
Setelah tali pocong yang kami temukan dirumah diberikan pada Pak Sukma, tali itu selanjutnya diberikan kepada Pak Kyai. Untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan, Pak Kyai menyimpan tali itu untuk berjaga-jaga. Namun tak disangka kini malah ada masalah baru. Ditemukannya jenazah tak jauh dari rumahku, membuat kami bertanya-tanya. Untuk apa laki-laki itu berada disekitar rumah. Apa laki-laki itu benar-benar mengincarku?
"Tadi mayatnya kok serem ya, Bu."
"Heeh, Nduk." Ibu bergidik ngeri saat membayangkan kondisi mayat yang ditemukan tadi. Dengan mata melotot dan lidah terjulur. Bibir menghitam dan tangan terpelintir seperti ada yang mematahkan. Dan banyak darah di bagian sisi kepala.
"Meninggalnya ndak wajar lagi. Mudah"an desa kita tidak tambah horor ya, Bu." aku tak bisa bayangkan bila ada dua hantu yang meneror karena kematian mereka yang tak wajar.
Malam ini kami sekeluarga tak ada yang bisa tidur. Bayangan wajah mayat tadi masih tampak jelas di pelupuk mata. Kematian yang tragis dan menyeramkan. Anehnya mengapa tak ada satupun yang mendengar suara orang minta tolong atau suara mencurigakan apapun sebelum mayat itu ditemukan.
__________
__ADS_1
Kebetulan saat ini hari minggu, aku memilih untuk ikut Ibu ke pasar. Tampaknya berita soal ditemukan mayat semalam sudah menyebar ne seluruh desa. Buktinya saja banyak cerita kesana kemari menceritakan tentang mayat yang katanya benar-benar Mas Udin anak Pak Lurah. Dimana Mas Udin itu adalah pacar Mba Ayu yang dulunya merupakan teman dekat Mas Samsul.
"*Jarene si Udin yo, Yu?"
"Kayane, Yu. Soale mirip banget."
"Le mateni terus dibuang nangarep umahe Kang Kusno*."
"Bu, apa menurut Ibu yang semalam juga Mas Udin?" tanyaku karena menurutku juga sama seperti mereka.
"Hhhmmm, Ibu tidak tahu, Nduk."
__ADS_1
________
Malam ini genap empat puluh hari kematian Mas Samsul. Dengar-dengar Pak Dayat akan mengadakan pengajian untuk putra dan istrinya. Semua warga berharap teror akan segera berhenti dan desa kembali tenang.
Para warga berbondong-bondong membantu Pak Dayat dalam menyiapkan segala sesuatunya.
"Kang Min, aku nitip air sebentar, ya. Mau kebelakang." ucap Kang Nandar seseorang yang membantu menyiapkan air panas untuk para tamu yang datang untuk mengaji. Kang Min yang dimintai pertolongan hanya mengangguk dan tetap duduk membelakangi Kang Nandar yang sepertinya sudah tidak tahan ingin kebelakang. Kang Nandar sudah tak mempedulikan sikap Kang Min yang hanya diam saja saat dimintai pertolongan.
Di dalam kamar mandi, Kang Nandar memikirkan sesuatu yang menurutnya janggal. Tadi sebelum beliau masuk ke kamar mandi, beliau sempat melihat Kang Min sedang duduk di dalam rumah Pak Dayat sambil makan sesuatu bersama beberapa tamu yang sudah datang. Bahkan suara Kang Min yang sedang mengobrol pun terdengar dengan jelas dari kamar mandi.
"Kang, suwun wes di jagani banyune.". ucap Kang Nandar yang membuat Kang Min nampak bingung. Tanpa menunggu jawaban dari Kang Min, Kang Nandar berlalu dan kembali ke dapur untuk melanjutkan merebus air untuk dibuat minum para tamu. Betapa kagetnya saat beliau mendapati Kang Min masih berada di dapur sedang menunggui air minum yang sedang di rebus. Bahkan posisinya berada di depan tungku untuk meniup bara api yang mati supaya kembali menyala dengan menggunakan bambu yang berlubang semua ujungnya.
__ADS_1
Kang Nandar mundur, tubuhnya lunglai bersandar di tembok manakala Kang Min menoleh ke arahnya. Wajah pucat, dan juga tatapan tajam yang mengerikan menatap lekat ke arah dirinya.