
Siang itu, Pak Soleh berniat pergi ke ladang mencari rumput untuk pakan kerbaunya. Berhubung hampir kebanyakan warga desa memiliki binatang peliharaan seperti kerbau, kambing bahkan sapi, jadi setiap siang sampai sore di ladang ramai dengan rutinitas para Bapak yang merumput untuk stok pakan ternaknya hingga esok hari. Dan mereka akan kembali merumput esok hari setelah selesai memandikan kerbau-kerbau milik mereka.
"Toollooonngg..." Pak Soleh menghentikan langkahnya saat mendengar sebuah teriakan dari dalam rumah Pak Dayat.
Dari dalam rumah terdengar suara tangis yang Pak Soleh hafal betul itu suara Pak Dayat. Betapa kagetnya Pak Soleh mendapati tubuh Bu Dayat terbaring di tanah sambil menggelinjang seperti ikan yang sedang menggelepar. Mulut Bu Dayat mengeluarkan buih dengan mata melotot. Menyiratkan betapa sakit dan tersiksanya Bu Dayat pada saat itu. Membuat Pak Soleh dan Pak Dayat kebingungan harus melakukan apa untuk menyelamatkan Bu Dayat.
"Tunggu sebentar, Pak." Pak Soleh berlari keluar rumah untuk mencari pertolongan. Secepat kilat Pak Dayat berlari ke ladang untuk meminta bantuan Bapak-bapak lainnya untuk membantu membawa Bu Dayat ke rumah mantri sebelum terlambat. Tak lupa Pak Soleh memetik sebuah kelapa hijau yang konon katanya berguna untuk menawarkan racun dari dalam tubuh.
Bapak berlari tergopoh-gopoh untuk ikut mendatangi rumah Pak Dayat dan melihat seberapa buruk kondisi Bu Dayat. Melihat Pak Soleh kesusahan memberikan air kelapa untuk Bu Dayat, Bapak turun tangan juga. Namun malang nasib Bu Dayat. Air kelapa yang hendak Bapak san Pak Soleh minumkan sudah di tolak dan tak bisa menelan apapun.
"Innalillahi wa innailaihi roji'un." serempak mereka yang berada di rumah Pak Dayat menjadi saksi kematian istri Pak Dayat. Rupanya istri Pak Dayat menenggak setengah botol pestisida milik suaminya yang biasa Pak Dayat gunakan untuk menyemprot rumput supaya cepat kering Namun rupanya Bu Dayat merasa sangat frustasi, terpukul dan frustasi dengan masalah yang menimpa keluarganya segingga membuat Bu Dayat gelap mata dan rela meregang nyawa setelah menenggak setengah botol berisi pestisida milik suaminya.
__ADS_1
Kasihan sekali Pak Dayat, ya, Bu?" celetuk ku saat aku makan siang bersama.
"Iya, Nduk. Banyak sekali cobaannya. Semoga beliau selalu diberikan kesabaran, ya, Nduk." jawab Ibu sambil menghela nafas.
"Bapak masih melayat, Bu?"
Ibu mengangguk. Tatapannya menerawang jauh. Entah apa yang dipikirkan beliau. Sepertinya Ibu sedang memikirkan sesuatu.
"Kenapa, Nduk?"
"Tadi Minah bertemu dengan laki-laki yang sepertinya Minah lihat di makam." wajah Ibu tampak berubah saat aku bercerita mengenai pria yang saat ini sedang buron.
__ADS_1
"Dimana? terus dia ngapain?" Ibu tampak khawatir.
Aku menceritakan semuanya, termasuk pria tadi yang kutemui saat perjalanan sebelum tiba disekolah. Saat sosok itu mengikutiku selama perjalanan dan menghilang saat kami bertemu beberapa teman-teman sekolah yang lainnya dan kami bergabung dengan mereka.
___________
Bapak tampak lesu setelah pulang dari pemakaman Bu Dayat. Untung saja tadi siang Bapak sudah sempat mencari rumput sebelum akhirnya Pak Soleh memanggil Bapak untuk membantu Pak Dayat.
Pprrraaannggg ...
Kami bertiga kompak melompat saat sebuah piring seng di lempar menghantam pintu kayu belakang. Bagaimana mungkin kami bertiga berada di tempat yang sama tetapi sebuah piring terlempar dari tempatnya dan jatuh menggelinding menuju ruang tengah dimana kami sedang berkumpul.
__ADS_1