
Kabar kematian keluarga Pak Dayat sudah sampai ke seluruh penduduk desa. Bahkan warga dari luar desa juga mengetahuinya. Kabar yang terdengar di pasar bahwa Pak Dayat tega menghabisi nyawa keluarganya untuk di jadikan tumbal pesugihan pun kian santer dan memanas.
"Kok tega sekali ya orang tua numbalin anaknya demi harta."
Begitulah desas desus yang santer terdengar di telinga. Bapak yang mendengar semua itu di pasar hanya diam saja. Ikut berkomentar sama saja ikut menghakimi keluarga korban yang kebenarannya saja tidak pernah di ketahui. Ternyata, Pak Dayat di hukum mati karena pengakuan-pengakuan yang sering beliau ucapkan selama berhalusinasi. Entah itu memang benar yang beliau lakukan, atau hanya rasa bersalah karena ditinggalkan oleh orang-orang terkasihnya secara bertubi-tubi.
"Bapak merasa kasian sama Pak Dayat, Bu." Bapak menghela nafas kasar.
"Iya, Pak. Ibu juga merasakan hal yang sama. Mana katanya kondisi terakhir Pak Dayat memprihatinkan."
Aku yang mendengar hanya diam saja. Aku tak ingin ikut berkomentar takut ada salah kata malah membuat pocong Mas Samsul muncul lagi di rumah membawa keluarganya. Aku bergidik ngeri membayangkannya.
"Kamu kenapa, Nduk?"
__ADS_1
"Hah?" aku menoleh ke arah Ibu.
"Itu tadi kok gelisah sendiri Ibu lihat."
Aku hanya bisa nyengir mendengar pertanyaan Ibu. Entah apa yang akan Ibu lakukan padaku jika saja tahu apa yang sedang ku pikirkan.
"Ditanya malah cengar cengir sendiri." Ibu mendengus kesal, sedangkan aku hanya garuk-garuk kepala yang tak gatal.
Siang itu di gegerkan dengan datangnya beberapa orang ke rumah keluarga Pak Dayat. Mereka mengaku sebagai kerabat dan ingin mengambil barang-barang milik keluarga Pak Dayat. Mereka bermaksud untuk menjadikan barang-barang itu menjadi lebih bermanfaat.
"Selama ini Pak Dayat tak pernah kedatangan kerabat dekat." ucap beberapa warga yang lainnya.
Meski sudah dilarang oleh warga, namun mereka tetap kekeh untuk membawa barang-barang milik Pak Dayat. Sepeda onthel, radio, dan beberapa perkakas yang masih terlihat bagus mereka angkut menggunakan gerobak. Pak Dayat ternyata memiliki banyak barang-barang bagus di rumahnya. Padahal jika dilihat dari sehari-hari mereka tampak biasa dan sederhana.
__ADS_1
"Bilang sama Pak Kades. Cepat." terdengar salah satu warga meminta seseorang untuk memanggil Pak Kades untuk menyelesaikan masalah ini. Apalagi selama ini tak pernah terlihat ada kerabat datang berkunjung atau menginap selama Pak Dayat mengalami musibah bertubi-tubi. Hanya beberapa orang kerabat yang rumahnya tak begitu jauh yang datang untuk acara pemakaman Samsul, Bu Dayat dan Pak Dayat sendiri. Namun tak pernah ada ucapan ingin mengambil barang-barang peninggalan keluarga almarhum untuk di bagikan ke kerabat yang lainnya.
Tergopoh-gopoh Pak Kades muncul dengan ditemani beberapa orang dan perangkat desa.
"Ini ada apa?" Pak Kades kebingungan melihat barang-barang milih Pak Dayat sudah banyak yang berpindah tempat.
Salah satu dari mereka menghentikan aktifitasnya dan menjelaskan maksud kedatangan mereka pada Pak Kades.
"Waduh, kalau masalah ini sebenarnya saya tidak bisa ikut campur. Ini masalah keluarga kalian. Tapi apa tidak sebaiknya di rembug dulu dengan anggota keluarga yang lainnya? bujuk Pak Kades.
"Halaahh ... Kami ini Kakaknya Dayat. Meskipun bukan Kakak kandung tapi kami juga punya hak untuk semua ini. Lagian untuk apa semua ini dibiarkan begitu saja. Toh tidak akan terpakai lagi. Tak mungkin Dayat akan bersepeda, atau mendengarkan radio. Apalagi semua perkakas ini. Tak mungkinlah mereka akan kembali dan menggunakan semua ini." bantah salah satu pria berbadan besar.
"Tapi setahu saya, Pak Dayat memiliki saudara kandung juga." ucap Pak Kades yang terus dibantah oleh mereka. Mereka tetap saja keras kepala dan memaksa untuk mengangkut semua barang-barang itu.
__ADS_1
Maafkan author yang muncul penyakit malasnya yaaaa .... Author juga lagi sibuk dengan banyak pekerjaan, jadi kumat malesnya kalau sudah lelah 🤠kali ini akan mencoba kembali konsisten untuk tetap update demi kalian yang setia menanti kelanjutan ceritanya 🥰🥰