Teror Pocong Di Desa Pakis Rejo

Teror Pocong Di Desa Pakis Rejo
Pak Dayat Jadi Pocong


__ADS_3

Warga desa kembali membicarakan tentang keluarga Pak Dayat. Mereka beramai-ramai membicarakan tentang perbuatan Kakak tiri Pak Dayat yang tiba-tiba saja datang dan mengangkut semua perabotan milik adiknya tersebut. Padahal selama ini mereka tak pernah sekalipun tampak di sekitar keluarga Pak Dayat di saat adiknya itu sedang tertimpa musibah. Dari ditemukannya Mas Lukman yang juga merupakan keponakannya itu ditemukan meninggal karena gantung diri, sampai acara pemakaman Mas Lukman dan juga Ibunya. Dan terakhir saat pemakaman almarhum Pak Dayat sendiri juga satupun dari anggota keluarga kakaknya itu muncul. Namun kali ini muncul dan tega membawa semua barang-barang milik saudaranya itu.


"Ndak apa-apa lah, Bu." ucap adik Pak Dayat setelah dikabari mengenai kejadian dirumah kakaknya.


"Lah, sampeyan itu bagaimana. Bagaimanapun sampeyan yang lebih berhak atas semua itu. Toh sampeyan itu adik kandungnya almarhum." ucap warga yang kesal mendengar jawaban dari adik Pak Dayat.


"Saya tidak mau bermusuhan sesama saudara. Biarlah, mungkin mereka jauh lebih membutuhkan semua itu dari pada saya." jawabnya bijak membuat semua terdiam.


"Lagi pula, semua itu tak seberapa. Dari pada nanti malah jadi perang saudara, lebih baik saya tidak ikut campur dengan urusan mereka."


Beberapa orang yang sedang terlibat percakapan dengan Ratmi adik Pak Dayat hanya terdiam. Lagi pula untuk apa mereka berdebat tentang suatu hal yang tidak ada hubungannya dengan mereka. Sedangkan pihak yang bersangkutan tidak keberatan.

__ADS_1


"Njenengan pancen sae, Mbak. Ngalahan karo sedulur." ucap salah seorang yang di jawab dengan senyuman.


"Ora berkah rebutan bondo sing di tinggal mati. Yo opo ora, Bu?" ucap salah seorang lagi yang hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh yang bersangkutan. Bu Ratmi adik almarhum Pak Dayat hanya terdiam. Terlihat dari matanya jika beliau sedang memikirkan sesuatu. Namun sepertinya tak ada yang peka dengan keadaannya. Semua hanya sibuk membahas saudara tirinya yang tega mengambil alih semua peninggalan adiknya.


"Budhe, jangan terlalu di pikirkan. Budhe ikhlaskan saja semua. Pasrah sama yang Kuasa." ucapku sok bijak.


"Iya, Nduk. Budhe sudah ikhlas." jawabnya sambil tersenyum.


"Loh, itu bukannya saudara sampeyan ya, Bu? tanya seorang Ibu-ibu sambil menunjuk ke ujung jalan. Kami semua serentak menoleh ke asal suara. Benar saja, gerobak yang sarat akan muatan itu ternyata milik Pak Ali. Kakak tiri Bu Ratmi dan almarhum Pak Dayat yang kemarin membawa hampir seluruh isi rumah Pak Dayat. Bu Ratmi tampak tenang melihat kedatangan Kakak tirinya itu. Beliau hanya berdiri dan memandang sambil menunggu rombongan saudaranya beserta anak-anaknya mendekat.


"Ratmi, nih kamu ambil saja semua barang-barang Kangmasmu." seru seorang laki-laki berbadan besar yang bernama Pak Ali, kakak dari Bu Ratmi.

__ADS_1


"La bukannya Mas Ali mau menggunakan semua itu? Kenapa di pulangkan lagi?" tanya Bu Ratmi tampak bingung.


"Aku emoh, kapok aku berurusan karo pocong." ujarnya sambil bergidik. Bu Ratmi tampak mengernyitkan dahi.


"Maksude opo, Mas? Ojo gawe fitnah." Bu Ratmi tampak tak terima dengan ucapan Kakaknya tersebut.


"Kowe rangerti opo-opo. Adimu lan ponakanmu dadi pocong gentayangan. Arwahe ra di tompo bumi." ucap Pak Ali yang rupanya menimbulkan kemarahan pada Bu Ratmi.


"Sampeyan ojo ngono, Mas." Bu Ratmi berdiri dan mengangkat kain yang beliau kenakan sambil menunjuk-nunjuk ke arah Pak Ali.


"Aku nggak terima Kang Dayat di sebut-sebut seperti itu." Bu Ratmi menangis tersedu-sedu. Sedangkan beberapa warga tampak meminta Pak Ali untuk segera pergi dan menjauh sebelum mengatakan hal-hal yang lainnya. Memang benar bahwa Mas Samsul telah menjadi pocong dan meneror warga. Tapi jika Pak Dayat dan juga istrinya ikut menjadi pocong, belum terbukti sampai sekarang. Karena belum ada warga desa yang merasa bertemu dengan pocong selain Mas Samsul.

__ADS_1


__ADS_2