
Aku dan Atun memutuskan untuk kembali pulang kerumah. Begitu juga dengan Pak Soleh yang sudah memenuhi satu karung besar rumput segar untuk kerbau-kerbaunya. Namun orang yang kita tunggu tak juga muncul menampakan batang hidungnya.
"Besok kita masih harus kesini, Pak?" tanyaku pada Pak Soleh sepanjang perjalanan.
"Oh iya tentu. Kita akan terus kesini sampai apa yang kita cari ketemu." jawab Pak Soleh antusias.
"Lalu bagaimana kalau orangnya curiga?" tanyaku tanpa menyebut namanya. Karena aku khawatir jika tanpa sengaja berbarengan atau berpapasan dengan Budhe Ratmi dan beliau mendengar namanya di sebut-sebut.
"Makanya jangan sampai curiga. Kita lakukan senatural mungkin. Sama seperti apa yang kita lakukan sehari-hari." tukas Pak Soleh.
"Contohnya seperti Atun yang sering buang hajat di kali sana, Pak?" tanyaku membuat Atun mendelik dan menendang pantatku. Pak Soleh yang melihatku meringis kesakitan malah tertawa terbahak bahak sehingga karung yang telah terisi penuh oleh rumput itu oleng.
"Ojo sembarangan kowe, Nah. Kowe juga sering ngising nang kono." ucap Atun tak terima membuatku meringis menahan tawa.
Kami semua memang sering membuang hajat di kali. Apalagi masih jarang penduduk yang memiliki ****** pribadi. Kebanyakan dari penduduk mandi dan membuang hajat di sungai atau langsung ke kolam yang di gunakan untuk memelihara ikan lele.
Kami bertiga menghentikan langkah manakala terlihat Budhe Ratmi melewati jalan pintas menuju kebun dimana kami bertiga baru saja dari sana. Pak Soleh menjatuhkan karung rumputnya dan mengajak aku dan Atun kembali untuk mengikuti kemana Budhe Ratmi pergi.
"Pak, Budhe Ratmi tak membawa apapun." ucapku membuat kami menghentikan langkah.
"Bener, Nduk. Biasanya kan kalau tumbal tidak setiap hari." jawab Pak Soleh membuat kami menahan tawa. Tentu saja semua itu lucu, soalnya kemungkinan besar Budhe Ratmi akan pergi ke sungai untuk membuang hajat.
__ADS_1
***
"Kenapa kamu tidak bilang yang sebenarnya sama Ibu, Nduk?" tanya Ibu saat kami sedang makan malam bersama.
"Maaf, Bu. Minah hanya takut kalau Ibu keberatan dan marah sama Minah." ucapku lirih dengan kepala tertunduk.
"Ibu marah itu karena khawatir anak Ibu kenapa-napa. Ibu tidak mau kamu celaka seperti yang lainnya." suara Ibu terdengar parau. Bapak berusaha menenangkan Ibu dengan mengusap lembut pundak Ibu. Aku segera menghampiri Ibu dan memeluknya untuk meminta maaf dan meminta doanya supaya rencana kami berhasil mengungkap misteri teror di desa kami. Rupanya Ibu mengetahui rencana kami dari Pak Soleh yang tadi sore mencari keberadaan kami untuk memberitahukan sedikit perubahan rencana.
"Bapak sudah tahu kenapa diam saja?" kini gantian Ibu marah ke Bapak yang juga menyembunyikan rencana kami untuk mengikuti Budhe Ratmi dan memergoki Budhe Ratmi saat melakukan ritual.
"Maafkan Bapak, Bu." tak banyak yang Bapak ucapkan selain kata maaf dan penyesalan. Karena Ibu akan lebih marah dan kecewa kalau Bapak memberikan berbagai alasan untuk membelaku.
****
Kembali kami mendengar rintihan misterius di malam hari. Sudah kami hafal, dari mana suara itu berasal. Tentu saja dari salah satu pocong yang meneror warga. Meskipun sudah lebih dari tiga bulan teror ini berlangsung, namun bertatap muka langsung dengan sosok itu tetap saja membuat jantung serasa ingin lepas dari tempatnya.
"Bapak, Minah takut, Pak."
Aku merangkul tangan Bapak dengan erat.
"Ngono iku wedi, masio sok sokan nantang arep gagalke tumbal." ucap Ibu sewot membuat Bapak tertawa geli melihat ekspresi wajahku yang langsung ciut.
__ADS_1
"Masih mau nekat ikut-ikutan sama mereka?" kembali Ibu mengungkit masalah yang kami bahas tadi.
"Ma ... masih, Bu." jawabku lirih membuat Ibu melotot ke arahku hingga akhirnya membuang nafas kasar.
"Cong ... pocong ... Ki lho sing arep nulungi kowe. Ndang mreneo." ucap Ibu.
"Ibbuuu ..." aku berteriak keras membuat Ibu sedikit tertawa.
***
Pak Sukma dan Pak Soleh melanjutkan rencana mereka. Tapi aku dan Atun tak banyak di libatkan karena kami masih anak-anak. Mereka tak ingin hal buruk terjadi pada kami. Hanya saja aku dan Atun boleh melaporkan apa saja yang kami lihat selama itu mencurigakan dan tidak membahayakan kami. Tidak banyak orang juga yang di beritahu tentang rencana ini, dikhawatirkan akan gagal jika banyak orang mengetahui rencana kami.
Seperti biasa Pak Soleh setiap hari mencari rumput di kebun. Hanya saja karena rumputnya yang semakin sedikit, beliau kadang berpindah ke ladang lainnya. Namun hal itu beliau lakukan di siang hari. Sore harinya beliau berpura-pura mencari rumput di tempat tak jauh dari tempat Bu Ratmi menguburkan tumbal berharap beliau bisa memergokinya langsung. Sedangkan aku dan Atun hanya di berikan tugas yang ringan saja. Tak membebani dan sekiranya tak membahayakan.
"Waktu itu haru Kamis wage kan, Tun?" tanyaku memastikan. Atun mengangguk membenarkan.
"Sekarang Kamis wage. Berarti malam Jumat Kliwon." ucapku lirih.
"Aku bilang Pak Soleh dulu, ya." Atun berlari mendekat ke Pak Soleh. Terlihat Pak Soleh mengangguk angguk kemudian terlihat sedang menasehati Atun. Aku enggan untuk mendekat. Melinjo yang jatuh rupanya tak banyak. Aku lebih memilih untuk duduk di bawah pohon sambil memilah melinjo dari batangnya.
"Semoga menemukan solusi untuk semua ini." aku menggumam lirih penuh harap.
__ADS_1
Aku dan Atun bergegas pulang. Pak Soleh tak mengijinkan kami berada di sekitar kebun. Kami bertugas untuk bermain di sekitar rumah Pak Dayat atau Budhe Darni. Berharap bisa menemukan atau memergoki Budhe Darmi melakukan hal yang mencurigakan. Kami harus segera melapor ke Pak Sukma atau siapa saja misalkan terjadi hal di luar dugaan.
"Aku bilang Bapakku dulu, Nah." Atun bergegas pulang untuk menemui Bapaknya. Mungkin saja Atun juga meminta bantuan Bapaknya karena memang dianggap mengerti tentang hal-hal gaib seperti ini. Sedangkan aku hanya meminta Bapak untuk mengawasi kami dari kejauhan supaya sewaktu-waktu terjadi sesuatu bisa lekas menolong.