
Sudah seminggu ini Ibu sakit. Teror pocong pun setiap malam masih selalu ada. Hanya saja, karena saking benciku terhadap sosok tersebut, membuatku tak gentar menghadapinya saat ia muncul di rumah. Sama seperti malam-malam sebelumnya. Hari ini pun sosok itu muncul lagi di depan kamar Ibu.
"Astaghfirullah hal adzim." seruku saat hendak keluar kamar untuk mengambilkan air minum untuk Ibu.
"Kowe mrene maneh tak bledug kuburanmu." maki ku sambil menunjukan jariku ke wajahnya yang hitam legam dengan bola mata yang berongga.
Tentu saat sosok itu hanya diam saja. Bahkan tak bergeming sedikitpun dari tempatnya. Aku tetap berlalu ke dapur tanpa memperdulikan sosok itu lagi. Namun saat aku kembali, sosok itu sudah tak ada lagi.
Kali ini mata Ibu selalu terpejam. Jarang sekali membuka mata. Kalaupun membuka mata, pandangan Ibu selalu kosong. Tak ada sepatah atau dua patah yang keluar dari bibirnya. Sakit hatiku saat melihat malaikat pelindungku seperti ini. Kalaupun bisa, bolehlah ditukar denganku.
__ADS_1
Aku menghembuskan nafas kasar. Berulang kali aku melakukan hal yang sama. Sampai pada akhirnya sebuah panggilan lirih terdengar di telinga.
"Bu, Ibu." ku goncangkan tubuh lemah Ibu. Namun tangan Ibu hanya terkulai lemah. Namun nafasnya terlihat lebih cepat.
"Pak, Bapak."
Tiba-tiba saja Ibu menangis dengan keras. Aku dibuat kebingungan dengan tangisan Ibu yang tiba-tiba dan tanpa sebab. Bapak berlari tergopoh-gopoh. Bajunya masih basah oleh peluh karena sedari tadi masih sibuk membesrsihkan kandang kerbau karena karena akan ada orang yang i ngin melihat - lihat kerbau milik Bapak. Bapak terpaksa menjual seluruh kerbaunya karena ingin menemani Ibu yang belum kunjung sembuh.
"Biarkan saja, Pak. Temani saja. Sepertinya beliau ingin melepaskan semua beban pikirannya." nasehat Pak Kyai. Kami menunggu Ibu untuk beberapa saat berharap perasaan Ibu akan lega dan berhenti menangis dengan sendirinya. Ku lihat Bapak dengan sabar dan telaten menemani Ibu dan membisikkan doa-doa dengan lembut.
__ADS_1
Tangis Ibu sudah mereda. Hanya tinggal isak tangis yang masih terdengar sesenggukan.
"Bu." panggilku lirih. Ibu menoleh ke arahku dan tersenyum. Sepertinya Ibu sudah lebih baik. Bahkan Ibu memanggilku untuk mendekat dan di peluknya. Semoga ini buka sebuah pelukan perpisahan. Rasanya tak sanggup bila semua itu terjadi.
Aku tak berani banyak bertanya. Melihat Ibu yang sudah mau merespon keberadaan kami saja aku sudah sangat senang. Sesekali ku lihat Ibu tersenyum mendengar nasehat Pak Kyai.
_____________
Ibu sudah kembali seperti semula. Tak pernah ada tatapan kosong atau apapun. Meskipun kadang setiap malam sosok itu muncul, Ibu terlihat lebih tegar untuk mengabaikannya. Bahkan tak jarang Ibu memaki bila sosok itu muncul dengan wujud yang menyeramkan secara tiba-tiba.
__ADS_1
Kini warga desa juga sudah mulai terbiasa. Hanya pengajian rutin yang di adakan sukarela oleh warga untuk para almarhum supaya tenang di alamnya dan berhenti mengganggu seluruh warga. Yu Siti pun kini sudah tak pernah lagi kembali ke desa ini. Kabarnya mertuanya meminta beliau untuk menetap disana, sehingga rumah yang berada di desa ini di bongkar. Pak Dayat pun di kabarkan depresi berat. Namun desas desus mengatakan, bahwa Pak Dayat yang sengaja menumbalkan anaknya sebagai tumbal untuk kekayaannya. Meskipun di luar terlihat sederhana, namun rupanya harga Pak Dayat begitu banyak. Bahkan dikabarkan, istrinya juga di bunuh sebagai tumbal juga.