
Berita tentang Pak Dayat yang kehilangan akal sehatnya sudah menyebar ke seluruh pelosok desa. Bahkan desas desus tentang teror anaknya yang selalu menghantuinya selama di penjara juga sudah bukan lagi menjadi rahasia umum. Bahkan kantor polisi menjadi ribut gara-gara Pak Dayat yang sering berteriak meminta ampun dan meminta tolong tanpa di ketahui penyebabnya. Yang di beritakan oleh petugas hanya Pak Dayat sering berhalusinasi dan berteriak minta ampun atas semua salahnya pada anak dan istrinya.
"Melas, ya, nganti stres ngono." ucap salah satu warga desa yang sedang lewat jalan depan rumah. Depan rumah yang merupakan jalan umum memang sering digunakan untuk lalu lalang para warga yang hendak pergi ke ladang. Meskipun masih banyak bebatuan besar, namun jalan depan rumahku selalu ramai saat pagi sampai menjelang sore hari. Dulu, sebelum teror melanda desa kami, jalan depan rumah selalu ramai dengan Bapak-bapak yang ronda dan berkumpul di cangkruk untuk sekedar nongkrong dan mengobrol setelah lelah seharian bekerja di sawah dan ladang. Namun kini semua itu tinggal kenangan. Apalagi seberang jalan merupakan kebun pisang yang lumayan rimbun dan gelap karena minim pencahayaan saat malam hari. Desa kami hanya mengandalkan cahaya bukan pada malam hari di karenakan listrik belum masuk seluruhnya ke desa kami.
"Tolong ... tulungono aku. Umahku ambruk."
Malam ini cuaca cukup dingin. Rintik hujan mulai turun menimbulkan suara gemericik di atas genting. Sayup-sayup juga terdengar suara seseorang meminta tolong. Suara yang serak dan berat, ditambah patah-patah. Membuatku bergidik ngeri dan membayangkan sebentar lagi sosok itu akan muncul di sekitarku. Aku menelungkupkan wajahku di atas bantal dan menutup tubuhku rapat-rapat dengan selimut. Bapak sepertinya juga mendengar, beliau berdiri dan melihat keluar melalui celah jendela kamar.
"Tidur, Nduk. Jangan di dengarkan." ucap Bapak membuatku merasa lega masih ada Bapak yang belum tidur.
"Siapa, Pak?"
__ADS_1
"Biasa. Sudah, kamu tidur saja. Dekat sama Ibumu sana."
Akhirnya aku pindah ke tembok supaya tidak ada lagi yang tidur di sebelahku selain Ibu.
_______________
"Kuburane jugruk maneh. Wes bola bali di benahi mesti jugruk terus."
"Samsul, Kang. Itu kok ambruk lagi. Padahal belum lama ini kan juga sudah di betulin." jawab Kang Soleh sambil membetulkan posisi karung berisi rumput yang beliau bawa.
Ibu yang mendengar ucapan Kang Soleh dari dapur hanya beristighfar dan mengelus dada. Sedangkan aku tetap fokus membantu Ibu membungkus emping untuk kami bawa nanti siang ke pasar.
__ADS_1
"Bu, semalam Ibu dengar ndak?"
"Apa?"
"Ada yang minta tolong, rumahnya ambruk." Ibu melotot ke arahku.
"Bener, Bu. Coba tanya ke Bapak. Bapak juga dengar." ucapku sambil memajukan bibir. Aku tahu kalau Ibu sedang malas membahas soal teror pocong itu lagi. Ibu menganggap semua sudah selesai. Tak perlu dibahas, tak perlu di anggap ada kalau muncul di sekitar kita.
"Ndak usah di bahas terus, Nduk. Kalau nanti malam kamu di datangi lagi jangan nangis, ya." ucap Ibu.
"Ah, Ibu." aku berlalu meninggalkan Ibu dan memilih menghampiri Bapak yang sedang sibuk di kandang kerbau. Kata-kata Ibu memang menjengkelkan. Tega sekali bicara seperti itu. Memang kenyataannya semalam aku mendengarnya. Aku terus saja menggerutu sendiri membuat Bapak tertawa melihatku berbicara sendiri memaki Ibu.
__ADS_1