
Hari ini aku pulang lebih cepat karna mata kuliah hari ini hanya satu dan aku tidak mau pulang sore. Jadi aku izin pulang duluan dengan FAMTOM.
"Mau kemana sih Ri?" Tanya Sera saat aku siap - siap pulang.
"Gue ada urusan Ser, jadi harus balik duluan. Jadi gak bisa nongkrong bareng kalian hari ini yaa..." Jawabku yang sibuk merapihkan tas.
"Cieelah sibuk bener Bu Riri nih.." Ledek Sissy.
"Hahahaha gue tuh ada urusan sama nyokap.. Bukan sibuk.. Udah yaa gue duluan guys.." Jawabku sembari pamit.
"Yaudah hati - hati yaa Ri.." Jawab Mily sambil melambaikan tangannya.
"Daahh.." Sahutku yang juga ikut melambaikan tangan.
Aku pun bergegas keluar dari gedung kampus dan mencari angkutan umum. Saat di perjalanan aku menghubungi Dhito karna tiba - tiba saja aku kepikiran dia.
"Dhit.. Kamu lagi apa?" Tanyaku di chat BBM.
Sesampai aku di rumah ternyata Dhito baru membalas pesanku.
"Lagi sibuk." Balasnya singkat.
"Oh yaudah.. Nanti kalo udah gak sibuk kamu kabarin aku yaa.."
"Kalo sempet."
"Yaudah kalo udah sempet kabarin yaa Dhit.."
"Aku gak mau di ganggu. Kamu urus aja deh diri sendiri..." Balas Dhito dengan ketus.
"Yaudah kalo gitu, aku kasih waktu kamu yaa Dhit. Kayaknya kamu lagi banyak masalah deh..."
__ADS_1
Dhito pun tidak lagi membalas chatku setelah itu.
"Ri..." Panggil Mama saat aku sedang sibuk memegang HP.
"Ya Ma?" Jawabku sambil menghampiri Mama.
"Udah siap? Yuk.."
Mama memintaku untuk menemaninya ke rumah nasabah asuransinya, makanya aku pulang lebih dulu.
***
Selama di perjalanan menemani mama dengan mengendarai motor, aku hanya diam dan memikirkan kenapa Dhito tiba - tiba dingin. Tidak biasanya dia seperti ini, walaupun sebanyak apapun masalahnya dia tidak pernah cuek denganku.
"Ri... Habis dari rumah nasabah Mama kita makan bakso ya.." Sahut Mama saat aku gonceng.
"Iyaa Ma..." Jawabku singkat.
"Ri.... Habisin baksonya.. Jangan main HP terus..." Sahut Mama.
"Iyaa Ma...." Jawabku singkat.
Setelah aku dan mama menghabiskan bakso, kami pun langsung pulang. Sesampainya di rumah aku pun langsung mengganti baju dan beristirahat.
"Maa.. Aku masuk kamar ya.." Jawabku bersuara pelan.
"Iyaa..." Jawab Mama singkat.
Aku pun tiduran di kasur dan sibuk membuka HP. Sampai detik ini Dhito masih belum membalas pesanku, jujur aku gelisah dan takut nantinya dia akan tiba - tiba diam terus seperti ini. Aku pun mengirimkan chat untuknya.
"Dhit... Kamu marah sama aku ya?"
__ADS_1
Dhito pun membalasnya dengan cepat, "Aku lagi males banget sama semuanya. Kamu kenapa masih sabar ya sama aku dalam keadaan aku tadi ketus sama kamu jawab chatnya?"
"Males sama aku juga dong berarti?"
"Sejujurnya aku tuh gak bisa marah sama kamu Ri, aku cuma lagi suntuk aja sama kerjaan dan keluarga. Makanya tadi sempet emosi sama kamu."
"Sabar yaa Dhit... Namanya juga kan hidup. Aku gapapa kok... Aku kira kamu tuh marah sama aku, makanya aku bingung. Tapi yaa aku kasih waktu buat kamu supaya tenang dulu."
"Terima kasih yaa Ri.. Kamu udah mau ngertiin aku di saat aku tiba - tiba ketus sama kamu..."
"Iyaaa Dhit... Gak masalah kok.. Aku lega kalo kamu udah jujur kayak gini."
"Aku masih butuh waktu sendiri dulu oleh ya Ri?"
"Gapapa Dhit, nanti kalo udah bisa komunikasi kamu kabarin aku aja ya..."
"Iyaa makasih yaa Ri..."
"Jangan berterima kasih yaa Dhit.. Kita kan pasangan, jadi harus saling mengerti. Kamu juga kan udah baik banget sama aku... Masih mau bertahan sama aku walaupun aku masih setengah hati sama kamu..."
"Aku yang bersyukur kamu masih mau terus bertahan walaupun rasa kamu belum sepenuhnya untuk aku."
"Maaf yaa Dhit.."
"Udah ah malah jadi sedih sedihhan... Kan aku lagi butuh waktu dulu. Jangan bahas - bahas kayak gini yaa Ri..."
"Yaudah.. Selamat me time yaa..."
"Iyaa Ri..."
Aku dan Dhito pun tidak berkomunikasi sampai esok hari selama seharian. Marahnya Dhito bahkan tidak sampai membuat drama denganku. Dia masih tetap sabar membalas pesanku. Aku sangat salut dengannya, tapi mengapa hati ini masih belum bisa sepenuhnya ku berikan untuknya?
__ADS_1