Teror Pocong Di Desa Pakis Rejo

Teror Pocong Di Desa Pakis Rejo
Hukuman Pak Dayat


__ADS_3

"Kata siapa?" tanya Bapak pada Pak Sukma sang kepala Desa.


"Bener, Kang. Lagi pula selama di penjara, Pak Dayat selalu mengigau mengakui kesalahan-kesalahannya." ucap Pak Kades.


"Apa maksudnya, Pak?" Bapak merasa bingung dengan cerita Pak Sukma.


Pak Sukma menjelaskan kondisi Pak Dayat selama di penjara. Sungguh miris dengan pengakuannya meskipun dalam kondisi depresi dan tertekan namun sangat jelas untuk membuktikan semuanya. Demi mempertahankan kekayaan karena takut jatuh miskin, beliau tega membuat anaknya merasa terbebani dan melakukan bunuh diri dengan sendirinya.


"Loh, Yu. Sudah sehat tah?" Pak Sukma menyapa Ibu yang tiba-tiba saja muncul dari belakang.


"Sudah, Pak. Seperti inilah sekarang. Masih harus hati-hati kalau untuk berjalan."


"Iya, Yu. Njenengan sing tentrem. Di selehno ati lan pikirane. Pasrah maring sing Kuasa." nasehat Pak Sukma yang di jawab dengan anggukan oleh Ibu.

__ADS_1


Aku kembali ke sekolah setelah meyakinkan Ibu baik-baik saja. Sedangkan Bapak masih harus tetap menjaga Ibu di rumah. Hanya saja, kadang-kadang Bapak mengurus ladang karena sudah tak memiliki kerbau lagi saat ini.


______________


Rumah Yu Siti yang sudah cukup lama tak di tengok kini tampak suram. Bahkan rumput-rumput liar juga sudah mulai meninggi, membuat kesan singup bagi siapa saja yang melihatnya. Belakang rumah Yu Siti ada beberapa pohon pisang yang rimbun. Dulu Yu Siti sering menjual keripik pisang di pasar. Makanya beliau memiliki kebun pisang sendiri yang cukup lebat. Hanya saja, kebun pisang milik Yu Siti menjadi tempat favorit untuk pocong yang sering keluar setiap malam. Setiap malam aku harus mendengar suara-suara aneh dari kebun pisang milik Yu Siti. Tak hanya pocong, keranda terbang pun sering terlihat.


Kreteeekkk ... blugh ...


Sebuah suara yang cukup keras terdengar dari arah kebun pisang. Saat Bapak keluar dan melihat apa yang terjadi, nyatanya sebuah keranda yang entah dari mana datangnya tiba-tiba muncul dan tersangkut di atas pohon. Hal itu sering terjadi, namun kami hanya diam saja karena rasa takut kami semua.


___________


"Buuu... Ibuuu..."

__ADS_1


"Bu, Pak Dayat divonis hukuman mati." teriakku pada Ibu yang sedang sibuk dengan melinjonya. Meskipun baru sembuh, Ibu tetap semangat membuat emping dan Bapak kini yang berjualam di pasar.


"Astaghfirullah." kata siapa, Nduk?"


"Atun, Bu."


"Eksekusinya seminggu lagi." ucapku memberikan penjelasan. Ibu yang mendengar kabar dariku langsung mencari tahu kebenarannya.


Kabar mengenai hukuman mati yang akan di terima oleh Pak. Dayat sudah menyebar juga ke seluruh penjuru desa. Bisik-bisik pun juga terdengar. Banyak yang memberikan sumpah serapah. Ada juga beberapan yang mendoakan demi kebaikan Pak Dayat.


Seminggu berlalu. Akhirnya Pak Dayat di eksekusi juga. Bahkan jenazah Pak Dayat di serahkan ke pihak desa . Dan para warga bergotong royong membantu mengurus jenazah yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Tubuh kurus dan kering bak tulang di balut dengan kulit tampak sedikit mengelupas.


______

__ADS_1


"Bapak kenapa?" tanyaku pada Bapak yang terdiam lesu sepulang dari makam.


"Tadi pas Bapak di makam, sepertinya Bapak melihat Lukman melihat proses pemakaman Bapaknya. Hanya saja Bapak tak berani memastikan.


__ADS_2