
Berita tentang ditemukannya potongan anggota tubuh Mas Samsul sudah merebak kemana-mana. Bahkan sampai ke luar desa.
"Kira-kira apa motifnya ya, Bu. Kok sampai tega-teganya melakukan hal seperti itu. Ke sesama manusia pula." Bapak membuka obrolan saat kami makan malam bersama di ruang tengah.
"Namanya juga dalam pengaruh setan, Pak. Sudah gelap mata, apapun pasti akan di lakukan."
"Orangnya tinggi, Pak. Minah lihat ada tato di pergelangan tangan sebelah kiri. Gambar kalajengking kalau Minah tidak salah lihat." jawabku lirih. Aku takut menjadi saksi saat polisi mencari tersangkanya. Apalagi melihat potongan tubuh yang hanya dilempar begitu saja saat warga mulai berteriak.
"Kenapa kemarin saat ditanya, Minah jawab tidak tahu?" ucap Bapak.
Aku terdiam menunduk. Jujur saja aku takut sekali kalau harus menjadi saksi dan meminta keterangan untuk mencari pelaku.
"Nduk." Ibu memegang pundakku membuatku gelagapan.
"Coba Minah ceritakan sama Bapak. Seperti apa orangnya."pinta Bapak.
Perlahan aku ceritakan semua apa yang ku lihat, seperti apa ciri-ciri orang yang ku lihat saat itu. Bapak dan Ibu tampak mengernyit saat mendengar penjelasanku.
__ADS_1
"Yasudah, Minah istirahat saja dulu. Pasti Minah lelah." Ibu memintaku untuk ke kamar.
__________
Tok ... tok ... tok ...
Dug ... dug ... dug ...
Aku memeluk Ibu dengan erat.
"Minah takut, Bu." ucapku sambil mempererat pelukan Ibu.
"Mengapa setannya masih mengganggu, Bu. Seharusnya dia sudah pergi." ucapku parau.
"Berdoa, Nduk. Minta perlindungan sama yang Kuasa."
Bapak melihat keluar, mencari ke asal suara. Kami mengikutinya dari belakang. Dengan mengendap-endap kami bertiga berjalan perlahan menuju pintu depan. Suara beberapa ketukan benda tumpul masih terdengar. Semakin lama semakin jelas dan keras, namun berjarak. Bapak berjalan mundur. Menjauh dari pintu, menarik tanganku untuk mengikutinya ke ruang tengah. Bapak memintaku dan Ibu untuk duduk saja di bangku. Bapak tidak mengijinkan kami untuk mengikuti beliau.
__ADS_1
"Ibu sama Minah disini saja. Biar Bapak yang lihat ke depan sana." pinta beliau.
Pprrraaannnggg ...
Aku dan Ibu melompat hampir bersamaan. Suara benda jatuh di dapur membuat Bapak yang berada di ruang depan berlari kembali menghampiri kami.
"Ada apa, Bu?"
"A ... ada yang melempar panci di dapur, Pak." jawab Ibu terbata.
Sebuah bayangan terlihat di dinding dapur. Dalam cahaya temaram dari lampu teplok membuat bayangan terlihat jelas. Sosok manusia terbungkus kain dan terikat di beberapa bagian tubuh, terutama di bagian atas kepala yang menguncup. Kami mundur, mengurungkan niat untuk ke dapur.
Tampak dari bayangan, sosok itu membentur-benturkan kepalanya ke dinding. Entah apa tujuannya, namun ternyata benturan kepalanya yang sedari tadi menimbulkan suara. Suara rintihan juga perlahan terdengar samar-samar. Seperti orang yang menahan sakit, suaranya begitu menyayat hati bagi siapa saja yang mendengarnya.
Aku memejamkan mata, berusaha tak melihat apa yang berdiri disana. Semua surat-surat pendek yang ku hafal ku baca perlahan. Berharap mampu mengusir rasa takut yang saat ini sedang melanda, syukur-syukur mampu menghalau sosok menyeramkan tersebut. Bapak mengintip melalui celah antara ruang tengah dan dapur. Bapak juga tak berani mengintip langsung melalui pintu.
"Raono wujude." ungkap Bapak. Bagaimana bisa, ada bayangannya namun Bapak tak melihat ada wujud dari sosok tersebut. Suara derit panjang terdengar, seperti kuku panjang dan runcing yang di gesekkan dalam-dalam pada papan. Aku tahu itu dimana. Sontak kami bertiga menoleh serempak.
__ADS_1
"Aaaaakkkhhhh ... "