
Sosok itu menghilang berasamaan dengan kepulangan Bapak. Entah bagaimana caranya Bapak masuk, karena sebelumnya pintu sudah terkunci semua dari dalam.
"Minah sama Ibu belum tidur?"
"Astaghfirullah." Kami berdua terkejut melihat Bapak sudah berada di kamar.
"Ba ... Bapak."
"Bapak masuk lewat mana?" tanya Ibu mewakili rasa penasaranku.
"Lewat pintu depan. Mengapa tidak ditutup."
Aku dan Ibu saling berpandangan mendengar ucapan Bapak. Bagaimana mungkin tidak di tutup. Sedangkan sudah pasti tadi setelah Bapak pamit Ibu menguncinya. Aku menunggu Ibu mengunci pintu di sebelah Ibu.
"Ibu tadi kunci kok, Pak." ucapku membantah ucapan Bapak.
"Yasudah, tidak apa-apa. Yang penting kalian baik-baik saja." ucap Bapak sambil merebahkan diri tepat di sebelahku.
___________
__ADS_1
Atun sudah menungguku sedari tadi. Tumben sekali, biasanya dia tak pernah menungguku di rumah untuk berangkat sekolah. Sedangkan aku bangun kesiangan karena semalam tak bisa tidur karena kejadian kakiku di raba oleh tangan dingin dan berwajah pucat.
"Nah, kamu sudah dengar apa belum?" tanya Atun saat kami dalam perjalanan menuju sekolah.
"Sudah, Tun. La ini aku juga dengar." jawabku singkat.
"Dengar apa?"
"Dengar kamu ngomonglah, Tun. Dengar apa lagi." Atun menepuk dahinya mendengar jawabanku yang memang sengaja ku jawab seperti itu.
"Kamu mau ku kasih tahu sesuatu?" dia mengedip-ngedipkan matanya seolah-olah menggodaku.
"Kok kamu tahu?"
"Atun gitu loh." sambil menepuk dadanya yang di busungkan.
Aku malah membayangkan sosok yang semalam berada di bawah kaki ku saat Atun bercerita tentang Bu Dayat yang kesurupan. Wajah pucat pasi dan juga tangan dingin yang bersentuhan langsung dengan kulit kakiku membuatku tak bisa melupakannya.
."Hhiiii..." aku dibuat bergidik sendiri saat mengingatnya.
__ADS_1
"Kowe ngopo, Nah?" Atun menepuk bahuku saat mengetahui aku tak fokus mendengarkan ceritanya.
"Nah, kamu pernah langsung melihat wujud Mas Samsul setelah dia meninggal?" tanyaku pada Atun.
"Hahaha... ya enggaklah, Nah. Lagian aku juga nggak mau kalau harus ketemu dia."
"Semalam aku lihat, Tun." ucapku sambil menatap lekat mata Atun. Dia terdiam, bahkan berhenti tertawa.
"Tenanan toh, Nah?"
Aku mengangguk, Atun mendelik.
"Seperti apa wujudnya? tanyanya penasaran.
"Wujudnya asli. Wajah Mas Samsul, hanya saja kulitnya sangat pucat, dan..." aku tak melanjutkan ucapanku. Atun menungguku untuk melanjutkan cerita. Dengan wajah yang sangat lucu membuatku tak mampu menahan tawa.
"Dan, apa, Nah? Mbok kalo cerita jangan setengah-setengah." ucapnya sewot Aku tertawa melihat ekspresinya yang lucu dan penuh rasa penasaran.
Aku berhenti bercanda saat melihat seorang laki-laki bertopi sedang melihat ke arah kami. Dari postur tubuhnya sepertinya aku pernah melihatnya, hanya saja aku lupa siapa dan dimana. Aku memperhatikan sosok itu, begitu juga sebaliknya, membuatmu merasa takut dan memilih untuk memalingkan wajahku untuk tak terus menatap laki-laki itu.
__ADS_1
Kami memilih untuk mempercepat langkah. Jarak dari rumah dan sekolah yang cukup jauh membuat kami harus berangkat lebih pagi untuk berjalan menuju sekolahan. Ditambah jalanan desa yang terjal dan banyak bebatuan, membuat kami harus berhati-hati supaya tidak jatuh dan terpeleset oleh batu-batuan yang berserak. Tak ada lagi obrolan antara aku dan Atun mengenai masalah teror, sosok yang menemuiku semalam bahkan soal Bu Dayat yang kesurupan. Atun sepertinya mengerti ala yang ku rasakan. Sehingga membuatnya untuk memilih diam dan terus berjalan untuk bisa segera sampai di sekolah.