
Dugh... dugh... dugh...
Sebuah gedoran yang keras dan terburu-buru berasal dari pintu depan mengangetkan kami bertiga. Bayangan sosok menyeramkan itu pun juga telah lenyap. Sosok yang tadi berdiri di belakang kami juga menghilang entah kemana. Dengan cepat kami berpindah ke ruang depan untuk melihat siapa yang datang.
"Pak Kades, ada apa?" wajah Pak Sukma tampak pias saat Bapak membukakan pintu untuk beliau. Nafasnya pendek dan terengah-engah. Tampak sekali Pak Sukma berlari terburu-buru kemari. Dari keringat yang membanjiri bajunya, juga nafasnya yang terengah-engah membuat beliau kesulitan untuk berbicara.
"I ... itu, Bu Dayat. Bu Dayat." Pak Sukma kesulitan meneruskan kata-katanya.
"Bu Dayat kenapa?" Bapak menginterogasi Pak Sukma karena beliau tak sabar mendengar penjelasan dari Pak Sukma.
"Bu Dayat kesurupan." ucap Pak Sukma terengah-engah.
"Sudah panggil Pak Kyai?"
__ADS_1
Pak Sukma mengangguk-angguk. Ibu memberikan segelas air putih untuk membantu menenangkan beliau.
Sementara itu aku dan Ibu dirumah hanya berdua. Kami hanya berani duduk di ruang tengah sambil menunggu kepulangan Bapak dari rumah Pak Dayat.
"Keluarga Pak Dayat setiap harinya mendapat teror juga ndak ya, Bu?" tanyaku penasaran.
"Ibu ndak tahu, Nduk."
Malam ini aku dan Ibu kembali terjaga. Sambil menunggu Bapak pulang, kami hanya bisa merebahkan diri di kamar tengah. Semenjak teror merebak jam tidurku sudah benar-benar kacau. Jarang sekali aku bisa merasakan tidur nyenyak dan tenang dari awal tidur hingga pagi hari. Membuat aku selalu mengantuk saat di sekolah dan mengacaukan jam belajarku.
"Tidur, Nduk. Sudah larut malam." ujar Ibu. Aku mengangguk. Aku mencoba untuk memejamkan mata. Namun pikiranku jauh menerawang. Apa mungkin pelaku itu sempat melihatku saat itu. Pikiranku berkecamuk, berbagai kekhawatiran membuat rasa kantukku hilang menguap begitu saja.
"Kasian Bu Dayat, ya, Bu."
__ADS_1
"Hhhmmm ..."
"Ibu mengapa begitu tenang selama ini menghadapi semua ini?"
"Semua yang hidup pasti bakal mati, Nduk. Kita juga tidak pernah tahu seperti apa besok kita akan menemui ajal. Kasihan yang sudah tidak ada bila harus terus-terusan dibahas."
"Aaahhh... Bapak kapan pulang sih."aku mengalihkan pertanyaanku. Aku takut kalau membahas teror ini yang ada semakin takut dan tak bisa tidur. Lebih parahnya lagi kalau sosok itu muncul lagi dirumah ini.
Aku menggeliat saat merasakan ada yang menyentuh ujung kakiku. Entah kapan aku terlelap, dan sekarang harus terbangun karena ada hawa dingin yang menyentuh ujung kaki. Mataku menangkap sebuah sosok manusia tinggi sedang duduk di bawah kakiku dan menyentuh perlahan kakiku. Ingin aku berteriak, namun sosok itu menatap lekat kedalam mataku. Membuat semua terasa kaku dan tak mampu digerakkan. Bahkan suara ku pun ikut tertahan di tenggorokan.
Aku melirik ke sebelah kanan. Ibu dengan nafas yang tenang dan lembut sedang tertidur dengan pulasnya. Ingin rasanya aku berteriak membangunkan Ibu, namun sosok itu membuat semuanya tak mampu ku lakukan.
Entah keberanian dari mana, perlahan aku mampu menggerakkan tanganku. Ku genggam erat-erat tangan Ibu. Ibu sontak terbangun dan memelukku untuk menghadap ke arahnya. Sentuhan di kaki menghilang. Hawa dingin di kamar pun juga mulai berubah. Ibu menepuk-nepuk lembut punggungku. Sambil terus membaca ayat kursi secara lirih di telingaku, beliau mendekap erat kepalaku.
__ADS_1