
Semenjak kejadian penangkapan Pak Dayat, suasana desa terasa berbeda. Meskipun teror pocong masih ada, namun kami seperti sudah kebal dengan semuanya. Sudah tak ada lagi yang terlalu ditakuti lagi. Kami malah lebih takut dengan Pak Dayat, yang justru malah dengan tega menghabisi nyawa istrinya sendiri. Lain halnya dengan pocong yang hanya muncul untuk menakut-nakuti manusia.
"Kenapa, Pak?" aku merasa heran dengan Bapak yang katanya mau menengok kerbaunya tetapi malah kembali lagi.
Ibu yang melihat Bapak kembali hanya tertawa terkekeh.
"Pasti ada lontong,ya, Pak?" ledek Ibu yang membuat Bapak garuk-garuk kepala.
Meskipun sudah terbiasa, namun kalau harus bertemu dan bertatap mata langsung kami tak sanggup. Apalagi pocong itu masih saja muncul dengan wajah hitam dan rusak dengan bau yang amat sangat menyengat.
Kasus bunuh diri Mas Samsul dan Ibunya masih saja terus di usut oleh Polisi. Polisi berhasil menemukan beberapa bukti dari sebuah rumah yang dulunya dijadikan tempat tinggal dan tempat bersembunyi oleh Mas Udin. Alat-alat yang di gunakan mereka kumpulkan sebagai barang bukti.
"Nah, kamu tahu ndak?" Atun pasti membawa berita baru kalau sudah bertanya demikian.
"Apa?"
__ADS_1
"Mas Udin tak membunuh Mas Samsul. Dia hanya mengambil anggota tubuh Mas Samsul karena digunakan untuk jimat." ucap Atun membuatku terkejut.
"Maksudnya apa?" aku tak mengerti apa maksud Atun
"Kematian Mas Samsul dan kembalinya Mas Udin kesini tidak dalam waktu yang bersamaan. Kemungkinan Mas Udin kembali ke desa ini karena tahu Mas Samsul meninggal. Makanya dia nekat pulang dan mengambil organ tubuh Mas Samsul karena memang itu syarat yang harus dipenuhi." jelas Atun.
"Syarat?" aku mengernyit tak mengerti. Atun mengangguk.
"Membawa telinga dan telapak tangan kiri mayat yang baru meninggal dan masih perjaka." ucap Atun membuatku merinding.
"Aku merinding. Lagian sore-sore begini kenapa kamu cerita seperti itu." aku memukul bahu Atun sehingga dia mengaduh kesakitan.
kes
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Nah."
__ADS_1
Aku menoleh ke arah Atun setelah kita berdiam diri sejenak tanpa mengobrol satu sama lain.
"Kamu pasti bertanya-tanya dari mana aku mendapatkan kesimpulan itu." Atun memandang ke arahku. Dari dulu Atun memang selalu benar dan tepat saat memberi tahu tentang sesuatu. Meskipun kesannya cengengesan dan tak serius, namun kabar yang ia ceritakan selalu tepat.
"Ah, entahlah, Tun. Aku bingung dengan keadaan ini. Rasanya sudah sangat tak nyaman berada disini." ucapku.
Malam hari aku terngiang-ngiang ucapan Atun. Jadi selama ini Mas Udin memakai jasa dukun untuk menunjang hidupnya. Pantas saja baru sebentar merantau dia sudah memiliki segalanya, membuat Mbak Ayu meninggalkan Mas Samsul dan lebih memilih Mas Udin.
Ggrroookkk ... groookkk ...
Lagi, suara aneh mulai terdengar lagi. Kali ini suara seperti orang yang sedang mengorok. Aku yang sedang menggosok baju saat itu langsung berlari keluar menghampiri Ibu dan Bapak yang sedang mengobrol. Bapak dan Ibu yang menyadari keberadaan makhluk itu meminta aku untuk diam dan tetap berada di sekitar mereka.
"Tok ... tok ... tok ... Ciiiitttt ..."..
Suar pintu dapur berdecit seperti di dorong dari luar rumah. Aku memeluk tubuh Ibu. Sedangkan Bapak akan mencoba untuk menenangkan. Hampir setiap malam kami masih saja mengalami hal seperti ini
__ADS_1