
"Siapa yang kerasukan?" tiba-tiba saja Bapak Atun masuk setelah di susul oleh anaknya.
"Itu." Atun menunjuk pada seorang wanita yang mengamuk seperti kesetanan. Sedari tadi wanita itu hanya berteriak dan meminta dikembalikan talinya entah apa yang di maksud.
"Tali apa sih, Bu?" tanyaku penasaran.
"Ibu juga tidak tahu, Nduk. Kamu jangan dekat-dekat. Kita disini saja." pinta Ibu padaku. Namun rasanya aku sangat penasaran dengan permintaan Ibu itu. Hingga tanpa sadar aku melepaskan pegangan tangan Ibu dan berjalan mendekat ke arah Atun dan Bapaknya.
Sementara itu, Atun dan Bapaknya saling membantu menyadarkan wanita itu dari kerasukan. Permintaan tolong dan kesakitan setiap saat terdengar keluar dari mulutnya. Memprihatinkan, rupanya sosok pocong telah merasuki tubuh Ibu itu dan meminta tolong untuk di bebaskan dan kembali ke alamnya.
"Mengapa kamu tidak pergi ke alammu dan hanya berkeliaran di dunia kami?" tanya Bapak Atun pada wanita itu.
"Aku terikat dengan perjanjian setan. Aku mengikuti ilmu hitam. Dan jenazahku tidak di terima oleh bumi."wanita itu menjawab dengan nada yang menyeramkan dan tatapan mata kosong yang memerah seperti menahan amarah.
"Lalu apa yang bisa kami perbuat untuk menolongmu?"
"Kembalikan tali pocongku. Aku tidak bisa pergi dengan cara begitu saja."
__ADS_1
"Lalu, tali bagian mana yang kamu cari?"Bapak Atun menjawab permintaan wanita tersebut. Tanpa menjawab, wanita tersebut menunjuk bagian atas kepalanya. Kami semua paham apa yang sosok itu minta.
"Siapa yang mengambil tali pengikat kepalamu?" Bapak Atun kembali bertanya. Namun sosok itu terdiam dan tak lagi menjawab apa yang ditanyakan oleh Bapak Atun.
Tak ada yang berani berbicara. Semua yang berada di dalam rumah memilih untuk bungkam dan merapat ke dinding dekat pintu keluar. Sedangkan Pak Kyai masih terlihat sibuk diluar rumah. Beberapa santri menyusul masuk dan membantu Bapak Atun untuk mengobati Ibu-ibu yang kesurupan. Suasana riuh ramai terdengar. Tangisan, tawa yang mengerikan dan teriakan demi teriakan Ibu itu lontarkan.
"Aku mau pulang. Toollooonngg ..." lagi-lagi wanita itu berteriak. Badannya menggeliat dan meronta. Beberapa santri berusaha memegang dan menenangkan. Sedangkan beberapa yang lainnya membacakan doa-doa untuk meruqiah.
*******
Berita tentang kesurupan dan munculnya sosok pocong semalam sudah menyebar ke seluruh penjuru desa. Bahkan hingga tetangga desa pun turut mendengar berita tentang kekacauan semalam.
"Sepertinya begitu. Mereka melakukan pesugihan dan bersekutu dengan setan." timpal lainnya.
"Maka dari itu, lebih baik hidup apa adanya saja. Dari pada menderita di kemudian hari." timpal yang lainnya lagi.
"Iya, sudah malu karena menjadi aib. Mayat tak di terima bumi, belum lagi nanti di akhirat mendapat balasan dari Gusti Allah." salah seorang menimpali lagi. Yang lainnya menyetujui dan menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Jangan dibahas terus. Kasihan yang sudah tidak ada." tiba-tiba muncul Pak Soleh membawa karung berisi rumput.
"Tapi, Pak. Bukankah kenyataannya demikian?" salah seorang warga membela diri.
"Benar, maka dari itu kita yang masih hidup setidaknya berusaha untuk lebih baik. Jangan tergiur kekayaan dunia. Apalagi sampai menghalalkan segala cara." jawab beliau di jawab dengan anggukan kepala oleh yang lainnya.
****
"Apa nanti malam dan seterusnya kita sudah tidak akan mendapat teror lagi, Bu?" tanyaku pada Ibu.
"Semoga saja, Nduk. Ibu berharap, semuanya sudah berakhir." jawab Ibu lembut.
Setelah kejadian tadi malam, rasanya aku ingin lebih giat lagi mengaji. Setidaknya aku memiliki ilmu dan bekal untuk kehidupan nanti. Aku tidak mau miskin iman sehingga akan menjerumuskanku kelak untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama dan sudah jelas-jelas dilarang oleh Allah sang pemberi hidup.
Bahkan malam itu juga, Pak Kyai menemukan sepotong tali panjang yang sudah kumal tersimpan di sebuah kotak kecil dan di simpan di sebuah ruangan kecil di dalam rumah Pak Dayat. Rupanya memang selama ini keluarga ini melakukan pesugihan. Bahkan di dalam kamar itu tersimpan beberapa bongkahan emas dan uang yang tersimpan rapi di sebuah kotak besi. Namun dari kehidupan sehari-hari mereka tampak biasa saja. Tak ada yang terlihat mencolok. Hanya mereka selalu tertutup kepada masyarakat luar. Tak hanya itu, mereka bersekutu dengan setan demi mendapatkan kekebalan. Entah untuk apa. Namun Pak Kyai bilang, biasanya mereka menjadikan tali pocong sebagai syarat dalam menjalankan ritual ilmu hitam. Mereka nekad menggali dan mencuri tali pocong dari mayat yang baru saja dimakamkan. Tentu bukan dari sembarang mayat. Ada syarat yang harus di penuhi sebelum tali itu di ambil. Oleh karena ulah keluarga Pak Dayat, satu kampung di gegerkan oleh teror pocong yang tidak berkesudahan. Bahkan keluarga Pak Dayat sendiri juga menjadi sosok peneror karena jenazahnya yang tidak di terima bumi, sehingga berkeliaran kesana kemari mengganggu warga untuk meminta pertolongan supaya bisa mendapat tempat yang semestinya.
Teror pocong tidak berakhir begitu saja. Pocong yang talinya di kembalikan kini sudah tenang dan tak pernah berkeliaran lagi. Namun, pocong dari keluarga Pak Dayat kadang-kadang masih suka muncul di sekitar desa. Mereka masih sering mengganggu ketentraman penduduk desa dengan mengetuk satu persatu rumah warga. Kadang, mereka datang mengganggu para peronda yang sudah mulai kembali melakukan tugas malamnya. Hanya saja, warga sudah tidak seheboh dulu lagi. Mereka hanya perlu menghindar dan berjaga-jaga supaya tidak bertemu langsung dengan sosok mereka. Kalau mereka datang di sekitar rumah, para warga hanya perlu bersembunyi di dalam rumah tanpa bersuara sedikitpun agar tak memancing sosok itu lebih dekat lagi. Walau bagaimanapun mereka sudah berbeda alam dengan kami para manusia. Sehingga bertemu mereka sungguh merupakan kesialan yang seharusnya di hindari.
__ADS_1
Untuk para pembaca setia karya receh ini, saya ucapkan banyak terimakasih karena sudah mengikuti alur cerita yang masih banyak sekali kekurangan. Cerita ini saya tamatkan sampai disini. Authornya lupa kelanjutan cerita yang dulu sering diceritakan oleh nenek tentang keadaan desa dimasa kecil beliau 🤠Sekali lagi terimakasih untuk kalian semua. Salam hormat dari author untuk semuanya.