Teror Pocong Di Desa Pakis Rejo

Teror Pocong Di Desa Pakis Rejo
Suara-suara di Rumah


__ADS_3

Hingga matahari meninggi, kegiatan mengubur kembali makam Mas Samsul belum juga selesai. Padahal tidak sedikit warga yang turun tangan untuk membantu mengurug kembali makam yang jugrug tersebut. Kata Atun, beberapa kali makam di benarkan, makam itu akan kembali jugruk saat warga mulai melangkahkan kaki untuk meninggalkan lokasi makam.


"Aku disana dari pagi, Nah. Belum selesai juga sampai sekarang. Capek aku." tuturnya sambil tangannya memelintir ujung bajunya yang sedikit kumal.


"Kamu disana sama siapa?"


"Sama Bapakku. Tadi juga ikut bantu ngurug makam. Tapi sekarang sudah pulang."


"Katamu belum selesai?"


Atun nyengir, "capek lah, Nah. Gantian sama yang lainnya."


Jujur aku penasaran apa yang terjadi disana. Masa hanya mengubur makam yang jugrug membutuhkan waktu yang begitu lama. Padahal yang mengurug orangnya tidak sedikit. Apalagi tanah di makam tergolong gembur dan tidak berbatu. Jadi mustahil kalau butuh waktu lama untuk menggali ataupun mencangkul tanahnya.


"Mau kemana, Nah?" aku melambaikan tangan pada Atun mengisyaratkan dirinya untuk mengikutiku.


"Kalau mau ikut, ayok." ajakku.


Dari kejauhan tampak beberapa orang yang sedang beristirahat. Ada juga yang berdiri sambil berkacak pinggang. Kepalanya tampak geleng-geleng seperti sedang heran dengan sesuatu. Aku mengajak Atun untuk melihat dari jarak yang lebih dekat.


"Hey, kowe cah cilik do ngopo nang kene? pada pulang sana." usir salah satu warga yang berada di makam. Akhirnya kami lari terbirit-birit sambil tertawa berkelakar karena merasa lucu karena harus di usir gara-gara berkeliaran di makam.

__ADS_1


"Puullaaannggg ..."


Deg


Aku langsung menghentikan guyuran air segar ke tubuh dan memperjelas pendengaran. Sangat jelas yang ku dengar tadi, suara seseorang dengan suara yang berat dan terbata jelas terdengar di dalam kamar mandi.


"Buuu..."


"Ibuuuu..."


Aku berteriak sekencang mungkin memanggil Ibu.


"Opo toh, Nduk? Adus lo bengok-bengok." Ibu menggerutu setiap kali aku berisik saat mandi.


"Kenapa lari-lari." terlihat wajah jengkel Ibu melihatku terburu-buru keluar kamar mandi.


"Bu, Mas Samsul jam segini sudah keluar." ucapku yang membuat Ibu melayangkan cubitan kecil ke tanganku.


"Nggak usah ngawur kalau ngomong." Ibu selalu tak suka kalau aku membahas soal Mas Samsul.


"Bener, Bu. Tadi di kamar mandi Minah dengar ada yang minta pulang." kataku berapi-api.

__ADS_1


"Sudah, sudah. Sana kamu ke kamar ganti baju." Ibu mendorong dorong lenganku untuk bergegas berganti pakaian.


______________


Jarum jam berdenting sebanyak sepuluh kali. Itu artinya sudah sangat malam dan aku seharusnya sudah tertidur. Namun entah mengapa bayangan dan pikiranku berada di makam tadi.


" Apa sudah bisa si urug lagi? Apa mungkin dilakukan cara lain untuk menutupinya?" rasa penasaran berkecamuk di dalam pikiran membuat kepala terasa berat namun mata masih saja tetap segar. Ku lihat Bapak dan Ibu sudah tidur dengan lelapnya.


Prang ...


Klotak ...


Suara berisik terdengar di dapur belakang. Rupanya ada tikus di dalam rumah selama ini.


Aku menggerutu mendengar suara piring dan sendok usai mereka beradu.


"Mengapa suaranya seperti sedang makan?" lambat laun aku menyadari ada sesuatu yang berbeda dengan suaranya. Gemericik air juga terdengar. Mustahil sekali, tidak mungkin tikus akan mencuci kembali piring-piring kotor.


Dan aku hanya mampu mendengarkan saja semua itu beradu. Bahkan gemericik air terdengar nyaring seperti sedang di tuang dan di siramkan ke sebuah benda.


"Aaaaahhhh ..."

__ADS_1


Sontak saja aku terkejut saat tiba-tiba Ibu yang sedang tertidur pulas langsung berteriak.


__ADS_2