Teror Pocong Di Desa Pakis Rejo

Teror Pocong Di Desa Pakis Rejo
Ibuku yang malang


__ADS_3

Bapak kembali menempelkan kain yang sudah diberi air hangat ke dahi Ibu.


"Belum turun juga, Pak?"


Bapak menggeleng perlahan. Semenjak semalam Ibu berteriak saat tidur, kini kondisi Ibu menjadi demam. Entah apa yang terjadi semalam, namun Ibu tak pernah mau bercerita. Ibu hanya bilang kalau dirinya lelah dan pusing.


"Ibu mau apa?"


Lagi-lagi Ibu menggeleng. Padahal sedari pagi Ibu belum masuk sedikitpun makanan. Hanya minum air putih itu pun hanya sedikit.


"Apa yang di rasa, Bu?"


Jujur saja aku khawatir dengan kondisi Ibu. Aku takut hal buruk akan terjadi pada beliau. Entah seperti Yu Siti yang sempat linglung dan tak mengenali siapapun, atau seperti Kang Tejo yang tak kuat dan akhirnya berpulang ke rumah Allah.


"Astaghfirullah." aku membuang nafas kasar saat bayang-bayang menakutkan itu muncul dan terlintas di pikiranku.


"Ibu sehat, ya. Minah takut Ibu kenapa-napa."


"Ibu sehat, Nduk. Ibu cuma butuh istirahat saja sebentar." jawabnya sambil tersenyum


Aku mengulas senyum terpaksa. Bagaimanapun juga rasa khawatir itu pasti ada. Rasa takut kehilangan orang yang paling ku sayang.

__ADS_1


___________


Aku memeluk lengan Ibu. Demamnya sudah mulai reda. Namun Ibu masih saja terpejam. Sepertinya Ibu merasa sangat pusing sehingga enggan untuk membuka mata.


"Minah, tidur di kamar sebelah saja sama Bapak." bujuk Ibu. Tentu saja aku menolak. Aku tak akan mau jauh-jauh dari Ibu.


"Minah mau disini, Bu. Minah tak mau jauh-jauh dari Ibu."


________


"Lungo, lungo kowe. Ojo ganggu keluargaku."


Aku terkejut saat tiba-tiba Ibu mengigau dan berbicara tak jelas tengah malam. Ku goyangkan tubuh Ibu, namun tak ada respon.


Belum juga Bapak terbangun, akhirnya Ibu membuka matanya.


"Bu, Ibu. Ibu kenapa?"


"Ambilkan Ibu minum, Nduk. Ibu haus." pinta Ibu yang langsung saja ku penuhi. Perlahan Ibu menyesap air putih yang ku berikan pada beliau.


"Ibu kenapa?"

__ADS_1


Bapak yang baru saja terbangun dari tidurnya langsung menanyakan keadaan Ibu yang terlihat sudah lebih baik.


"Ibu ndak apa-apa, Pak. Ibu cuma mimpi saja." jawab Ibu sambil tersenyum.


Malam ini kami bisa tidur dengan tenang. Ibu juga sudah terlihat lebih sehat.


Suara binatang malam saling bersahut-sahutan. Rintik hujan mulai turun membasahi genting-genting dan tanah menciptakan aroma hujan yang menenangkan.


Kami terbangun saat mendengar suara ribut yang berasal dari kandang belakang rumah. Suara kerbau yang terus mengoek dan pagar kandang yang terbuat dari kayu seperti ada yang memukul-mukul.


"Apa itu, Pak?" tanyaku sambil berbisik.


Aku dan Bapak berusaha mencari tahu apa yang sedang terjadi di luar. Sedangkan Ibu hanya diam saja dan pandangannya menatap lurus ke langit-langit kamar.


"Pak." panggilku lirih sambil mengelus pundak Bapak memberi kode untuk melihat ke arah Ibu.


Tak kuasa aku menahan air mata untuk tak tumpah begitu saja. Melihat kondisi Ibu yang seperti itu membuatku takut apabila terjadi suatu hal yang buruk pada beliau.


______


Hari ini terpaksa aku tak berangkat sekolah. Aku benar-benar tak mau jauh dari Ibu. Meskipun Bapak memastikan bahwa Ibu akan baik-baik saja, namun tetap saja aku ingin selalu membersamai beliau setiap waktu.

__ADS_1


"Minah mau di rumah saja, Pak. Minah mau sama Ibu." tolakku saat Bapak memintaku untuk bersiap-siap ke sekolah.


__ADS_2