
Sepanjang perjalanan pulang sekolah suasana desa yang biasanya sepi kini tampak ramai. Bahkan terlihat beberapa kerumunan di rumah beberapa warga. Mereka terlihat sedang bercakap-cakap dengan raut wajah yang serius.
"Pasti ada berita baru ini, Nah." ucap Atun memperhatikan kerumunan warga yang tak biasa semenjak munculnya teror.
"Kasian ya, pantesan saja gentayangan kesana kemari." ucap salah satu warga yang kami dengar.
"Hust, ojo ngono. Melas Pak Dayat lan keluargane nek nganti krungu." timpal yang lainnya.
"Benar kan, Nah. Mas Samsul itu korban tumbal. Dia tidak mati bunuh diri dengan sendirinya. Tapi dikorbankan." ucap Atun dengan nada berapi-api.
__ADS_1
"Jangan begitu, Tun. Meskipun itu benar, kita pikirkan bagaimana perasaan Bapak dan Ibunya mengetahui kematian anaknya karena di buat oleh orang lain. Melihat anaknya mati tak wajar begitu saja sudah membuat mereka sangat terpukul, ini masih ditambah dengan masalah yang diluar nalar kita semua."
Atun mengangguk-anggukan kepala, namun bukan Atun namanya kalau tidak mencari tahu selebihnya. Dia pasti akan mengorek berita sampai benar-benar puas dengan jawabannya.
_________
"Tangan sama kuping Mas Samsul beneran hilang, Pak?" tanyaku sepulang sekolah saat melihat Bapak sedang tiduran di bangku panjang ruang tamu sambil mengipasi tubuhnya dengan kipas dari anyaman bambu. Tumben sekali hari ini ada Bapak dirumah sedang beristirahat. Biasanya sepulangku dari sekolah Bapak sedang mencarikan rumput untuk kerbau-kerbaunya.
"Apa sudah dipastikan itu milik Mas Samsul?" tanyaku.
__ADS_1
"Belum, Nduk. Tadi dibawa ke kantor polisi untuk dipastikan tangan dan potongan telinga siapa yang warga temukan. Takutnya bukan milik almarhum Samsul dan masih ada korban yang lainnya." ucap Bapak sambil bangkit dan duduk.
Aku terdiam. Perasaan takut campur was-was menjadi satu. Yang ku takutkan kalau ternyata sosok laki-laki yang ku lihat kemarin ternyata juga melihatku. Namun terpaksa lari dan meninggalkan barang bukti karena sudah dikejar oleh warga.
"Minah takut, Pak."
"Jangan takut, Nduk. Semua orang diminta untuk ikut mengawasi Minah karena kamu orang yang memberikan info semua itu." ucap Bapak menenangkan. Namun tetap saja aku merasa takut. Apalagi manusia kalau sudah kepepet apapun pasti bakal nekad dia lakukan.
___________
__ADS_1
Aku menyusul Ibu ke rumah Yu Siti. Kata Bapak, Yu Siti kembali jatuh sakit setelah bertemu sosok peneror saat Yu Siti berada di kamar mandi.
"Tobat aku, Dik. Ora maneh-maneh aku nang kamar mandi ora gowo dian." ucap Yu Siti sambil menggigil. Tubuhnya di balut selimut tebal. Dahinya beliau tempel dengan koyo. Bau remason menusuk hidung saat aku mengucapkan salam setelah tiba di rumah Yu Siti. Aku diam saja saat Yu Siti menceritakan kronologi kejadian beliau di tampakkan sosok menyeramkan itu di pojokan kamar mandi. Karena saking terburu-buru,dian (lampu lentera) yang di bawa oleh Yu Siti tiba-tiba padam apinya. Ingin keluar mencari korek api lagi namun Yu Siti sudah tidak tahan dengan rasa mulas yang tadinya ingin beliau tahan sampai lagi. Untung saja ada Pak dhe Trisno di rumah. Jadi saat Yu Siti berteriak dan Pakdhe Trisno datang lari tergopoh-gopoh menghampiri istrinya, sosok tersebut sudah menghilang. Meskipun kini Yu Siti jatuh sakit, namun setidaknya beliau tidak linglung seperti waktu itu sampai tak mengenali siapapun.