Terpaksa Cinta

Terpaksa Cinta
Bab 18. Me Time


__ADS_3

Hari ini rasanya aku mau tidur, me time makan apapun yang aku mau, jalan - jalan sendiri tanpa di temani oleh siapa pun. 


"Gue hari ini mau langsung balik ya.." Jawabku saat sedang duduk kumpul dengan sahabat - sahabatku FAMTOM.


"Kenapa lo?" Tanya Mily penasaran.


"Gue kayaknya butuh waktu sendiri deh." Jawabku pelan. 


"Yaudah kita temenin aja..." Sahut Sera.


"Gak Ser, gue butuh waktu sendiri dulu yaa.." 


"Yaudah kalo gitu. Semoga lo menikmati me time lo yaa Ri." Jawab Mily.


"Makasih yaa guys..." Jawabku sambil tersenyum kecil. 


***


Jam kuliah sudah selesai, aku langsung saja turun dari gedung FK karna aku ingin segera me time. Mungkin aku memang butuh waktu menyendiri. Aku berjalan menaiki angkutan umum dan turun di suatu Mall saat arah perjalanan ke rumah. Berjalan dengan tujuan hanya ingin meringankan isi kepala dan merenung atas apa yang sudah terjadi pada diri sendiri. Saat aku duduk karna sudah lelah berkeliling dan melihat - lihat, aku membuka HP dan melihat sudah ada chat BBM, aku terkejut saat melihat isi pesan tersebut ternyata dari Dhito. 

__ADS_1


"Hai Ri... Apa kabar?" Tanya Dhito di chat BBM. 


Aku tidak langsung membalas pesannya, aku hanya membaca isi pesannya saja. Tidak... Bukan maksudku untuk mengabaikannya. Tapi aku bingung di saat aku sudah memulai membalas pesannya apakah itu artinya aku akan memberikan dia kesempatan lagi? Atau hanya sebatas teman saja. Ya.. Aku menghiraukan isi pesan dari Dhito sampai aku siap membalasnya nanti atau tidak sama sekali. 


Terkadang sulit untukku memahami diri sendiri, harusnya aku bisa menghargai Dhito yang sudah berusaha untuk tetap baik denganku dan tulus menyayangiku. Tapi aku merasa jahat dan menyia - nyiakannya, terkadang aku bingung dengan diri sendiri. Ada laki - laki seperti Dhito yang benar - benar menyayangiku tapi aku begini. Dulu saat Yori, aku yang terus mempertahankannya tapi aku terus terluka karna sikapnya, saat bersama Fandi ternyata dia mau denganku hanya karna aku adalah seorang mahasiswi kedokteran. Ini seorang Dhito yang tulus tanpa melihat aku siapa dan dia terus bertahan walaupun aku sering melukai hatinya dengan kata - kata emosi. Tapi jika aku mempertahankannya aku menyakiti diri sendiri dan dia. Aku meragu dan dilema dengan pikiran dan hatiku sendiri. 


***


Keesokan harinya setelah aku me time, langsung saja Mily menghampiriku saat aku sedang duduk termenung.


"Gimana kemarin me timenya? Seru?" Tanya Mily sambil mengelus rambutku. 


"Hahahaha yaa maksud gue gimana rasanya me time? Apa yang udah lo dapet dari me time kemarin?"


"Dapet. Dapet tenangnya Mil. Tenang dari pikiran - pikiran dan saran - saran yang buat gue bingung dan harus apa. Jadi selama gue me time hati dan pikiran gue bener - bener beradu tanpa ada dari pikiran - pikiran dari orang lain." 


"Jadi lo bingung gitu ya sama saran - saran kita kemarin?" 


"Bukan, kan udah banyak saran masuk ke telinga gue gak cuma dari kalian yaa.. Dari sepupu gue, dari sahabat SMA gue. Bener - bener harus gue tampung dulu dan gue pikirin dulu, makanya gue gak mau langsung ambil kesimpulan dan keputusan. Gue takut nantinya menyesal dan merasa bersalah Mil."

__ADS_1


"Hmm okee... Paham. Jadi hati sama pikiran lo masih bergejolak yaa makanya lo butuh me time..." 


"Iyaa... Dan gue bersyukur punya FAMTOM yang mengerti keadaan gue dan kapan kalian ada di saat gue membutuhkan." 


"It's okey Ri, everythings gonna be okay kok. Dan lo tenang aja yaah, gak ada masalah yang tidak bisa lo selesaikan. Mau akhirnya lo sendiri yang menyelesaikan ataupun butuh bantuan kita - kita sahabat lo atau mungkin orang tua lo, saudara - saudara lo tapi pasti bakal selesai kok. Sabar dan terus introspeksi yaa Ri." Jawab Mily dengan bijak. 


"Makasih yaa Mil. Karna untuk kasus Dhito ini beda, gue tuh ngerasa emang feel gue gak bisa ke dia tapi di saat gue gak komunikasi sama dia gue ngerasa kayak ada yang hilang aja, tapi kalo udah balik sama dia bawaannya kesel aja gitu."


"Complicated sih, but yaaahh lo lebih sering pahamin diri sendiri aja yaa Ri maunya gimana. Tenang, kalo lo butuh temen curhat atau lo udah gak sanggup lagi buat selesaiin sendiri ada gue dan yang lainnya kok. Oke?"


"Thankyouu Mil." Jawabku langsung memeluk Mily dan meneteskan air mata.


"Iyaa sama - sama Ri..." Mily sambil mengusap - usap punggungku.


"Riri kenapaa?" Tanya Tami yang langsung memelukku juga.


"Ehh nangis loh. Jangan nangis Ri hahahahahaah..." Sahut Mily saat melihat ke wajahku.


Aku beruntung mereka semua selalu ada untukku kapanpun aku butuh mereka.

__ADS_1


__ADS_2