Teror Pocong Di Desa Pakis Rejo

Teror Pocong Di Desa Pakis Rejo
Penemuan Mayat di Bawah Pohon


__ADS_3

Kami memungut kembali piring-piring yang berserakan di lantai. Entah angin dari mana yang mampu memporak-porandakan piring di rumah kami hingga sedemikian rupa.


"Aaaarrkkhh ..."


Teriakan Ibu mengagetkanku dan Bapak yang sedang menutup pintu yang entah terbuka dari kapan. Karema sebelum kami berkumpul di tengah, pintu dapur selalu kami tutup dan kunci dari dalam.


"Ada apa, Bu?" tanya Bapak.


"Pak, lihat." aku menunjuk ke bawah bangku dekat Ibu yang sedang jongkok. Sebuah kain kumuh dan panjang berjuntai di raih oleh Bapak.


"Astaghfirullah." Bapak melempar kain tersebut kembali ke lantai. Aku membungkuk dan meraih kain yang Bapak buang. Ku amati bentuk dan warnanya yang sudah terlihat kumal dan kumuh.


"Tali pocong, Pak." ucapku dengan raut wajah datar.


"Buang, Nduk. Buang." perintah Ibu.


"Kita kasih Pak Sukma saja, Bu, Pak." saranku yang di setujui oleh Bapak. Hanya saja ini sudah maghrib. Lagi pula, Pak Sukma pasti sedang berada di rumah Pak Dayat untuk pengajian istrinya.

__ADS_1


"Yasudah. Bapak pergi dulu ya, Bu." pamit Bapak pada kami yang sebenarnya berat hati bila Bapak harus pergi malam hari seperti ini.


"Lain kali jangan sembarangan begitu, Nduk." ucap Ibu yang terlihat sewot saat aku mengambil tali pocong itu tanpa ada rasa takut. Sedangkan aku hanya nyengir tanpa ada rasa bersalah.


________


"Suara apa itu, Bu?" aku bergegas ke depan untuk mencari tahu apa yang terjadi di luar sana. Belum lama Bapak pamit untuk pergi ke rumah Pak Sukma, diluar sudah ada suara gaduh dan ramai seperti banyak orang berkumpul disana. Aku yang penasaran mencoba untuk mencari tahu apa yang terjadi disana.


"Bu, lihat." aku membuka pintu depan untuk menunjukan sesuatu pada Ibu.


"Ada mayat, Bu. Tuh, lihat." Bapak menunjuk ke sebuah pohon. Seorang mayat laki-laki duduk bersandar di sebuah pohon gak jauh dari kandang milik Budhe Siti. Aku mengamati dengan seksama mayat tersebut. Meskipun dengan pencahayaan yang sangat minim, namun aku masih bisa melihat wajahnya meskipun tidak begitu jelas.


"Minah." Atu menepuk pundakku dengan kuat membuatku meringis menahan sakit.


"Itu kan." belum sempat Atun melanjutkan kata-katanya, aku pergi mendekat ke arah Bapak untuk memberitahukan sesuatu pada beliau. Aku menarik Bapak untuk agak sedikit menjauh dari kerumunan supaya bisa mendengar dengan jelas apa yang ingin ku katakan pada beliau.


"Yakin, Nduk?" Aku mengangguk.

__ADS_1


"Bapak tanya saja sama Atun, itu Atun."


Bapak mendekat ke arah Pak Sukma dan membisikkan sesuatu dan keduanya menoleh ke arahku secara bersamaan.


Pak Sukma memberikan amanat untuk membawa jenazah ke puskesmas desa. Karena disini jauh dengan Rumah Sakit, dan tidak ada yang memiliki mobil untuk membawa jenazah ke Rumah Sakit di kota. Jadi membawa jenazah ke puskesmas adalah langkah terbaik, selanjutnya pihak puskesmas yang akan melanjutkan mengantarkan jenazah ke Rumah Sakit untuk di otopsi.


________


"Kok seperti Udin ya, Pak?" ucap Ibu pada Bapak saat kami sudah kembali ke rumah.


"Hush, jangan seperti itu, Bu. Hasil otopsi belum keluar. Lagi pula Pak Kades bilang kalau si Udin bekerja di kota. Mana mungkin Udin ada disini." bantah Bapak. Namun menurutku memang sangat mirip dengan Mas Udin anak Pak Lurah.


"Yang pasti laki-laki itu sangat mirip dengan pelaku yang menyimpan potongan telinga dan tangan sewaktu di makan." ucapku yakin.


"Kamu yakin, Nduk?" ibu kembali memastikan ucapanku. Aku mengangguk.


"Bekas luka bakar di pelipis sebelah kiri dan juga tangan kirinya ada gambar ular melingkar, Bu. Waktu itu Minah lihat juga dari samping sebelah kiri, jadi tak melihag dengan jelas.

__ADS_1


__ADS_2