
Dengan sabar Bapak menyeka tubuh Ibu dengan air hangat. Meskipun tak mampu merespon, Bapak tetap mengajak Ibu mengobrol dengan kata-kata lembut. Kata Bapak, Ibu akan baik-baik saja. Kali ini Ibu sedang berperang dengan rasa takutnya sendiri. Bapak memintaku untuk selalu menemani Ibu dan berdoa untuk kesembuhan Ibu. Meskipun dengan isak tangis, aku berusaha untuk tetap tegar menemani dan mendoakan demi kesehatan Ibu.
"Bu." masih saja tak ada respon Ibu saat aku menggenggam jemarinya. Sakit hatiku rasanya melihat Ibu terbaring lemah tak berdaya seperti ini. Berkali-kali ku guncangkan tubuh Ibu, namun tetap saja Ibu diam tak merespon apa yang kulakukan padanya.
"Minah istirahat dulu sana. Biar Bapak yang gantian jaga Ibu." ucap Bapak lembut membelai rambutku.
"Tapi, Pak. Bapak lelah." aku tahu bahwa Bapak lelah. Semalaman banyak cobaan hingga menjadikan Ibu seperti ini. Ditambah siang Bapak harus melakukan pekerjaan rumah menggantikan Ibu dan juga mengurus kerbau-kerbau di kandang yang berjumlah tujuh ekor.
"Bapak tidak apa-apa, Nduk. Sudah sana kamu istirahat dulu. Tenangkan pikiranmu." aku berlalu dari orang tuaku dan memilih untuk menyendiri di kamarku. Air mata tak dapat ku tahan lagi. Meskipun aku sudah berusaha tegar, namun tetap saja rasa khawatir itu selalu ada. Bayangan kematian orang yang ku sayang ada di depan mata.
__ADS_1
"Dasar pocong tak tahu diri. Sudah mati masih saja menyusahkan." umpatku kesal. Rasa takut semuanya sirna mengingat apa yang sudah kami alami selama ini hingga membuat Ibu menjadi seperti saat ini.
Aku memukul guling sekeras mungkin melampiaskan kekesalanku pada makhluk pengganggu warga desa tersebut. Berharap setelah ku pukul makhluk itu tak akan lagi berani menampakan wujudnya di sekitar kami.
"Nduk, tidur." Bapak tiba-tiba muncul di pintu kamar. Mungkin beliau heran mendengar suara ribut dari dalam kamar.
"Ibuku, Tun."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Kamu lihat saja sendiri di dalam." Aku mengajak Atun untuk masuk menemui Ibu.
Di dalam, Ibu sedang di bacakan doa oleh Bapak. Di dalam juga ada Pak Kyai yang di panggil oleh Bapak untuk membantu mendoakan kesembuhan Ibu.
"Sepertinya Bu Sumi ini menahan sesuatu, Pak." Pak Kyai menjelaskan bahwa sebenarnya pikiran Ibu selama ini tertekan oleh teror yang datang bertubi-tubi. Di tambah adanya penemuan jenazah Udin tepat di depan rumah kami membuat Ibu merasa takut dan terbebani. Ibu takut bahwa semua ini akan berdampak buruk pada keluarga. Apalagi sempat ada sosok laki-laki yang mengikutiku setelah aku memberitahukan tempat penyimpanan potongan anggota tubuh Mas Samsul. Ternyata semua itu Ibu pendam sendiri. Aku kira Ibu kuat, Ibu tak mempedulikan apapun yang terjadi selama ini. Namun rupanya Ibu hanya memendam sendiri tanpa mau menunjukan kerapuhan dirinya.
Sesuai pesan Pak Kyai, aku dan Bapak setia mendampingi Ibu dengan terus membacakan doa dan mengaji di dekat Ibu. Dengan begitu Ibu akan menjadi lebih tenang dan akan lebih cepat sadar. Meskipun Ibu dalam kondisi sadar, namun sekarang kondisinya hampir mirip seperti Yu Siti. Ibu hanya diam saat ditanya dan tatapan matanya kosong ke depan.
"Bu, cepat sembuh ya. Minah sayang sama Ibu." bisikku di telinganya.
__ADS_1