Teror Pocong Di Desa Pakis Rejo

Teror Pocong Di Desa Pakis Rejo
Malam Jumat Kliwon


__ADS_3

Budhe Ratmi seperti sudah kehilangan jati dirinya. Bahkan beliau selalu berteriak dan memaki saat pengajian dilaksanakan. Umpatan-umpatan kasar selalu Budhe Ratmi lontarkan pada para santri dan Bapaknya Atun yang sedang membaca doa-doa. Namun rupanya mereka tak terpengaruh dan hanya diam serta fokus pada doa-doa yang mereka baca.


"Budhe Ratmi kenapa, Bu?"


"Ibu tidak tahu, Nduk." bisik Ibu. Kami membantu para santri untuk menyiapkan apa saja yang di perlukan mereka setelah mengaji. Beberapa warga yang rumahnya dekat dengan rumah Pak Dayat juga turut membantu serta berkumpul untuk sekedar ikut berdoa dan mengaji.


Dari luar terdengar teriakan-teriakan Budhe Ratmi. Suaranya yang keras membelah sunyinya malam hari. Lantunan ayat suci dari Al Quran juga mengiringi setiap teriakan dari Budhe Ratmi.


"Kok serem ya, Bu. Budhe Ratmi sampai ngamuk begitu." Ibu hanya terdiam. Matanya menatap lekat ke dalam rumah milik Pak Dayat. Disana tampak adiknya sedang berusaha melawan santri yang membacakan doa untuknya.


"Ojo melu campur urusanku nek ra kepengin ciloko. Wong iki wes dadi budak ku." Budhe Ratmi mengoceh pada para santri. Namun rupanya mereka tetap fokus pada tujuan utama.


Malam yang mencekam bagi warga desa. Bapak menyuruhku dan Ibu untuk pulang terlebih dahulu. Sedangkan Bapak menemani para santri dan juga Bapaknya Atun beserta para warga yang lainnya untuk ikut serta dalam me-Ruqiyah Budhe Ratmi dan juga rumah yang di tempati beliau.


Suara lolongan anjing saling bersahutan memecah kesunyian malam Jumat Kliwon kali ini. Aku dan Ibu berdiam diri dikamar tanpa berusaha untuk tidur. Rasa khawatir menyeruak memikirkan bagaimana keadaan Bapak dan yang lainnya di rumah Budhe Ratmi.


"Minah tidak habis pikir sama Budhe Darmi. Minah kira Budhe Darmi paling sabar dan menerima karena selama ini di dzolimi oleh Kakak tirinya itu." ucapku pada Ibu.


"Manusia memang susah di tebak, Nduk. Makanya kita tidak bisa menilai manusia hanya melalui pandangan mata saja."


"Semoga semuanya cepat berakhir, ya, Bu." Ibu mengangguk. Kami menunggu kepulangan Bapak di kamar tengah. Namun sepertinya belum ada tanda-tanda Bapak akan pulang. Suara dengting jam dinding di ruang tamu sudah menandakan pukul dua belas tengah malam. Namun rupanya Ibu belum juga tidur. Tampak bibir Ibu komat kamit sedang melafalkan sesuatu yang tak ku dengar.


"Tidur, Nduk. Biar Ibu yang menunggu Bapakmu." perintah Ibu yang ku jawab dengan anggukan kepala.


Dug ... dug ... dug ...

__ADS_1


Baru saja aku berniat untuk tidur, tiba-tiba terdengar suara benda tumpul di bentur-benturkan di dinding kamar. Dinding rumah yang masih terbuat dari papan kayu tentu saja masih menimbulkan suara nyaring bila berbenturan dengan benda keras.


"Apa itu, Bu?" aku merapat ke tubuh Ibu. Ibu yang ku tanya hanya diam saja. Namun matanya tampak waspada. Rasa takut tentu saja ada, apalagi Bapak tak berada di rumah saat ini. Bagaimana jika sosok itu tiba-tiba muncul di dalam rumah bahkan di dalam kamar. Aku meremas selimut dan menarik hingga menutupi seluruh tubuh. Namun tidak dengan Ibu, beliau masih diam dan terus melafalkan doa.


Krrriiieeettt ...


Suara pintu terdengar ada yang mendorong dari luar. Tangan Ibu meremas tanganku dengan kuat. Mungkin Ibu memberi tanda untukku supaya tak membuka selimut. Aku yang bersembunyi di balik selimut tak berani bergerak sedikitpun, bahkan untuk menarik napaspun rasanya sangat sulit.


Kkrreeekkk ...


Dipan bagian bawah kaki terasa seperti ada seseorang yang menduduki. Ibu yang memegang tanganku masih menggenggam erat dan tak melepaskannya. Keringat dingin terasa membasahi tangan kami. Rupanya Ibu juga ketakutan. Hanya saja Ibu tak bergerak sama sekali. Mungkin Ibu berpura-pura tidur dan melihat situasi.


Aku mulai terisak. Tak kuat rasanya menahan rasa takut. Ibu semakin menggenggam erat tanganku hingga aku berusaha untuk membungkam mulutku dengan tanganku sendiri untuk mencegah supaya suara tangisku tak lagi terdengar.


Bbrraakkk ...


"Sudah, sudah. Sudah pergi dia." bisik Ibu perlahan. Aku tak mampu berkata apa-apa. Hanya tangisan yang mewakili perasaanku saat ini.


"Bagaimana dengan Bapak dan yang lainnya disana, Bu?" tanyaku saat agak tenang.


"Kita doakan saja semua berjalan lancar dan baik-baik saja." ucap Ibu sambil membelai rambutku.


Dug ... dug ... dug ...


Lagi, terdengar suara cukup keras. Mungkin karena suasana malam yang sunyi membuat suara sekecil apapun terdengar kencang. Kali ini bukan dari benturan. Namun sesuatu yang melompat di tanah dan menjauh dari rumah. Suaranya terdengar seperti di kandang bekas kerbau milik kami. Kadang suaranya terhenti, kadang kembali terdengar. Begitu seterusnya, hingga suara itu benar-benar menghilang dan tak terdengar lagi. Ibu tak seperti Bapak. Beliau lebih memilih untuk tetap diam di tempat tidur bersamaku ketimbang mengintip keluar jendela untuk melihat apa yang ada di luar sana.

__ADS_1


****


Bapak pulang bersamaan dengan suara bedug masjid yang di pukul di susul dengan suara kentongan. Ibu bergegas menghampiri dan menyiapkan air panas untuk minum Bapak.


"Bagaimana, Pak?" tanya Ibu sambil menyerahkan segelas teh pahit untuk Bapak.


"Sebentar lagi akan ada berita lelayu, Bu." ucap Bapak sambil meneguk teh di hadapan beliau.


"Siapa yang meninggal?" aku mendengarkan obrolan Bapak dan Ibu dari dalam kamar.


"Bu Ratmi." jawab Bapak singkat.


"Innalillahi wa innailaihi roji'un." seru Ibu yang ku ikuti dari dalam hati.


"Bagaimana ceritanya, Pak?" rupanya Ibu penasaran dengan kisah kematian Budhe Ratmi. Begitu juga denganku.


"Seperti dugaan kebanyakan orang, Bu. Orang yang bersekutu dengan setan harus menerima akibatnya. Dia di ambil oleh sesembahannya untuk menggantikan tumbal yang tak mampu dia berikan." jelas Bapak.


"Astaghfirullah."


Tak ada lagi obrolan antara Ibu dan Bapak hingga pagi menjelang. Bahkan kedatangan Pak Sukma kerumah untuk memberitakan kematian Bu Ratmi pun sudah tak mengagetkanku. Aku enggan beranjak dari tempat tidur hingga matahari terbit. Sampai Bapak masuk ke kamar dan menghampiriku yang tengah berselimut rapat karena hawa dingin yang ku tahan.


"Minah, kamu sakit, Nduk?" Bapak menyingkap selimut yang ku kenakan. Hawa dingin langsung menusuk ke tulang dan membuatku menggigil kedinginan.


"Minah pusing, Pak." jawabku perlahan. Ibu masuk ke dalam kamar dan meraba dahiku.

__ADS_1


"Kowe demam, Nduk. Wes gak usah sekolah ndisik." ucap Ibu sambil membenarkan posisi selimutku. Beliau keluar kamar dan kembali dengan alat kompres di tangan. Dengan telaten Ibu mengompres dahiku. Sedangkan Bapak menyiapkan sarapan untuk kami. Aku masih menggigil kedinginan, padahal Ibu sudah menutupi seluruh tubuhku dengan selimut.


__ADS_2