
Aku dan Atun berjalan bersamaan dengan anak-anak lain dari desa kami. Sengaja kami pulang menunggu yang lainnya karena untuk menghindari laki-laki yang tadi pagi kami temui. Setelah di pikir-pikir, laki-laki yang kami lihat tadi pagi sangat mirip dengan pria misterius yang ku lihat di makam. Setidaknya laki-laki itu tidak akan melakukan hal buruk pada kami kalau banyak saksi mata yang melihat.
"Hey, lihat itu." salah seorang teman kami menunjuk kesebuah kerumunan orang yang berjalan beriringan. Beberapa diantaranya memikul sesuatu yang terlihat berat. Sedangkan beberapa dari yang lainnya terlihat berjalan beriringan mengikuti dari belakang.
"Innalillahi wa innaillaihi rojiun."
Tampak jelas bahwa kerumunan itu membawa sebuah keranda yang pastinya ada salah seorang warga desa yang meninggal. Kami berlarian untuk mengejar kerumunan sebelum
mereka belok ke arah makam.
Kami melihat Pakdhe Kusno saat berhasil mengejar kerumunan warga.
"Siapa yang meninggal, Pakdhe?" aku memberanikan diri untuk bertanya. Atun menarik-narik lenganku untuk pergi.
Aku mengurungkan niatku untuk mencaritahu siapa yang di bawa di dalam keranda itu. Aku lebih memilih diam dan bergegas untuk pulang kerumah. Jangan sampai laki-laki yang tadi pagi ku temui juga berada di antara orang-orang ini dan melihatku.
__ADS_1
"Kasihan ya, Pak. Masalah yang tak kunjung selesai memaksa Bu Dayat mengakhirinya seperti in."
Deg
Aku terpaku mendengar obrolan Bapak dan Ibu. Bukannya bergegas untuk masuk kerumah, aku malah berdiri begitu saja tanpa sadar di depan pintu.
"Jadi jenazah yang tadi Minah di jalan itu?" aku memastikan keraguanku pada cerita kedua orang tuaku.
"Iya, Nduk. Itu Bu Dayat." ucap Ibu.
Rupanya begitu berat beban pikiran Bu Dayat selama ini. Hanya saja beliau selalu memilih untuk diam saat mengetahui putranya membuat onar di kampung dengan meneror PM satu persatu warga desa Pakis Rejo ini. Khupikir sikap diamnya selama ini karena merasa masa bodoh anaknya yang harus mati dan dan memilih untuk memastiikan.
_________
Malam ini terasa sangat sepi. Bahkan suara binatang malam pun tidak terdengar sama sekali. Berharap aku bisa melewati malam panjang ini dengan damai. Namun sepertinya semua sia-sia, saat aku melihat bayangan yang tidak asing bagiku berdiri tega antara ruang tengah dan dipapur. Sialnya lagi aku belum mampu untuk memejamkan mata. Rasa kantukku menguap, menghilang seketika, entah kemana perginya.
__ADS_1
Aku menggoyang-goyang tubuhnya berharap Ibu terbangun dan menemaniku.
Lamat-lamat suara tangisan terdengar. Suara orang dewasa yang sedang menangis terdengar sangat jelas.
"Apa sosok itu yang menangis?" aku menarik tangan Bapak. Sontak saja Bapak langsung terbangun dan memelukku.
Ibbuu ... Ibbuu .....Suara tangisan terdengar semakin jelas memanggil Ibunya.
"Pak, Minah takut " kali ini aku benar-benar merasa takut. Ibu terbangun dan memelukku dari belakang. Suara derit kuku panjang juga terdengar jelas si luar rumah. Dengan di iringi suara tangisan yang memanggil-manggil Ibunya. Sungguh memilukan untuk siapa saja yang mendengarnya.
"Mengapa harus di rumah kita, Pak? Mengapa setannya tidak pergi saja kerumahnya sendiri." umpatku kesal. Bapak hanya mencoba menenangkan aku agar aku tak bersuara.
"Bapak tidak tahu, Nduk. Sudah kamu jangan dengarkan."
Lambat laun suara tangisan semakin menjauh. Entah setan itu mendengar ucapanku, atau mau berpindah kerumah lain untuk sekedar mencari teman untuk berkeluh kesah.
__ADS_1