
Hampir semua Ibu-ibu yang sedang duduk di bale bangkit dan berlarian masuk ke dalam rumah. Padahal di dalam sedang di adakan pengajian, namun mereka tetap menerobos masuk dan membuat geger para santri yang mengaji. Beberapa laki-laki keluar untuk memeriksa apa yang terjadi. Sedangkan aku, Ibu dan Atun tetap berdiri tak jauh dari bale. Aku memeluk erat lengan Ibu. Sedangkan Atun tetap berdiri tegar tanpa gentar. Hanya saja tangan Ibu menggandeng erat tangan Atun.
"Pak." panggilku saat melihat Bapak di salah satu pria yang keluar dari rumah Pak Dayat. Beberapa santri juga ikut keluar dan mendekat.
Sosok pocong tinggi dan besar tiba-tiba saja muncul entah terjatuh dari mana. Hal itu yang membuat beberapa wanita lari terbirit-birit dan lari meninggalkan bale tempat kami duduk tadi.
"Astaghfirullah hal'adzim."
Bapak menarik tanganku dan Ibu untuk menjauh. Atun mundur mendekat kepada Bapaknya.
"Kalian masuk saja. Biar ini kami yang tangani." ucap Pak Kyai yang tiba-tiba saja sudah muncul dari belakang kami di iringi para santri lainnya.
Entah apa yang terjadi di luar sana. Namun sepertinya cukup mencekam. Terdengar dari beberapa suara teriakan yang mungkin berasal dari santri atau entah dari mana.
"Bu, Minah takut." ucapku lirih.
"Baca surat-surat pendek yang kamu tahu, Nah. Jangan takut begitu. Mereka sedang berusaha." nasihat Atun. Ku lihat dia memang begitu kuat dan tegar. Bahkan dari raut wajahnya pun tak tampak sedikitpun rasa takut. Berbeda denganku. Meskipun kadang aku terlihat tegar, namun sebenarnya masih ada rasa takut yang tersimpan. Ibu berusaha menguatkan, namun aku tahu bahwa Ibu juga sama takutnya denganku. Hanya saja, beliau menyimpan rasa takut itu dalam-dalam.
"Bruuukkk ... pprraaannggg ..."
Meja tempat meletakkan suguhan untuk para santri yang mengaji tiba-tiba saja roboh. Padahal meja yang di gunakan untuk meletakkan piring-piring yang terbuat dari seng itu masih terlihat kuat dan kokoh. Bahkan tak sedikitpun tampak kerapuhan pada kaki-kakinya.
"Apa itu?"
__ADS_1
Serempak saja kami menoleh ke sumber suara. Ibu mendekat untuk memeriksa.
"Ayo, bantu bereskan semua ini." pinta Ibu. Beberapa orang tua membantu Ibu membereskan makanan yang tumpah. Untung saja minuman masih di letakkan di teko dan sudah di suguhkan untuk para santri.
"Aku njaluk tulung. Bebasno aku. Aku kesel, aku pengen bali." tiba-tiba terdengar suara seseorang menangis dengan kencang sambil berbicara meminta pertolongan.
"Sopo sing wes gawe awakmy koyo iki?" terdengar suara seseorang menimpali.
Kami yang di dalam rumah mendengarkan setiap suara yang terdengar di luar. Hanya saja kami tak berani keluar karena memang sebelumnya sudah di wanti-wanti untuk tidak mendekat ke lokasi dimana sosok menyeramkan tadi muncul.
"Sepertinya pocong itu sedang meminta tolong pada Pak Kyai." ucap Atun.
"Minta tolong untuk apa?" tanyaku penasaran.
"Dibebaskan dari mana?" aku belum mengerti dengan apa yang sahabatku itu bicarakan.
"Mereka dibuat mati oleh keluarganya sendiri. Di jadikan tumbal, dan jiwanya masih terperangkap di alam lain sebagai jaminan."
"Lalu, mengapa mereka berkeliaran dengan wujud seperti itu? Bukankah itu malah meresahkan warga, bukannya malah tidak ada satupun yang mau menolong." tanyaku penasaran.
"Aku juga tidak tahu, Nah. Tapi sepertinya seperti itu. Lagi pula mereka kan tidak bersalah. Jadi mereka ingin dibebaskan dan ingin pergi dengan tenang. Sepertinya begitu." ucap Atun membuatku mengangguk-angguk meskipun tak mengerti. Ibu hanya diam saja. Beliau mengamati apa yang terjadi di luar melalui celah yang ada di pintu rumah Pak Dayat.
Suasana diluar mencekam. Pak Kyai terdengar mengobrol dengan seseorang dengan pembicaraan yang sulit ku pahami. Bahkan banyak doa yang beliau bacakan. Kadang suara tangisan terdengar memilukan bagi siapa saja yang mendengar, kadang terdengar suara tawa yang mengerikan, yang mampu membuat bulu kuduk siapa saja yang mendengarnya berdiri dan gemetar. Suara anjing melolong bergantian, bersahut-sahutan menambah suasana menjadi lebih mencekam.
__ADS_1
Aku melihat beberapa Ibu-ibu duduk di tikar saling berdempetan. Semuanya terdiam, tak ada yang bersuara sedikitpun. Kadang hanya isak tangis yang terdengar seolah di tahan supaya tak menimbulkan suara berisik dari luar sana.
"Aku sudah lelah dengan semua ini." tiba-tiba salah seorang diantara mereka bersuara.
"Sabar, Mbakyu. Semua pasti akan berlalu." bujuk Ibu pada wanita itu. Isak tangisnya mulai terdengar. Rupanya beliau sangat syok dan takut dengan semua ini.
"Aku lelah, Mbak. Setiap hari harus merasakan hidup tak tenang kalau malam sudah datang. Bahkan suami saya yang biasanya bisa pergi mencari lauk setiap malam untuk kami makan, sekarang sudah tak bisa lagi. Padahal mencari ikan itu bisa mengurangi beban kebutuhan kami. Bisa untuk menambah asupan gizi anak-anak kami." ucapnya membuat kami semua turut prihatin.
Wajar saja kalau Ibu itu merasa bersedih. Suaminya bekerja di persawahan milik orang lain setiap harinya. Sedangkan upah menjadi buruh di sawah orang lain tidaklah banyak. Bahkan hanya musim panen saja beliau bisa mendapatkan penghasilan dari membantu memanen padi dengan sistem bagi hasil. Sedangkan malam hari, biasanya suaminya mencari ikan di sungai. Selain untuk lauk, ikan yang di dapat sering di jual ke pasar atau di jajakan keliling kepada para tetangga.
"Semua juga merasakan, Mbakyu. Saya pun juga sama. Mbakyu tahu, kan? Bahkan kini saya sudah tak memiliki kerbau lagi. Bapaknya Minah hanya bekerja di ladang yang hasilnya juga sama seperti panjengengan." Ibu berusaha menghibur. Aku hanya terdiam mendengarkan semua itu. Ternyata bukan hanya aku yang mendapat teror dari pocong tersebut. Namun hampir seluruh warga sudah pernah merasakannya.
"Kita bantu Pak Kyai dengan doa saja, ya." Ibu memberi nasehat pada semuanya.
Bbrruuggg ...
Tiba-tiba saja salah seorang dari Ibu-ibu itu terjatuh. Ibu dan yang lainnya bergegas membantu merebahkannya di tikar. Rupanya beliau pingsan. Mungkin karena terlalu takut atau syok dengan kejadian ini. Aku membantu memijat kakinya, ada yang mengambilkan air hangat untuk beliau, ada yang mengoleskan balsam di telapak kaki dan meletakkan sediikit di hidung supaya lekas sadar. Namun sepertinya beliau sangat syok, bahkan hingga hampir setengah jam belum sadar juga. Kami semua tentu saja merasa panik. Bahkan tak ada satupun pria di dalam rumah Pak Dayat yang bisa dimintai pertolongan untuk menyadarkan Ibu-ibu yang pingsan tersebut.
"*Balek e taliku nang umahku. Taliku ilang, sopo sing njupuk taliku."
Aaaaaahhhh* ....
Sontak saja semua yang berada di dekatnya menjauh saat Ibu yang pingsan tadi tiba-tiba saja berbicara dengan mata terpejam. Bahkan apa yang di ucapkannya membuat kami semua merinding di buatnya.
__ADS_1