Teror Pocong Di Desa Pakis Rejo

Teror Pocong Di Desa Pakis Rejo
Suara Minta Tolong


__ADS_3

"Minah." sapa Atun yang tiba-tiba saja sudah berada di rumahku. Sore itu, entah mengapa rasanya sangat malas untuk pergi bermain. Aku lebih memilih untuk duduk di bale dan menikmati angin sore dari rumah saja Mungkin karena itu Atun mencariku sampai kerumah.


"Dari mana?" tanyaku.


"Tuh." Atun hanya menunjuk dengan jarinya ke sebuah jalan. Kami duduk berdua di bale depan rumah, di bawah sebuah pohon rindang yang menghadap tepat ke halaman rumah Yu Siti.


"Kosong, Nah?"


Aku hanya mengangguk, lalu menghela nafas panjang.


"Kemana?" tanya Atun lagi.


"Pulang ke kampung suaminya."


"Oohh ..." Atun hanya ber oh ria.


Tak ada obrolan lagi antara aku dan Atun, hingga akhirnya dia mulai bercerita terlebih dahulu.


"Kamu tahu ndak kalau Pak Dayat gila?" ucap Atun membuatku terperanjat.


"Sssttt ... jangan begitu, Tun."

__ADS_1


"Beneran, Nah. Pak Dayat seperti depresi. Dan sekarang beliau gila, hilang akal." ucap Atun membuatku setengah gak percaya. Namun mengetahui selama ini cerita Atun yang selalu benar membuatku penasaran untuk mendengar cerita selanjutnya.


"Pak Dayat setiap hari di hantui rasa bersalah karena telah membunuh istrinya. Bahkan dia sering marah-marah dan memaki seolah-olah ada istrinya di hadapannya." ucap Atun.


Atun bercerita panjang lebar mengenai kondisi Pak Dayat yang memprihatinkan. Kasihan memang, namun apa daya. Beliau juga harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah beliau lakukan.


"Kami kata siapa, Nduk?" tiba-tiba saja Ibu muncul dari belakang.


"Eh Budhe Sumi, Atun dengar sendiri dari Pak Sukma. Tadi beliau membahas itu sepulang dari kantor polisi untuk melihat kondisinya." jawab Atun percaya diri.


Ibu hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan dari Atun.


"Terus kamu kalau malam masih suka di datangi Mas Samsul ndak, Tun?" tanyaku membuat Ibu memukul lenganku hingga aku mengaduh kesakitan. Atun yang kutanya hanya tersenyum.


"Ppaaakk ... Bapaaakkk ...


Sayup-sayup terdengar suara parau memanggil-manggil .


"Jahhaaattt ..." lagi, suara itu terdengar lagi. Kali ini suaranya lebih lemah dan dekat membuat bulu kudukku semakin berdiri.


"Ppaaakkk ... tolong, Paakk Tolong saya." kembali terdengar suara memanggil. Kali ini disertai minta tolong.

__ADS_1


Tok ... tok ... tok ...


Pintu depan di ketuk dengan perlahan membuat aku dan Ibu terperanjat.


"Ssiii ... siapa?" Bapak memberanikan diri untuk bertanya. Tak ada jawaban, semua kembali hening seperti sedia kala. Bapak berjalan kedepan dengan mengendap-endap. Beliau ingin tahu siapa yang memanggil dan meminta pertolongan.


"Samsuull ..." terdengar jawaban dari luar rumah membuat aku dan Ibu saling berpelukan. Bapak berjalan perlahan ke arah pintu dan mulai mengintip dari balik pintu untuk melihat sosok sepeerti apa yang sudah mengganggu malam-malam begini.


"Astaghfirullah." terlihat jelas wajah Bapak yang terkejut setelah mengintip dari celah pintu.


Bapak meminta aku dan Ibu untuk tetap berada si ruang tengah.


"Kalian disini saja, ya. Jangan terlalu banyak pikiran. Kalau bisa Minah tidur saja dulu." perintah Bapak. Ibu membawaku ke kamar. Menuruti apa yang Bapak minta. Sedangkn Ibu hanya diam saja dan menurut apa kata Bapak untuk membawaku tidur di kamar.


"Minah takut, Bu." ucapku pada Ibu.


"Minah jangan takut, ya. Ada Bapak dan Ibu disini." bujuk Ibu sambil memelukku.


Detak jarum jam terdengar nyaring. Detik demi detik begitu jelas terdengar saat malam hari.


"Pulaannggg ... aku mau pulaaanngg..." kembali terdengar suara aneh dari luar rumah.

__ADS_1


Aku menutup telinga berharap tak mendengarnya. Namun sepertinya sosok menyebalkan itu sengaja mengeluarkan suara supaya aku mendengarnya.


__ADS_2