
Mata merah itu menatap nyalang ke arahku dan Atun. Nafasnya yang memburu dan wajah yang memerah seakan-akan siap menerkam kami berdua membuat aku dan Atun hampir kehilangan nyali. Aku menyambar tangan Atun dan menggenggam erat untuk jaga-jaga bilamana Atun lari aku tak akan tertinggal. Namun rupanya nyalinya masih tetap kuat. Sedikitpun dia tak bergerak dari tempatnya berdiri. Bahkan matanya pun membalas ke arah tatapan Budhe Ratmi yang seperti orang kesetanan.
"Baca doa apa saja yang kamu hafal, Nah." pinta Atun padaku. Sedangkan aku yang di suruh berdoa malah fokus menatap Budhe Ratmi yang melotot ke arah kami.
Sedangkan Atun memang banyak menghafal surat-surat Al Quran. Bapaknya rajin sekali mengajarinya mengaji. Apalagi kakeknya seorang kyai yang sering mengajar mengaji di langgar. Bahkan, kakeknya dulu terkenal sering mengobati warga yang katanya terkena gangguan dari makhluk gaib. Tak hanya warga desa kami, warga luar desa pun banyak yang datang berbondong-bondong untuk berobat perkara hal gaib.
"Kamu panggil Bapak ku dulu, Nah. Cepat." pinta Atun padaku.
"Ta ... tapi, bagaimana denganmu?"
"Jangan pikirkan aku. Cepat. Aku tidak bisa menghadapi sendirian." ucap Atun membuatku berdiri dan berlari secepat kilat ke rumah Atun. Rupanya disana Bapaknya sudah bersiap dan akan berangkat menuju rumah Budhe Ratmi.
"Ayo, Nduk." Bapak Atun berjalan tergesa-gesa menyusul putri semata wayangnya.
Warga banyak sekali yang datang melihat. Entah apa yang mereka pikirkan, sebuah pertunjukan gratiskah. Aku melihat Bapak Atun membaca doa-doa yang aku pun tak hafal. Katanya, Budhe Ratmi kesurupan arwah yang sedang meminta tumbal. Budhe Ratmi belum memberikan tumbal yang telah di minta oleh sesembahannya. Begitulah ku dengar omongan para warga yang berada disana. Atun mengajakku untuk pergi saja. Hal semacam itu tak perlu dilihat oleh anak kecil seperti kami.
__ADS_1
"Nanti aku kasih tahu, Nah." Atun menggandeng erat tanganku dan mengajakku pulang kerumah. Rupanya Ibu sudah menungguku dirumah. Hari sudah sore, sedangkan Bapak malah ikut warga yang lainnya kerumah Budhe Darmi bersama Pak Sukma.
"Jangan ikut-ikutan, Nduk." pinta Ibu padaku.
"Atun, kamu berani pulang sendiri, Nduk?" tanya Ibu setelah Atun berpamitan. Rupanya dia hanya mengantarku pulang.
"Berani, Budhe. Atun pulang dulu." Ibu mengangguk dan Atun berlari secepat mungkin.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Bu?" aku penasaran. Atun belum memberitahukan apapun padaku. Sedangkan Ibu terlihat sangat khawatir, seolah-olah Ibu sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Bukan apa-apa. Tadi apa yang terjadi disana? Kamu tidak apa-apa kan, Nduk? Ibu kan sudah bilang, kamu jangan membahayakan dirimu sendiri. Kalau nanti kamu yang di tumbalkan bagaimana?" Ibu mengomel panjang lebar.
"Bisa saja. Asal kamu tahu, keluarga Pak Dayat dijadikan tumbal oleh adiknya sendiri begitu. Bahkan anak dan suaminya sendiri pun juga. Semua sudah mati jadi tumbalnya Budhe Ratmi itu." ucap Ibu membuatku menutup rapat-rapat mulutku. Tak kusangka Ibu bisa tahu begitu banyak berita. Padahal selama ini Ibu terlihat diam dan masa bodoh dengan berita-berita yang tersebar di desa.
"Ibu kata siapa?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Bukan kata siapa-siapa. Sudah sana kamu mandi dulu. Sebelum malam." perintah Ibu.
"Buuu ... temani Minah." aku berteriak dari depan pintu kamar mandi membuat Ibu mengacungkan centong nasi ke arahku.
"Ra sembodo karo mecicilmu, Nduk." umpat Ibu membuatku terkikik.
Malam ini di rumah Budhe Ratmi ramai warga. Bahkan katanya akan di adakan pengajian dadakan disana. Bapaknya Atun mengajak santri yang biasa mengaji di langgar untuk membantu berdoa yang mengaji disana.
"Biar semuanya tenang. Semoga tidak ada lagi korban-korban berjatuhan." ucap Ibu sambil mengambilkan sepotong tempe ke piringku.
"Lalu, apa mungkin Budhe Ratmi yang akan menjadi tumbal selanjutnya, Bu?" tanyaku penasaran.
"Ibu tidak tahu, Nduk. Makanya kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. Jangan serakah dengan harta dunia. Toh mati juga tidak akan dibawa." nasehat Ibu.
"Berarti Budhe Ratmi sudah tidak memiliki keluarga selain Saudara tirinya itu?" Ibu mengangguk. Kasihan sekali. Rupanya Budhe Ratmilah yang melakukan persembahan dan pesugihan. Bahkan tega menumbalkan anak dan suaminya sendiri. Setelah itu keluarga dari Kakaknya sendiri pun ikut di tumbalkan. Karena tak memiliki keluarga lagi, Budhe Ratmi mengganti tumbal pesugihan dengan kambing hitam, sedangkan kepala kambing berwarna hitam itu beliau kuburkan di kebun yang beliau pikir tak akan ada orang yang melihatnya. Budhe Ratmi mengira, warga desa disini tak akan pernah curiga kalau beliau melakukan ritual disini. Karena di kampungnya Budhe Ratmi sudah terkenal sebagai pelaku pesugihan, makanya Budhe Ratmi pindah dan tinggal di desa ini menggantikan adiknya yang telah tiada. Namun belum beberapa lama tinggal di desa ini, perbuatannya mulai terendus warga dan akhirnya ketahuan.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan pocong-pocong itu,ya, Bu?"
"Ibu tidak tahu, Nduk. Coba nanti kalau mereka datang kamu tanyakan saja sama pocongnya." ucap Ibu membuatku kesal dibuatnya.