Terpaksa Cinta

Terpaksa Cinta
Bab 32. Curhat


__ADS_3

Aku senang sekali menikmati cuaca pagi ini, mumpung hari libur aku masih mau bermalas - malassan di kasur dan menatap embun pagi dari jendela kamar. Mendengar rintik hujan yang lembut. Aku sambil mendengarkan alunan musik dari radio di kamar. Saat itu yang aku ingat, lagu Judika Mama Papa Larang. Aku ingat liriknya saat itu, "Kamu s'galanya tak terpisah oleh waktu, biarkan bumi menolak ku tetap cinta kamu....Biar Mamamu tak suka, Papamu juga menolak. Walau dunia menolak ku tak takut. Tetap ku katakan ku cinta dirimu..." Sungguh menyakitkan kalau mendengar lirik dari lagunya. Aku berfikir, jika aku meceritakan soal Dhito apah Mama dan Bapak juga akan menolaknya ya...


Aku pun terbangun dari tempat tidur dan keluar dari kamar. Saat aku keluar kamar, aku tidak melihat Mama dan Bapak di dalam rumah. Bahkan ku intip kamar mereka juga tidak ada. Ah mungkin mereka sedang pergi keluar saat aku masih tidur tadi. Aku pun berjalan menuju meja makan, ternyata mama sudah menyiapkan susu cokelat hangat. Aku pun segea meminumnya sampai habis. Indahnya di hari libur....


Tak lama aku mendengar suara mobil datang, rupanya itu Mama dan Bapak.


"Assalamualaikum..." Salam Mama saat masuk ke dalam rumah.


"Walaikumsalam.." Jawabku sembari meletakkan gelas bekas susu tadi di tempat cucian piring. 


"Eh anak gadis mama sudah bangun yaa... Kirain masih di kasur..." Ledek Mama.


"Udah Ma... Mama sama Bapak dari mana?" 


"Habis dari ATM ambil uang tadi ada transferan dari nasabah Mama... Udah di minum susunya?" 


"Ohh.... Udah Ma..." 


"Assalamualaikum..." Salam Bapak saat masuk ke dalam rumah setelah memarkirkan mobil.


"Walaikumsalam.." Jawabku dan Mama. 


"Udah bangun Ri? Ayo masak... Bapak beliin tempe, sayur bayam sama cabe lengkap nih." Kata Bapak sambil meletakkan belanjaan dari pasar di dapur. 


"Tadi sekalian dari pasar?" Tanyaku.


"Gak nak, tadi kita ke tukang sayur belakang aja... Bapakmu yang belanja.. Seperti biasa..." Jawab Mama yang sambil menghitung uang yang sudah diambil di ATM tadi. 


"Okee.. Tempenya mau di goreng biasa atau pakai telur?" Tanyaku sambil membuka plastik belanjaan.


"Goreng biasa aja Ri... Itu bayamnya di buat oseng pake telur yaa... Biasa." Jawab Bapak. 


"Oke siap... Ini mau aku semua yang masak atau gimana Ma?" Tanyaku.


"Kamu lah semuanya... Mama bantuin aja yaa.." Jawab Mama yang sudah selesai menghitung uang, lalu mencuci tangannya di dapur. 


"Okee.. Aku yang masak, mama yang ngupasin bawang sama bersihin bayamnya yaa.." 


"Siap Bos..." Jawab Mama yang langsung menyiapkan wadah untuk membersihkan bayam dan mengupas bawang.

__ADS_1


Aku dan Mama pun sibuk di dapur, Bapak seperti biasa yaa sibuk dengan tanaman di luar. Karna hujannya juga sudah reda, jadi bapak membereskan tanaman - tanaman kesayangannya. 


"Udah cukup kan ya Ma asinnya?" Tanyaku saat sambil mencicip rasa bayamnya.


"Coba mana sini..." Kata Mama yang sambil mencicipinya.


"Gimana?" 


"Udah lah cukup ini. Pas." 


"Okee, aku matiin yaa kompornya.. Tinggal goreng tempenya nih." 


"Iyaa itu piringnya udah Mama siapin, kamu tuangin ke situ yaa bayamnya. Tempenya kamu tirisin dulu itu minyaknya banyak nanti."


"Iyaa Mama Riri paham kok." Jawabku sembari mengambil piring untuk bayam dan tempe. 


"Eh sambelnya belum Ri... Itu goreng dulu cabe sama tomatnya. Pake terasi ya.." Sahut Mama sembari mencuci piring.


"Astaghfirullah... Iya ini aku goreng dulu yaa... Udah di cuci kan ini Ma?"


"Udahhh.." 


"Ma..." Panggilku saat sambil mengulek sambal.


"Kenapa Ri?" Tanya Mama yang sedang menyiapkan piring untuk Bapak.


"Ini ada cowok deketin aku... Namanya Dhito. Dia temennya Mytha di deket rumahnya, terus dia juga senior Wina di SMA." 


"Kok kamu bisa kenal?"


"Yaa emang udah lama kenal sebenarnya, karna dulu dia pernah deket sama temen aku di sekolahku yang di halim."


"Anaknya baik?"


"Baik.. Tapi dia perokok."


"Yaudah gak usah lah Nak.. Jadi temen aja gapapa." 


Jelas sekali mama langsung menolak. Padahal aku baru saja bilang dia perokok. Kali ini rasanya aku sudah tidak sanggup lagi jika masih terus bertahan. 

__ADS_1


"Hmm iya aku juga gak mau kok Ma.. Yaa jadi temen aja."


"Emang dia udah nembak kamu?" 


"Udah.. Tapi aku bilang yaaa gak dulu.." Aku berbohong kali ini, aku tidak ada nyali untuk mengatakan bahwa aku sudah berpacaran dengannya hampir setahun walaupun putus nyambung.


"Yaudah lah kamu temenan aja sama dia.. Kamu juga tau sendiri kan Bapakmu gak suka kalo kamu dapet cowok perokok." 


"Iya Ma..." 


Aku semakin menutupi tentang Dhito karna aku merasa mama sudah memasang tembok tinggi untuknya. Aku sekarang jadi bingung, apa aku harus berusaha lagi untuk membuat dia berhenti merokok atau aku yang berhenti memberikan harapan palsu....


"Udah selesai nguleknya? Kalo udah langsung diletakkin diatas meja yaa Ri.." 


"Iyaa ini baru selesai.."


"Pak.... Makanannya udah mateng nih.." Teriak Mama dari depan pintu rumah.


"Okee.." Jawab Bapak dari luar. 


Bapak pun segera masuk ke dalam rumah dan mencuci tangannya. Bersiap untuk makan bersama. Walaupun makan kami sederhana, hanya tempe goreng, sayur bayam  dan sambal terasi tapi kami sudah sangat bahagia. Sederhana. Itulah keluargaku. 


"Enak nih masakannya Riri..." Sahut Bapak sambil asik mengunyah tempe goreng.


"Alhamdulillah anaknya udah bisa masak ya Pak.." Jawab Mama.


"Yaampun masak gini doang mahhh biasa aja... Aku gak jago masak.." Jawabku.


"Ehhh apapun itu minimal kamu sudah bisa masak di dapur, anak perempuan harus bisa masakin nanti buat suaminya walaupun cuma telur ceplok ya nak." Sahut Mama. 


"Iyasih..." 


"Nanti kalo udah nikah belajar lagi masakan yang lain, jangan kayak Mama masaknya yaa itu - itu aja.." Jawab Mama sambil tersenyum.


"Iyaa Alhamdulillah Bapak masih sayang dan menerima Mama yaa.. Cieelahh." Ledekku.


Bapak terkekeh dan Mama juga ikut tertawa terbahak - bahak. 


Setelah aku cerita tentang Dhito dengan Mama hari itu, besoknya aku sudah tidak lagi membahasnya. Bahkan aku selalu menghindar untuk membahasnya dan jika Dhito mengajakku jalan keluar aku akan selalu beralasan. 

__ADS_1


__ADS_2