
"Kamu jangan sembarangan begitu, Nduk." ucap Ibu dengan wajah kesal.
"Minah tidak sembarangan, Bu. Minah tadinya hanya duduk-duduk di sana. Tapi tiba-tiba ada Budhe Ratmi datang." bantahku setelah aku menceritakan apa yang terjadi pada Ibu dan Bapak.
"Sudahlah, Bu. Lagi pula itu bukan salah Minah." bela Bapak.
Ibu menghela nafas kasar. Raut wajahnya memancarkan kekhawatiran alih-alih kekecewaan.
"Minah bakal hati-hati, Bu. Minah hanya ingin membantu. Siapa tahu semua akan terungkap dan teror di desa kita akan berakhir."
"Tapi kamu masih kecil, Nduk. Masih kecil. Ibu khawatir kamu kenapa-napa." Ibu tak mau kalah juga. Aku memaklumi kekhawatiran Ibu yang semua itu beralasan.
"Minah akan jaga diri, Bu."
Aku berlalu masuk ke dalam kamar. Ku rebahkan badan yang rasanya sangat lelah karena menahan tegang saat mengawasi Budhe Ratmi.
"Kira-kira untuk apa ya kepala kambing itu? Mengapa harus di kubur dan dibungkus kain kafan?" aku menerka-nerka apa guna dari semua itu.
__ADS_1
*****
"Kamu tahu apa maksud kepala kambing kemarin, Nah?" tanya Atun saat kami berjalan beriringan pergi ke sekolah.
"Untuk apa?" jujur aku merasa penasaran. Dari semalam aku memikirkan semua itu. Untung saja tak ada gangguan yang datang saat aku tak dapat tidur tadi malam.
"Kata Bapakku, itu semua untuk syarat tumbal."
Mataku terbelalak mendengar hal itu. Tumbal, semua itu tak asing bagi kami masyarakat desa yang masih kental dengan kepercayaan tentang hal-hal gaib dan pemujaan. Namun untuk apa Budhe Ratmi memasang kepala kambing sebagai tumbal?
Sejenak aku berpikir. Rasa penasaranku memuncak. Aku ingin sekali membantu, namun aku ingat perkataan Ibu semalam. Apa aku harus membantah nasehat Ibu dengan tetap membantu Atun dan Pak Sukma serta Pak Soleh memecahkan masalah.
"Mau tidak?" Atun mengulangi pertanyaannya.
"Iya."jawabku singkat. Lagi pula aku sudah terlanjur ikut mengetahui semuanya kemarin. Rasa bersalah tentu saja ada, bahkan bayang-bayang Ibu selalu terlintas di pikiran.
"Maafkan Minah, Bu." bisikku.
__ADS_1
Dengan seijin Bapak tentunya, aku kembali ke rumah Pak Sukma dan Pak Soleh untuk merencanakan apa yang selanjutnya akan kami lakukan. Dari mulai mendekati Budhe Ratmi, dan mencari tahu apa sebenarnya yang selama ini Budhe Ratmi lakukan disini. Memang Budhe Ratmi menempati rumah almarhum adiknya, hanya saja Budhe Ratmi tak pernah lapor kepada perangkat Desa untuk tinggal lama di Desa kami. Entah hanya ingin tinggal sementara disini, atau ingin berpindah menjadi warga Desa ini.
"Bukannya Budhe Ratmi memiliki keluarga sendiri?" tanya Atun pada Pak Sukma.
"Punya. Pernah dahulu sekali saat keluarga Pak Dayat datang ke Desa ini, Bu Ratmi datang bersama suaminya. Namun dulu beliau memiliki anak yang, maaf, sepertinya ada kelainan." ucap Pak Sukma.
"Seperti apa, Pak?" tanya Atun yang tampak sangat penasaran.
"Bapak tidak begitu ingat, Nduk. Namun yang Bapak perhatikan itu tatapannya. Seperti kosong." ujar Pak Sukma.
Pak Soleh dan aku hanya diam. Kami hanya mendengarkan dengan seksama apa yang di obrolkan Pak Sukma dan Atun. Kali ini Atun juga mengajak Bapaknya. Bapak Atun di kenal tahu tentang hal-hal gaib dan sesuatu yang sering di anggap mustahil oleh kebanyakan orang. Namun beliau hanya diam dan hanya mendengarkan penuturan dari Pak Sukma.
****
Desa kami kini sudah tak gelap lagi. Aliran listrik sudah masuk ke Desa terutama di jalan-jalan. Untuk rumah-rumah juga sudah banyak yang menyambung dari orang lain dan memasang lampu sebagai penerangan. Terutama rumahku. Bapak juga memutuskan untuk memasang listrik juga yang sebelumnya kami hanya menggunakan lampu petromax. Itu semua demi keamanan Desa supaya tidak terlalu mati dan singup semenjak munculnya teror yang tak berkesudahan.
Dimulai dari Pak Soleh, beliau seperti biasa beliau akan mencari rumput di tempat kemarin. Namun beliau akan bersembunyi terlebih dahulu sampai Budhe Ratmi berada di kebun kosong tersebut. Sedangkan aku dan Atun akan berpura-pura bermain di sekitaran rumah Pak Dayat. Semua itu untuk mencari tahu kegiatan apa yang Budhe Ratmi lakukan. Bisa jadi ada hal yang mencurigakan di rumahnya.
__ADS_1