
Terdengar suara Yu Siti berteriak. Sepertinya beliau sedang memaki sesuatu.
"Lungo kowe, kurang ajar,ya, ganggu wong tua." sepertinya Yu Siti sedang memaki seseorang. Terdengar beberapa kali beliau mengusir orang itu untuk pergi dari rumahnya.
Bapak memberanikan diri untuk keluar melalui pintu belakang menuju rumah Yu Siti. Aku dan Ibu mengikutinya dari belakang.
"Yu, Yu Siti." berkali-kali Ibu menggedor pintu Yu Siti namun tak kunjung di bukakan.
"Sepertinya Yu Siti ada di depan." ucap Bapak. Kami bergegas menuju depan rumah. Di sana tampak Yu Siti yang sedang duduk lemas di lantai dengan wajah memerah menahan amarah.
"Yu, istighfar. Kenapa, Yu?" Ibu mengguncang-guncang tubuh Yu Siti. Sedangkan Pakdhe Trisno berdiri tak jauh dari istrinya.
"Yu Siti kenapa, Kang?" tanya Ibu pada Pakdhe Trisno.
"Ndak tahu aku, Sum. Coba nanti kita tanya kalau Siti sudah lega." Pakdhe Trisno memberikan segelas air putih untuk istrinya.
__ADS_1
"Kesel aku, Sum. Aku ra duwe salah opo-opo bendino di tekani wae. jengkel aku suwi-suwi. Bukane wedi malah muak." Yu Siti berbicara dengan memaki dan menunjuk-nunjuk ke arah luar dengan telunjuknya.
"Sopo?"
"Sopo maneh nek uduk pocong ra duwe adab. Wanine kok karo wong tua. Mrene maneh sesok tak bleduk kuburane."
" Sabar, Yu, sabar." Ibu menepuk-nepuk perlahan bahu Yu Siti. Sedangkan Mbok Darmi, kakak dari Yu Siti tampak tergopoh-gopoh berjalan setengah berlari menuju rumah adiknya.
"Ono opo? Kok ramen bengi-bengi." Mbok Darmi kebingungan saat melihat adiknya duduk di tanah dan bersandar pada pintu.
"Kamu apakan adik ku, hah?" Mbok Darmi memukul lengan Pakdhe Trisno.
Ibu memberikan penjelasan pada Mbok Darmi tentang apa yang terjadi di rumah Yu Siti.
"Aku juga heran, sudah empat puluh hari lebih kok masih kelayapan."
__ADS_1
"Kasihan aku sebenarnya sama itu anak. Mati tapi tidak ada yang mendoakan. Ibunya meninggal, Bapaknya sekarang malah jadi gila."ucap Mbok Darmi membuat Ibu terbelalak.
"Lah, tenanan stres toh Mbok?"
"Hooh. Setiap hari yang di ingat hanya nama anak dan istrinya saja.
Akhirnya kami bertiga menginap di rumah Yu Siti. Begitu juga Mbok Darmi yang memilih untuk tetap tinggal di rumah adiknya ketimbang pulang lagi kerumahnya. Sedangkan Bapak memilih untuk tetap terjaga bersama Pakdhe Trisno dan menjaga kami supaya bisa istirahat.
Lagi pula Yu Siti besok sudah akan kembali lagi kerumah mertuanya di kampung. Beliau ke desa ini hanya berniat untuk menemui seseorang yang katanya masih ada urusan dengannya dan ingin menyelesaikannya terlebih dahulu.
_________.
"Minah." Atun berlari tergopoh-gopoh. Rambutnya yang panjang dan di kuncir kuda membuatnya bergerak kesana kemari saat berlari. Beberapa anak yang lainnya juga tampak dari kejauhan berjalan bersama untuk menuju sekolah Dasar tersekat di desa kami.
"Kelanjutan kasusnya besok seperti apa ya, Tun." pancingku supaya Atun kembali ceriwis dan ceria seperrti dulu.
__ADS_1
"Ndak tahu, Nah. Tapi semoga saja segera selesai. Dan Mas Samsul cepat tenang di alamnya tanpa gentayangan kemana mana lagi. Berharap Mas Samsul bisa bahagia bersama teman-temannya yang lainnya disana." ucap Atun membuatku dan yang lainnya tertawa mendengar ocehannya.
Andai saja semuanya normal. Pasti kami setiap malam bisa bermain bersama dengan di temani oleh cahaya rembulan dan mengantri mengaji di surau bersama-sama.