
Malam itu, cuaca yang tadinya cerah mendadak menjadi berawan dan terasa lebih dingin. Aku, Ibu dan Budhe Siti yang sudah sembuh sedang duduk-duduk di teras rumah. Sudah seminggu sejak kematian Mas Udin, teror pocong sudah tidak muncul lagi di desa kami. Warga pun juga sudah mulai berani keluar rumah pada malam hari meskipun hanya sekedar duduk di teras rumah mereka. Diterangi oleh cahaya temaram rembulan yang saat itu sedang besar dan bundar, mampu menerangi gelapnya malam.
Kraasaaakkk ... Bluuugghh ...
Kami berjingkat mendengar suara benda jatuh yang menimbulkan suara keras. Bapak yang saat itu berada di dalam rumah berlari keluar rumah menghampiri kami.
"Suara apa itu?" tanya Bapak tiba-tiba.
Kami mengamati sekeliling, rasa trauma karena teror yang melanda hampir dua bulan membuat kami sering merasa was-was saat mendengar suara keras di malam hari. Bapak berjalan menuju kandang kerbau karena tiba-tiba saja kerbau milik Bapak menjadi ribut dan tak mau tenang. Ku lihat Bapak bekerja keras untuk menenangkan kembali kerbau-kerbau miliknya.
"Bappaaakkk ..." panggilku histeris.
"Ppaaakkk ..." namun rupanya Bapak sedang fokus dengan kerbaunya yang terus berisik seperti melihat sesuatu.
__ADS_1
Aku akhirnya memberanikan diri untuk memanggil Bapak dari dekat.
"Ojo narik-narik toh, Nduk?." Aku yang tak sabar karena Bapak berjalan terlalu santai, akhirnya ku tarik tangan Bapak untuk segera kembali ke rumah. Ibu dan Budhe Siti yang tak tahu menahu hanya bengong melihatku seperti itu.
"Lihat itu, Pak." aku menunjuk kesebuah pohon tak jauh dari kandang.
"Astaghfirullah." Sontak membuat kami semua bubar jalan dan kembali masuk kerumah. Begitu juga Budhe Siti yang ikut masuk kedalam rumah kami karena takut dengan penampakan yang berdiri di dekat pohon belakang kandang kerbau
Kami bertiga berkumpul di ruang tengah. Sambil menyesap teh yang Ibu buat untuk kami, tak ada obrolan di antara kita. Semuanya termenung memikirkan akankah teror akan kembali seperti kemarin-kemarin..
Pagi-pagi sekali tetangga sudah heboh dan berkumpul di rumah budhe Siti. Ternyata mereka membicarakan teror yang mulai meresahkan.
"Tapi wujude dewe."
__ADS_1
"Hooh, nanggonku juga"
Ternyata tak hanya di rumahku sosok itu muncul. Seluruh warga membahas tentang munculnya kembali teror yang beberapa waktu itu sudah tak muncul lagi.
"Sepertinya mau pamitan sama kita semua." timpal salah satu warga.
"Waahhh, iya, bisa jadi. Kan selama ini sudah mengganggu. Jadi mungkin sekarang sudah tenang jadi mau pamit."
Aku hanya mendengarkan obrolan mereka. Memang sosok yang semalam tak menunjukan wajah hancur dan menjijikan, melainkan muncul dengan wajah aslinya namun tampak pucat dan ... sedih. Begitulah yang aku amati semalam. Sosok Mas Samsul masih seperti terbebani, belum tenang dan masih muram pada saat muncul di dekat kandang kerbau.
"Tun, kamu percaya kalau Mas Samsul belum selesai urusannya dan masih ada yang mengganjal tentang kematiannya?" tanyaku pada Atun. Atun yang ku tanya hanya mengangkat bahunya sambil terus memetik buah jambu milik keluarganya.
"Semalam dia datang lagi kerumahku. Namun hanya di belakang rumah. Dia tidak mengganggu, hanya menatap kami." ucapku.
__ADS_1
"Dia juga datang ke rumahku, Nah." ucap Atun enteng. Bisa-bisanya anak itu bersikap enteng menghadapi sosok yang menyeramkan.
"Sepertinya polisi sudah menemukan titik terang, Nah. Tadi aku lihat ada mobil polisi banyak di rumah Pak Dayat. ucap Atun membuatku berharap agar kasusnya segera berakhir.