Terpaksa Cinta

Terpaksa Cinta
Bab 26. Mimpi Dhito


__ADS_3

Sudah hampir sebulan hubunganku dan Dhito baik - baik saja. Bahkan banyak. Tawa dan banyak cerita yang kita bahas di percakapan chat BBM. Banyak hal aku bicarakan dengan Dhito, walaupun tidak pernah membahas masa depan kami. Aku belum berani membahas masa depan kami yang bahkan aku saja tidak tau apakah aku sudah yakin perasaanku dengan Dhito saat ini? 


"Tadi aku habis nongkrong sama anak - anak Ri. Makanya aku baru bisa hubungin kamu." Kata Dhito lewat chat BBM.


"Gapapa kok Dhit... Aku juga gak masalah kalo kamu balasnya lama, yang penting kan tetep komunikasi. Nongkrong di komplek tadi?" Balasku dengan cepat.


"Iyaa sayang, terimakasih ya. Iyaa di komplek, di rumahnya si Angga. Kamu lagi apa sekarang?"


"Oh pada nongkrong disitu. Sama Mytha juga? Aku lagi nonton TV nih Dhit. Kamu?"


"Iyaa anak - anak pada suka nongkrongnya di rumah Angga Ri. Nonton apa Ri? Aku lagi tiduran aja ini, pegel kaki aku nih efek main futsal kemarin."


"Nonton berita nih, ikutan aja Bapak nonton TV hahaha.. Yaudah isirahat gih tidur Dhit." 


"Hahaha gayaan kamu nonton berita, kayak ngerti aja. Iyaa aku nunggu kamu tidur aja yaa baru aku istirahat."


"Ih kamu gak usah nungguin aku yaa.. Aku nanti juga tidur kok. Itu kamu kecapean, jadi tidur duluan aja Dhit."


"Gapapa? Hmm yaudah kalo gitu. Belum ngantuk kok ini, nanti kalo udah ngantuk aku tidur duluan kok." 


"Yaudah.."


"Ri, aku mau cerita."


"Cerita apa Dhit?"


"Cerita mimpi aku kemarin. Aku mimpiin kamu... Aku mimpi kamu sama aku udah nikah tinggal bareng. Kita bahagia banget di mimpi, terus tiba - tiba kamu pergi dari rumah karna kamu gak mau lagi sama aku. Aku gaktau alasan kamu apa di mimpi itu yang pasti aku sedih banget. Kamu gak akan tinggalin aku kan Ri? Aku mau bener - bener berubah demi jadi Imam kamu suatu saat nanti."


Aku speechless saat Dhito bercerita seperti itu, pertama kalinya Dhito membahas seperti ini karna mimpinya. Aku merasa sedih dan seperti merasa bersalah jadinya karna perasaanku belum sepenuhnya benar - benar sayang dengan Dhito. 


"Amiiin... Aku cuma mengaminkan doa yang baik baik yaa Dhit. Namanya mimpi kan bunga tidur yaa Dhit. Jadi kamu jangan terlalu mikirin." 

__ADS_1


"Iyaa... Tapi aku udah niat kalo aku mau serius sama kamu Ri. Mama juga udah suka sama kamu.. Aku mau usaha berhenti ngerokok demi jadi Imam kamu Ri." 


"Dhit, kalo kamu mau berhenti merokok jangan karna sesuatu atau karna seseorang yaa... Tapi dari diri kamu sendiri. Aku gak mau kalo kamu berhenti merokok yaa karna aku yang minta." 


"Iyaa Ri, ini aku lagi usaha kok." 


"Kalo emang gak bisa yaudah aku gak bisa maksa dan aku juga gak tau ke depannya akan gimana nanti." 


"Jadi kamu belum tentu mau serius sama aku ya?"


"Hmmm bukan gitu Dhit, pokoknya kita kan gak ada yang tau ke depannya kayak gimana... Jadi sekarang jalanin ajaa saling perbaikin diri lebih baik masing - masing. Ya Dhit...."


"Iyaa Ri... Yaudah kamu ini gak tidur? Udah malem loh."


"Ini sebentar lagi aku tidur kok, kamu tidur duluan aja yaa.. Kan kamu mau istirahat katanya pegel - pegel.."


"Yaudah aku tidur duluan ya, kamu jangan tidur malem - malem." 


"Iyaa Good Night Sayang..." 


***


Paginya, aku terbangun tiba - tiba sebelum alarm berbunyi. Lalu aku mengambil ponselku dan membaca ulang chat dari Dhito yang menceritakan soal mimpinya. Aku menjadi benar - benar merasa bersalah jika Dhito terus berharap akan menjadi Imamku suatu saat nanti. Aku pun segera bangun dari tempat tidur dan bersiap - siap untuk Sholat Subuh terlebih dahulu, segera aku tumpahkan isi hati saat aku berdoa meminta kepada Allah, aku masih dilema atas perasaanku terhadap Dhito. Tapi perasaannya begitu dalam dan tulus sekali kepadaku. Aku begitu kejam sekali dengan orang baik seperti dia.


"Alhamdulillah anak Mama jam segini bangun sendiri." Ledek Mama saat keluar dari kamar.


"Mau kuliah pagi Ma soalnya." Jawabku sambil menyeka air mata agar mama tidak melihatku menangis saat aku berdoa.


"Yaudah mama bikinin susu yaa.. Eyang masakkin nasi goreng kayaknya deh, tadi pagi eyang telpon Mama. Subuh - subuh udah bangun masakkin nasi goreng buat cucunya."


"Iya Ma.." Jawabku sembari merapihkan mukenah.

__ADS_1


Aku pun bergegas segera mandi dan siap - siap untuk berangkat ke kampus. 


"Hari ini sampe jam berapa nak?" Tanya Mama sembari menyiapkan bekal untukku.


"Hari ini sih jadwalnya sampai sore Ma."


"Yaudah... Tuh bapak udah siap - siap di depan." 


Aku pun bergegas keluar dan pamit dengan Mama, "Aku berangkat yaa Ma.. Assalamualaikum." Sembari salim tangan Mama.


"Walaikumsalam. Hati - hati yaa Ri... Pak.." Kata Mama sambil mencium salim tangan Bapak.


"Berangkat yaa say..." Jawab Bapak.


"Dahhh...." Eyang Putri tiba - tiba keluar dari pintu rumah.


"Daah eyaaaang... Makasih yaaa nasi gorengnya.." Jawabku sambil melambaikan tangan ke eyang putri. 


Selama di perjalanan aku hanya diam, bapak mengajak ngobrol menanyakan perihal kuliahku sudah sampai mana. Tapi aku kurang fokus karna masih memikirkan omongan Dhito semalam. Sampai akhirnya bapak sampai mengantarku di depan kampus. 


"Masih ada uang pegangan Ri?" Tanya Bapak.


"Udah habis Pak hehehe..." Jawabku sambil terkekeh.


"Kamu kalo gak ditanyain gak bilang uangnya udah habis. Nih bapak kasih lagi. Kalo habis jangan diem aja.." Jawab Bapak sambil mengeluarkan uang dari dompet.


Percayalah, Bapak memberikan uang jajan Lima Puluh Ribu Rupiah itu aku sayang sayang bisa sampai 3 hari. Bahkan aku menyisahkan uang untuk aku tabung. Aku tidak mau terus - terussan minta uang jajan yang banyak karna aku tau bayar sekolahku saja sudah sangat mahal. 


"Iyaa Pak terimakasih. Yaudah aku turun ya Assalamualaikum." Jawabku sembari salim tangan Bapak dan turun dari  mobil.


"Yaudah hati - hati. Walaikumsalam." 

__ADS_1


Bapak pun pergi dengan mobilnya dengan kecepatan rendah, terkadang jika pagi Bapak di rumah. Bapak mengantarkanku ke kampus setelah itu lanjut ke cibubur untuk praktek ke klinik 24 jam yang sudah menjadi tempat kerjanya sedari masa bujangan. 


__ADS_2