
"Masih disini, Budhe?" sapaku pada Budhe Ratmi, adik almarhum Pak Dayat.
"Masih, Nduk." beliau menjawab dengan singkat.
Aneh, biasanya orang kalau ditanya akan kembali bertanya meskipun hanya sekedar basa basi. Apa mungkin karena aku yang bertanya, jadi menurut Budhe Ratmi tak perlu ditanya kembali. Lagi pula aku hanya anak-anak. Aku membatin sendiri dan segera berlalu dari Budhe Ratmi yang tampak sedang menenteng sesuatu.
"Atun, aku nggak mau lagi berenang disana." ungkapku pada Atun yang disambut dengan gelak tawanya yang menjengkelkan. Aku yakin Atun pasti sudah paham apa maksudku makanya dia hanya tertawa tergelak mendengar ucapanku.
"Memangnya kamu di apakan sama penunggu kali, Nah?" tanyanya setelah tawanya mereda.
"Tidak tahu, tapi aku di ikuti sampai rumah." ucapku membuat tawa Atun kembali berderai. Mendengar tawanya yang menjengkelkan aku berdiri dan berniat pergi meninggalkannya.
"Eh, tunggu dulu. Aku belum mendengar ceritamu." Atun menahan tanganku dan terpaksa aku kembali duduk di sebelahnya. Di bawah pohon rindang tempat dimana kami biasanya duduk dan beristirahat setelah mencari melinjo.
"Aku pulang lewat kebun pisang milik Yu Siti. Tapi ada yang aneh waktu aku lewat sana."
"Aneh apanya?" Atun tampak penasaran.
"Kakiku tiba-tiba terasa sangat berat dan berjalan sangat pelan. Bahkan hari cepat sekali menjadi gelap. Bukankah kemarin kita pulang belum terlalu sore?"
__ADS_1
Atun mengangguk-angguk dan tetap menatap ke arahku.
"Di sana aku bertemu dua pocong. Badannya tinggi, dan sangat besar. Tapi sepertinya itu bukan Mas Samsul. Soalnya kan aku sudah hafal bagaimana wujud Mas Samsul." aku melanjutkan cerita.
"Lalu, pocong siapa itu?"
Aku mengangkat bahu. Pandanganku menerawang mengingat sosok yang ku temui kemarin saat tiba di kebun pisang milik Yu Siti yang luas dan rimbun.
"Kamu lihat wajahnya apa tidak?"
Aku menggeleng. Bagaimana mungkin aku melihat saat suasana sudah berubah gelap dan bayangan daun-daun pisang menghalangi pandanganku dari sosok tersebut.
"Bapak datang memanggil. Saat itu aku langsung bisa berjalan seperti semula dan bahkan bisa berlari. Sebelumnya aku tak bisa sama sekali. Rasanya sangat berat dan seperti hanya berjalan si tempat.
Atun terdiam. Ia tak bertanya lebih tentang pertemuanku dengan dua sosok pocong di kebun pisang. Hingga akhirnya kami dikagetkan dengan kedatangan Budhe Ratmi yang tiba-tiba saja muncul tak jauh dari kami.
"Budhe Ratmi mau ngapain itu?" tunjukku pada Atun yang rupanya juga memperhatikan gerak gerik Budhe Ratmi.
"Lihat saja. Kok aneh, ya."
__ADS_1
Kami bersembunyi di balik pohon dan terhalang ilalang yang cukup tinggi untuk ukuran anak-anak kecil seperti kami. Dengan seksama kami memperhatikan gerak gerik Budhe Ratmi yang seolah-olah sedang melakukan sesuatu yang terlarang. Entah apa yang sedang beliau lakukan, namun gerak geriknya membuat kami merasa curiga. Sesekali kami melihat Budhe Ratmi menoleh kesana kemari seolah-olah sedang mengawasi jika saja ada orang yang datang. Dan benar saja, tak begitu lama muncul Pak Soleh membawa karung dan arit. Sontak saja Budhe Ratmi berlari dan bersembunyi setelah sempat menguburkan sesuatu tak jauh dari tempat kami bersembunyi. Bahkan sesuatu yang beliau kuburkan di tutup dengan rerumputan dan sampah kering sehingga tak tampak sama sekali kalau itu bekas galian.
Aku dan Atun memutuskan untuk melihat apa yang di sembunyikan oleh Budhe Ratmi. Namun rasa takut kami mengalahkan rasa penasaran kami.
"Nanti kita tunggu dulu, pastikan kalau Budhe Ratmi sudah jauh dari sini." bisikku perlahan. Aku mengikuti Budhe Ratmi dan memastikan beliau sudah pulang ke rumahnya. Sedangkan Atun menunggu di bawah pohon sambil memperhatikan Pak Soleh yang sedang mencari rumput.
"Aman." aku memberikan kode pada Atun kalau Budhe Ratmi sudah benar-benar tiba di rumahnya. Sedangkan Pak Soleh masih sibuk mencari rumput tak jauh dari tempat dimana tadi kami duduk. Memang biasanya Pak Soleh merumput di sekitar sini. Bahkan kami sering mengobrol saat kami berada di sini di waktu yang bersamaan.
"Pak, Pak Soleh." panggilku pada sosok lelaki bertubuh kurus dan tak terlalu tinggi itu. Orang yang ku panggil menghentikan pekerjaannya dan menoleh ke arah kami. Pak Soleh tampak terkejut saat kami membisikkan maksud kami pada beliau. Dengan cekatan Pak Soleh membongkar kembali tanah yang kami tunjuk sebagai bekas galian dari Budhe Ratmi.
"Kowe podo yakin, Nduk?"
Kami mengangguk kompak. Dengan bantuan arit milik Pak Soleh, dengan cekatan beliau membongkar kembali kuburan kecil yang rata dan tak tampak seperti habis dibongkar.
"Astaghfirullah." begitu kagetnya kami saat melihat sebuah kepala kambing berwarna hitam terbungkus kain kafan putih dan diberi macam-macam bunga dan sebuah botol kecil berisi minyak parfum beraroma sangat menyengat.
"Kita harus bagaimana, Pak?" tanyaku gemetar.
"Apa kita lapor Pak Sukma saja?" Pak Soleh memberikan ide.
__ADS_1
Bergegas kami melaporkan temuan kami pada Pak Sukma. Dengan ditemani Pak Sukma dan Pak Soleh aku ikut kembali ke tempat ditemukannya bungkusan kepala kambing yang di kubur oleh Budhe Ratmi. Aku dan Atun dijadikan sebagai saksi kunci ditemukannya barang tak wajar itu.