
Bu Ratmi masih menempati rumah keluarga Pak Dayat. Semenjak terjadi keributan dirumah itu, beliau masih betah untuk tinggal di desa kami. Sedangkan Pak Ali memutuskan untuk mengembalikan semua benda-benda peninggalan adiknya dan memilih untuk tak ikut campur dengan urusan keluarga mereka lagi dengan alasan berbagai gangguan dari pocong yang tiada henti meneror keluarga mereka. Namun, selama beberapa hari Bu Ratmi tinggal di rumah itu, tak pernah sedikitpun beliau mengeluh tentang munculnya teror maupun gangguan dari sosok yang selama ini mengganggu warga.
"Bu Ratmi anteng sekali ya, Pak." bisikku takut ketahuan oleh Ibu. Bisa-bisa Ibu akan memarahiku jika tahu aku diam-diam masih saja membahas keluarga Pak Dayat.
"Ssstttt ..." Bapak memberikan isyarat padaku untuk diam. Tangannya masih sibuk menumbuk melinjo dan menatanya di nampan untuk di jemur.
"Ibu masih di rumah Yu Siti, Pak." ucapku terkekeh membuat Bapak membulatkan mata.
"Ada apa mencari, Ibu?"aku terperanjat saat tiba-tiba mendengar suara Ibu tepat berada di belakangku. Sedangkan Bapak hanya tertawa melihat perubahan wajahku yang terkejut.
"Bapak mau minta di buatkan kopi, Bu." jawabku membuat suara tawa Bapak semakin kencang. Tubuhnya ikut terguncang saking lepasnya beliau tertawa. Aku yang menyadari perubahan raut wajah Ibu hanya menunduk dan sesekali melirik ke arah beliau.
Seperti biasa, sore hari ku habiskan waktu bersama Atun mencari biji melinjo di kebun. Setelah itu, kami akan merebahkan diri di bawah pohon sambil menikmati rindangnya pepohonan dan sepoi sepoi angin sore. Tak jarang kami bermain air di sungai yang airnya mengalir tak begitu deras serta jernih. Banyak anak-anak yang lainnya turut serta untuk mandi dan sekedar bermain bersama yang lainnya.
"Minah, jangan kesitu-situ. Nanti ada demit." teriak Atun saat aku berenang menuju tempat ketengah yang agak dalam.
__ADS_1
"Lebih sereman mana sama demitnya Mas Samsul?" jawabku meledek.
"Hush, jangan begitu kamu. Belum ada kapok-kapoknya kamu di datangi demit." Atun melempar batu kecil dan tepat sekali mengenai kepalaku.
"Adduuhhh..." sambil menahan rasa sakit aku kembali berenang ke pinggiran mendekati Atun.
"Kalau melempar batu kira-kira dong. Sampai benjol ini kepala, awas aja kamu, Tun." umpatku kesal. Atun keheranan melihatku marah-marah.
"Lo aku lemparnya kesana kok." ucap Atun sambil menunjuk kesebuah arah yang memang letaknya cukup berjarak dari tempatku berenang.
"Tenan, Tun. Takon'o nang Andi." ucap Atun tak mau kalah.
Aku terdiam, bahkan yang lain pun ikut terdiam. Lekas kami menyudahi aktifitas bermain di sungai. Apalagi matahari sudah hampir tenggelam. Sudah paham sekali mengapa kami harus mengakhiri permainan kami saat ini. Dalam sekejap, suasana sungai yang tadinya ramai dengan tawa riuh anak-anak kini mendadak sepi. Aku berjalan beriringan bersama Atun dan juga yang lainnya.
"Sepurane, Nah. Aku ora sengojo."
__ADS_1
Aku mengangguk. Namun tetap saja mulutku terdiam. Aku enggan menjawab Atun.
"Kamu marah?" Aku menggeleng.
"Aku tahu, Tun. Makanya tadi aku langsung naik dan pulang."
"Kamu lihat apa, Nah?" Atun tampak penasaran.
"Kamu juga lihat kan?" aku kembali bertanya padanya. Atun mengangguk. Kami semua kembali kerumah masing-masing. Hingga pada akhirnya aku dan Atun harus berpisah di pertigaan. Aku berjalan sendirian melewati kebun pisang milik Yu Siti.
"Astaghfirullah." aku memejamkan mata dan lekas berlari menuju rumah. Entah mengapa kali ini kebun pisang milik Yu Siti terasa sangat luas, sehingga aku merasa tak sampai-sampai rumah meskipun sudah berlari sekuat tenaga.
"Ka ... kamu siapa?" tanyaku pada sosok pocong berpostur tinggi dan sangat besar yang tiba-tiba muncul di antara pohon pisang tak jauh dari tempat ku berdiri. Gila saja, matahari belum sepenuhnya tenggelam. Namun makhluk itu sudah menampakan wujudnya saja. Aku yang semula berlari kini harus terhenti. Sosok itu hanya diam dan berdiri di antara daun-daun pisang yang sudah mengering.
Lamat-lamat terdengar suara Bapak memanggil namaku. Rupanya Bapak dan Ibu merasa khawatir karena aku belum juga pulang saat surup.
__ADS_1
"Minah, Astaghfirullah. Kamu kemana saja." Bapak menarik tanganku untuk lekas pulang. Ku lihat sosok tadi sudah menghilang. Sambil sesekali menengok ke kebun Yu Siti, aku mengikuti Bapak untuk lekas sampai dirumah.