan sebanyak lima lembar pada Ayana dan berkata,


"Ayana, ini uang untuk kamu pegang. Ingat, jika Rafael meminta uang padamu, berilah hanya seratus ribu padanya. Jangan dilebihkan. Jika dia meminta lebih, bilang saja kamu tidak mempunyai uang lagi. Mengerti?" 


Dengan cepatnya Ayana menganggukkan kepalanya sambil berkata,


"Baik Bu, Ayana mengerti."


Setelah itu dia mengambil tangan Rania dan mencium punggung tangannya dan berpamitan padanya. Ayana juga melakukan hal yang sama pada Antonio.


Rania mengantarkan Ayana berjalan keluar layaknya putri kandungnya sendiri. Terlihat sekali jika Rania sangat menyukai Ayana. Bahkan tangannya saat ini melingkar di pundak Ayana ketika berjalan mengantarkan ke luar rumah.


"Loh Raf, kok pakai motor sih? Kenapa tidak pakai mobil saja?" tanya Rania ketika melihat Rafael sudah duduk di atas motor sport nya.


"Irit bensin Ma. Kan Mama sita semua kartu keuangan Rafael," jawab Rafael dengan menampakkan wajah kesalnya.


Rania terkekeh mendengar keluhan dari putranya. Kemudian dia berkata,


"Itu semua demi masa depan kamu. Biar kamu tidak terperosok menjadi bangkrut hanya karena perempuan tidak tau diri itu. Mintalah uang pada Ayana jika kamu membutuhkan uang, tapi hanya seratus ribu, tidak lebih."


Rafael terdiam. Dia tidak bisa membantah karena memang apa yang dikatakan oleh mamanya itu semua benar. Dia melirik ke arah Ayana yang menunduk ketika Rania membicarakan tentang Ruby. Setidaknya Rafael mengerti jika Ayana terlihat sedih ketika membicarakan Ruby.


Sepertinya Ayana mempunyai perasaan padaku, Rafael berkata dalam hatinya.


"Ya sudah, sebaiknya kalian berangkat sekarang," ucap Rania sambil menarik tangan Ayana untuk berjalan mendekati Rafael.


Ayan pun duduk di boncengan motor Rafael. Dia berusaha menjaga jarak seperti kemarin.


Dengan gemasnya Rania menarik tangan Ayana dan melingkarkan tangan tersebut pada pinggang Rafael sambil berkata,


"Pegangan yang erat Ayana, agar kamu tidak terjatuh."


Rafael terkekeh melihat perlakuan mamanya yang hingga sebegitunya pada Ayana. 


"Sekarang Mama tau kenapa kamu memakai motor. Kamu ingin lebih romantis kan Raf?" tukas Rania sambil terkekeh menatap penuh curiga pada Rafael.

__ADS_1


Rafael tersenyum tipis dari dalam helm full face yang digunakannya. Kemudian dengan perlahan motor tersebut meninggalkan halaman rumah itu.


Rania melepaskan kepergian anak dan menantunya itu dengan senyum bahagianya.


Tiba-tiba Rania dikagetkan dengan tangan yang melingkar pada pinggangnya. Tanpa menoleh ke belakang pun dia tahu jika itu adalah suaminya.


"Sepertinya benar apa kata Mama. Ayana gadis yang baik dan sopan. Tidak seperti putra kita yang tidak pernah mencium tangan kita lagi ketika berangkat ke mana saja sejak dia mulai merasa sudah besar," ucap Antonio setelah mencium pipi istrinya.


Rania memutar badannya menghadap suaminya dan tersenyum padanya. Dengan cekatannya tangan Rania merapikan dasi dan jas suaminya seraya berkata,


"Semoga saja dengan Ayana menjadi istrinya, Rafael akan berubah menjadi lebih baik lagi ya Pa."


Antonio mengangguk dan tersenyum pada istrinya. Setelah itu Rania mencium punggung tangan suaminya dan Antonio mencium dahi istrinya dengan lembut untuk menyalurkan perasaan cintanya.


Di perjalanan ke kampus, Ayana mencoba merenggangkan pegangan tangannya dari pinggang Rafael.Sayangnya tangan Rafael mencegah tangan Ayana yang sedikit mengendur, sehingga tangan kirinya menarik tangan Ayana kembali dan mengeratkan kembali pada pinggangnya.


Ayana tidak bisa menghindar. Dan dia sudah mulai terbiasa dengan perlakuan Rafael saat ini padanya.


Motor Rafael memasuki area parkir kampus. Ternyata di sana sudah ada Candra, Farrel dan Raka yang sudah menunggunya.


Mata mereka bertiga terpanah melihat Ayana yang baru saja melepas helmnya ketika motor yang dikendarai oleh Rafael berhenti tepat di depan mereka.


"Gak usah segitunya kalau melihat cewek cantik," tegur Rafael pada mereka bertiga sambil melepaskan helmnya.


Sontak saja Candra, Farrel dan Raka tersadar. Mereka bertiga tersenyum pada Ayana dan bersamaan mengulurkan tangannya pada Ayana.


"Kalian bertiga kenapa?"


Raka, Farrel dan Candra saling menatap. Mereka merasa tidak asing dengan suara perempuan cantik yang ada di hadapan mereka.


"Mereka ingin berkenalan denganmu," sahut Rafael sambil terkekeh.


Dahi Ayana mengernyit dan menatap heran pada mereka bertiga sambil berkata,


"Bukannya kita sudah berkenalan?"


Candra, Farrel dan Raka kembali saling menatap. Terlihat jelas wajah mereka sangat bingung.


Rafael turun dari motornya setelah Ayana turun terlebih dahulu. Kemudian tangan Rafael melingkar di pundak Ayana sambil berkata,


"Kenalkan, ini Ayana. Cantik kan?"


Sontak saja mata Farrel, Raka dan Candra terbelalak mengetahui jika gadis cantik di hadapannya itu adalah Ayana.


Mereka tidak mengira jika gadis desa yang lugu itu adalah Ayana, istri Rafael yang tidak diakuinya.

__ADS_1


"Apa kamu benar Ayana?" tanya Raka seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


Ayana menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis hingga memperlihatkan kedua lesung pipinya.


"Iya benar dia Ayana. Lihat saja itu lesung pipinya," ucap Candra sambil menunjuk lesung pipi milik Ayana.


"Wah… cantik banget. Kita bertiga sampai pangling," sahut Farrel sambil terkekeh menyadari kebodohan mereka bertiga.


"Sayang!"


Tiba-tiba terdengar suara perempuan yang mengalihkan perhatian mereka berlima.


Perempuan tersebut berjalan mendekati mereka dengan menampakkan wajah kesalnya.


"Kamu itu gimana sih Sayang. Dari kemarin HP kamu susah banget dihubungi. Semalam juga tiba-tiba dimatikan gitu aja teleponnya. Tadi pagi kamu juga gak jemput aku. Maunya kamu apa sih?" 


Dengan lantangnya perempuan tersebut mengomeli Rafael. Di depan mereka semua, Rafael seperti orang yang tidak berani terhadap perempuan itu.


"Maaf Ruby, HP ku baterainya habis," ucap Rafael untuk mencoba membela dirinya.


Dia tahu jika kemarahan Ruby tidak bisa dihentikan begitu saja. Bahkan tidak mempan untuk dirayu. Satu-satunya cara untuk meredakan kemarahannya adalah dengan cara membelanjakannya barang-barang mewah.


"Yuk kita masuk ke sana Ay," ucap Candra sambil menarik tangan Ayana.


Seketika tangan Rafael menghempaskan tangan Candra dari tangan Ayana sambil berkata dengan tegas,


"Namanya Ayana, bukan Ay."


"Bukannya kamu juga memanggilnya Ay?" tanya Candra heran.


"Beda!" seru Rafael yang terlihat sangat kesal pada Candra.


Raka dan Farrel terkekeh melihat sikap kekanak-kanakan Rafael. Mereka berdua segera membawa pergi Candra dan Ayana sebelum Ruby bertambah marah pada mereka semua.


"Yuk masuk," ucap Farrel sambil merangkul pundak Candra.


Raka pun meraih pundak Ayana dan mengajaknya berjalan bersama dengan mereka.


Rafael ingin kembali mengomel pada mereka, sayangnya Ruby berhasil mencegahnya.


Ruby kembali mengomel pada Rafael. Dan seperti biasanya, Rafael hanya mengatakan maafnya. Dan mata Rafael masih saja mengikuti Ayana yang sedang bersama dengan ketiga sahabatnya.


"Ayana!" seru seorang laki-laki yang berlari ke arahnya.


Rafael menoleh ke arah sumber suara dan seketika wajahnya berubah menjadi kesal ketika melihat siapa yang memanggil Ayana.

__ADS_1


 


__ADS_2