
"Kamu kenapa lagi, Nah?" tanya Atun saat mampir kerumah sepulang sekolah.
"Tidak apa-apa, Tun. Biasa, kaget." jawabku parau.
"Hhhmmm ... ku kira kamu sudah tahan banting, Nah. Ternyata masih sama saja." ledek Atun membuatku sedikit jengkel dengan candaannya.
"Bayangkan saja, tidur di temani sama pocong di sini. Nih, dibawah sini." tunjukku pada bagian kaki.
"Hahahahaha ... la itu yang di pojokan kok kamu tidak takut?" ucapan Atun seketika membuat bulu kudukku meremang.
"Yang benar, Tun? Mana? Siapa?" tanyaku membuat Atun terkekeh geli.
"Ngapusi, ya?" aku melemparkan bantal ke arah Atun.
****
Sudah hampir tengah hari namun Ibu belum juga sampai di rumah. Padahal tadi Ibu berjanji tidak akan sampai selesai acara pemakaman Budhe Ratmi. Aku memilih untuk keluar dan menunggu Ibu di bale depan rumah. Enggan rasanya untuk tetap menunggu di dalam kamar mengingat kejadian semalam. Apalagi guyonan Atun tadi masih membuatku berpikir macam-macam. Meskipun niatnya hanya bercanda namun bagiku seperti nyata.
"Ah, Atun kurang ajar. Sudah tahu aku sakit gara-gara setan, malah ini ditambah lagi dengan omongan soal setan." gerutuku sambil menghempaskan tubuh di bale.
"Sudah sembuh, Nduk?" Ibu mengagetkanku.
"Ibu lama sekali. Tadi katanya mau sebentar saja."rengekku.
"Iya, Nduk. Tadi masih ada yang perlu di urus. Jadi Ibu tidak bisa langsung pulang."
"Kamu sudah sehat?" tanya Ibu sambil tangan beliau meraba ke dahi.
"Lumayan, Bu. Tadi Atun juga kesini. Tapi sebentar." jawabku lemah. Badanku yang masih terasa lemas dan terasa dingin membuatku sesekali meringis menahan ngilu di sekujur tubuh.
__ADS_1
"Masuk, Nduk." ajak Ibu.
Sampai sore Bapak pun juga belum pulang kerumah. Ibu juga tampak gelisah. Sedari tadi aku lihat Ibu sudah beberapa kali mondar mandir keluar masuk rumah dan melihat ke sisi jalan. Aku yakin pasti Ibu sedang menunggu Bapak.
"Minah susulin Bapak saja, ya, Bu." usulku.
"Ojo, Nduk. Kowe nangumah wae." tolak Ibu cepat.
"Minah sudah sehat, Bu. Sekalian Minah mau kerumah Atun."
"Di rumah saja, Nduk. Ibu yakin Atun juga tidak ada di rumah. Dia pasti ikut Bapaknya dan para santri ke rumah Pak Dayat." jawab Ibu membuatku mengerutkan dahi.
"Untuk apa?" tanyaku membuat Ibu terdiam. Tampaknya Ibu ragu untuk memberi tahu.
"Bukan apa-apa. Hanya untuk mengadakan tahlilan saja di rumah beliau."
Dari jauh tampak Bapak berjalan beriringan dengan Pak Sukma. Terlihat mereka sambil mengobrol cukup serius entah apa yang mereka bahas.
"Monggo, Pak. Pinarak rumiyen." tawar Bapak pada Pak Sukma yang di tolak dengan halus oleh beliau dengan alasan sudah sore.
Selepas Maghrib, Ibu dan Bapak mengajakku untuk ikut pengajian di rumah Pak Dayat. Rupanya disana juga ada Atun bersama Bapaknya dan santrinya. Pak Kyai juga turut serta untuk mengadakan pengajian.
"Loh, itu ada Pak Kyai, Bu." ucapku menunjuk ke sosok yang cukup di segani di kampung kami. Hanya saja, beberapa waktu lalu Pak Kyai sempat pergi ke daerah asalnya dikarenakan salah satu orang tuanya meninggal dunia.
"Minah." Atun berlari menghampiri kemudian tanganku di seretnya untuk di ajaknya duduk agak menjauh dari kerumunan beberapa santri yang akan mengaji.
"Kamu mau tahu rahasia tidak?" bisiknya di telinga.
"Apa?"
__ADS_1
"Mayat Budhe Ratmi tidak di kuburkan di dalam tanah. Tapi di atas tanah." bisik Atun membuatku terkejut.
"Jangan sembarangan kami, Tun. Baru sehari meninggal, arwahnya masih di sekitar kita." ucapku setengah takut.
"Iya, la itu di belakang sana." tunjuk Atun pada sebuah sosok perempuan di dekat jendela kayu agak menjauh dari penerangan bohlam lampu kecil berkisar 5 watt.
"Astaghfirullah." aku terperanjat melihat sosok itu berdiri dan menatap lekat ke arah para tamu yang hadir di rumahnya.
"Tadi tanah kuburannya tak bisa di gali. Sering gugruk dan banyak bebatuan. Makanya cuma di taruh di atas tanah saja." jelas Atun kembali.
"La kenapa tidak pindah lokasi?" tanyaku penasaran.
"Sudah tiga kali pindah. Tapi tetap sama." jelas Atun sambil matanya sesekali melihat ke arah sosok yang masih berdiri tegak di sana. Aku pun sama. Sesekali mataku melirik ke arahnya dengan degub jantung yang tidak beraturan. Kepalaku tertunduk manakala tatapan mata kami beradu tanpa sengaja. Badanku gemetar hebat dan jantungku serasa berhenti mendadak saat mata merah itu menatap ganti ke arahku. Tubuhku terasa kaku dan kakiku terasa lunglai hingga tanpa sadar tubuhku ambruk dan lemas begitu saja di tanah. Atun berteriak memanggil Ibuku sehingga membuat beliau langsung berlari menghampiri. Diangkatnya tubuhku dan di dudukkan di bale tak jauh dari tempat kami berdiri.
"Masih pusing, Nduk?" tanya Ibu lembut.
"Ada Budhe Ratmi disana, Bu." tunjukku pada sebuah tempat dimana tadi sosok itu berada. Namun sosok yang ku maksud telah menghilang. Ibu melihat ke arah Atun, mungkin untuk memastikan kebenaran ucapanku. Atun mengangguk. Ibu menarik nafas panjang dan membuangnya dengan kasar.
"Kita mau pulang saja?" tanya Ibu yang langsung ku jawab dengan gelengan kepala. Aku takut kalau nantinya di rumah Budhe Ratmi akan mengikuti kami sampai rumah juga. Tak bisa di bayangkan apabila Budhe Ratmi ikut pulang kerumah bersama sosok pocong juga seperti tadi malam.
"Yasudah. Kamu disini saja dulu sama Atun. Ibu mau bantu-bantu yang lain menyiapkan makanan untuk yang ngaji." ucap Ibu.
Para warga memberikan bantuan berupa konsumsi sekedarnya untuk menghormati Pak Kyai dan para santri yang akan mendoakan kepergian keluarga Pak Dayat. Meskipun tak ada hubungan keluarga, namun rasa kemanusiaan dan kekeluargaan di desa kami masih sangat kental. Mereka akan bergotong royong saling membantu bila ada salah satu warga tertimpa musibah atau kesusahan, meskipun kondisi kami para warga desa tak jauh berbeda satu sama lain.
"Kita baca doa surat-surat pendek sana, Nah. Jangan fokus kesana kemari mencari yang tidak ada." perintah Atun. Lagi pula aku tak mau kalau harus melihat sosok menakutkan itu lagi selama disini.
Pengajian sudah di mulai. Ibu dan beberapa Ibu-ibu lainnya yang turut membantu ikut duduk di bale dimana aku dan Atun sedang menunggu. Lantunan ayat suci Al Quran terdengar nyaring dan syahdu mengiringi suasana malam yang semakin larut. Sesekali aku mengikuti bacaan yang ku hafal. Sedangkan Atun, dia hafal keseluruhan dari apa yang Pak Kyai baca. Tak mengherankan memang, Atun setiap hari di ajarkan mengaji oleh Bapaknya di rumah. Rasanya aku pun juga ingin ikut mengaji dan menghafal banyak surat-surat di dalam Al Quran. Besok kalau keadaan sudah memungkinkan, aku ingin menyampaikan niatku pada Bapak dan Ibu.
Bllluuuggg ...
__ADS_1
Suara benda jatuh terdengar nyaring membuat kami semua yang berada di bale berjingkat karena kaget dan terkejut. Seketika kami semua menoleh ke sumber suara.