
Ramai, begitulah gambaran situasi saat ini. Aku dan Atun mengikuti orang-orang melihat lebih dekat ke rumah Pak Dayat.
"Loh, loh, kok begitu?" aku bingung saat melihat polisi membawa Pak Dayat dengan memborgol kedua pergelangan tangannya.
"Kita lihat saja, Nah." bisik Atun yang sibuk mencari pijakan agar bisa melihat lebih jelas.
Tak habis pikir, Pak Dayat yang merupakan keluarga korban mutilasi malah di borgol seperti itu. Polisi pasti salah tangkap. Harusnya yang bersalah yang di penjara. Ini mengapa malah keluarga korban yang ditahan.
Warga yang berkumpul juga berusaha menahan Pak Dayat supaya tidak dibawa oleh polisi. Namun sayangnya bisa dihalau oleh polisi.
"Ini pasti ulah Pak Lurah. Dia tidak terima anaknya dijadikan tersangka, akhirnya memfitnah Pak Dayat."
"Iya, kejam sekali, ya."
"Benar-benar tidak berperikemanusiaan."
Begitulah umpatan demi umpatan yang di lontarkan oleh beberapa warga saat melihat Pak Dayat di seret oleh pihak kepolisian.
"Pak." ternyata Bapak dan Pak Sukma juga berada ditempat ini. Bisa-bisanya aku tak melihatnya sedari tadi. Namun Bapak maupun Pak Sukma tak ada yang berusaha menolong Pak Dayat.
__ADS_1
Terlihat wajah Pak Dayat yang tak biasa. Mungkin karena sedang berduka, ditambah tuduhan yang tidak masuk akal ini menimpa dirinya. Senyum menyeringai terpampang jelas di wajahnya. Agak seram kalau diperhatikan. Aku pun bergidik ngeri saat ujung bibirnya menyeringai seperti menertawakan sesuatu.
Suasana desa menjadi geger semenjak di tangkapnya Pak Dayat. Bapak pun juga tak bercerita apapun selama dirumah tentang masalah ini. Begitu juga dengan Ibu. Bisa-bisanya beliau begitu tenang dan tidak penasaran tentang apa yang terjadi.
"Wah, sepertinya Bapak dan Ibu sudah mengetahui semuanya. Hanya saja mereka tidak mau menceritakannya padaku karena aku dan Atun suka berbuat hal yang aneh-aneh kalau diberi tahu." Aku pergi ke kamar untuk beristirahat. Bayangan senyum Pak Dayat yang tak biasa membayang-bayangi pikiranku.
"Iya, kasihan sekali. Sepertinya memang gangguan jiwa akut."
"Iya, Bu. Bapak juga tak menyangka kalau ternyata istrinya tidak meninggal karena bunuh diri."
Lamat-lamat aku mendengar obrolan Bapak dan Ibu di dapur. Rupanya aku tertidur cukup lama. Tak lama aku mendengar obrolan mereka hingga akhirnya Bapak berpamitan untuk ke ladang.
"Minah main dulu, Bu." pamitku pada Ibu setelah menyelesaikan makanku.
"Jangan jauh-jauh, Nduk." ucap Ibu yang ku jawab dengan anggukan.
Seperti biasa aku akan main di ladang sambil mencari biji melinjo. Siapa tahu ada Atun yang juga disana untuk mencari melinjo juga. Aku akan tanya apa yang sebenarnya terjadi. Biasanya Atun akan tahu lebih dulu dan menceritakan semuanya dengan detail. Namun hingga sore menjelang, Atun pun tak tampak juga. Ah, sedikit kecewa sebenarnya.
"Ini, Bu." ku serahkan kresek berisi melinjo pada Ibu.
__ADS_1
"Nopo toh, Nduk?" tanya Ibu.
"Ndak apa-apa, Bu."
"Kok lesu?"
Aku menghela nafas panjang.
"Minah bingung sama polisi. Mengapa orang tidak bersalah malah dibawa." ucapku kesal.
"Pak Dayat bersalah, Nduk." jawab Ibu. Aku mengernyit tak mengerti.
"Dia membunuh istrinya sendiri." ucapan Ibu membuatku kaget bukan main. Bagaimana bisa suami tega membunuh istrinya sendiri di saat kondisi sedang tidak baik-baik saja.
"Bukannya Bu Dayat..."
"Bukan. Bu Dayat di bunuh oleh suaminya." ucap Ibu.
Ibu menceritakan cerita sesungguhnya. Aku tak mengerti mengapa seorang suami tega membunuh istrinya sendiri. Pantas saja tidak ada tetangga maupun sanak saudara yang di ijinkan untuk memandikan jenazah Bu Dayat. Semua ingin dilakukan sendiri oleh suaminya. Rupanya untuk menutupi kesalahannya. Untung saja ada saksi mata yang mengatakan sempat mendengar teriakan minta tolong dari Bu Dayat sebelum akhirnya suasana hening. Dan kemudian selang beberapa saat Pak Dayat berteriak minta tolong karena istrinya diketahui meminum cairan pestisida.
__ADS_1
"Tega sekali, ya, Bu."