Teror Pocong Di Desa Pakis Rejo

Teror Pocong Di Desa Pakis Rejo
Di ikuti Sampai Rumah


__ADS_3

Aku terdiam dan tak berani menjawab manakala omelan Ibu bertubi-tubi beliau lontarkan kepadaku. Memang benar semua ini salahku. Terlalu betah bermain hingga tak mengenal waktu. Hanya saja, tadi belum sepetang saat aku pulang. Tadi suasana masih terlihat terang. Namun, saat melewati kebun pisang milik Yu Siti, kakiku terasa sangat pelan dan berat untuk berjalan. Sehingga rasanya waktu sangat cepat berputar dan matahari terasa sangat cepat menghilang.


"Iya, Bu. Minah salah. Minah minta maaf." ucapku perlahan yang sejatinya masih bimbang memikirkan kejadian tadi.


Aki menghela nafas kasar. Sambil menggenggam gelas teh hangat aku duduk merenung menghadap ke lampu teplok yang memancarkan api kecilnya. Ku amati setiap gerakan api yang seolah bergoyang perlahan dalam kurungan kaca guna menghindari terpaan angin yang bisa memadamkan sewaktu-waktu.


"Mikir apa, Nduk?" Bapak menepuk pundakku. Aku menghembuskan nafas kasar. Tak jauh dari tempat kami duduk, Ibu juga duduk dan sibuk menata bungkusan emping yang akan beliau jajakan esok hari di pasar.


"Bapak tahu? Tadi Minah pulang tidak terlalu sore. Hanya saja ..." aku tak melanjutkan ceritaku. Takut Ibu marah lagi dan tak percaya dengan ucapanku.


"Ada apa? Tidak biasanya kamu pergi main sampai lupa waktu."

__ADS_1


"Tadi sewaktu Minah melewati kebun pisang milik Yu Siti, kaki Minah mendadak berat dan susah untuk berjalan. Seolah-olah Minah hanya berjalan merayap tidak lebih cepat dari kura-kura." ucapku sungguh-sungguh. Bapak mengernyitkan dahi. Begitu juga dengan Ibu. Tampaknya beliau enggak memarahiku lagi. Ibu malah menoleh ke arahku dan mendengarkan ceritaku.


"Terus, mengapa Minah bisa pulang sesore itu?" Bapak bertanya kembali.


"Itu dia, Pak. Tadi berhubung kaki Minah berat untuk berjalan, rasanya Minah berjalan sangaaattt pelan. Saking pelannya tahu-tahu matahari sudah tenggelam dan gelap. Terus tadi disana ..." aku bergidik mengingat sosok yang kutemui tadi di perjalanan. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri guna memastikan makhluk itu tak mengikutinya sampai rumah.


"Tadi kenapa?" kali ini Ibu ikut menimpali ceritaku.


"Ta ... tadi, Minah ketemu pocong besar dan tinggi disana." ucapku membuat Bapak dan Ibu kaget.


"Minah tidak bohong, Bu. Tadi Minah sungguh-sungguh bertemu pocong disana."

__ADS_1


Kami semua terdiam. Tak ada yang berani bersuara hingga sebuah suara seperti tendangan keras terdengar di pintu depan. Aku melonjak dan lompat di pangkuan Ibu.


"Astaghfirullah, Minah." Ibu melotot karena aku langsung melompat tanpa aba-aba membuat tubuh Ibu oleng dan hampir roboh.


"Minah kaget, Bu." ucapku enteng sambil nyengir membuat Ibu secara spontan mencubit pahaku.


"Kamu yang bawa pulang itu, Nduk." ucap Bapak tersenyum. Meskipun takut, namun kami seperti sudah terbiasa dengan teror yang suka muncul tiba-tiba. Semua itu sudah tak membuat kami terlalu takut meskipun kadang masih suka terkejut saat sosok itu muncul di dalam rumah.


"Itu sepertinya bukan Mas Samsul, Pak." bisikku sambil terus memeluk tubuh Ibu.


Pllaaakkk ... sebuah pukulan keras mendarat di paha kananku. Aku meringis sambil mengusap-usap bekas pukulan Ibu yang terasa panas dan nyeri.

__ADS_1


Untung saja sosok itu tak ikut masuk ke rumah. Aku menerawang membayangkan sosok yang tadi ku temui di kebun pisang. Terdengar suara dengkuran Ibu yang terlihat sangat lelah. Aku memiringkan tubuh menghadap Ibu dan memeluk tangannya.


"Maafkan Minah yang membuat Ibu kesal hari ini, Bu." bisikku sebelum tidur.


__ADS_2