
Setelah jalan dengan Gaga kemarin, aku jadi menjaga jarak dengannya karena aku merasa Gaga juga menghindariku. Aku tidak mengerti.
Selesai kuliah hari ini, rasanya aku mau ngobrol dulu dengan sahabat - sahabatku di mobil Tami. Karena Mily dan Fily pulang duluan karena ada urusan keluarga.
"Gimana lo sama Gaga Ri?" Tanya Tami.
"Gak gimana gimana Tam.. Yaaa gini ajah." Jawabku santai.
"Maksud gue setelah jalan kemarin kalian ada kemajuan gak?"
"Gak tuh yaaa... Gue juga udah gak kontak ini sama dia. Biasanya dia tiap hari chat gue.. Tapi setelah kemarin jalan dia udah gak hubungin gue lagi."
"Lo gak chat dia duluan emang?" Sera langsung menyambar.
"Gak laah. Males banget.." Jawabku kesal.
"Kenapa Ri?" Tanya Tami.
"Jujur yaa.. Dari awal gue deket sama Gaga gue tuh gak ada feel gitu. Terus gak tau kenapa gue kayak gak nyambun ngobrol sama dia. Yaah dia baik, terus dia juga perhatian. Tapi gue kayak gak cocok aja kalo nanti akhirnya lebih deket lagi.." Jawabku dengan panjang lebar.
"Tapi gue udah ngerasa sih Ri, lo ke Gaga tuh kayak gak ada feel. Cuma deket yaa tapi gak kasih hati..." Jawab Tami.
"Masa sih?" Tanya Sera.
"Ah elu mah emang gak ngeh." Sahutku.
"Jadi ini hubungan lo sama Gaga gak lanjut?" Tanya Tami.
"Iyaa.. Gue udah males."
Tiba - tiba ponselku berbunyi. Ada chat masuk dari Dhito.
"Hai Ri.. Apa kabar?"
Aku pun segera membalasnya, "Ya.. Alhamdulillah baik Dhit. Lo sendiri apa kabar?"
"Iyaa Alhamdulillah sehat juga kok Ri...Lagi apa?"
"Masih di kampus kok Dhit. Kenapa?"
"Oh, aku kira kamu udah pulang. Gapapa kok Ri."
"Dhit, posisi kita sekarang kan berteman ya.. Bisa gak jangan pakai aku kamu lagi?"
"Kenapa Ri? Kan kita masih break. Kamu masih kasih aku kesempatan kan?"
"Iyaa memang kita break, tapi kan posisi kita sebagai teman. Jadi biasain pakai kata lo dan gue lagi yaa Dhit."
"Jadi harus merubah kata kamu menjadi lo, kata aku menjadi gue? Tapi kalo aku lebih nyaman pakai sebutan aku kamu aja gak boleh?"
__ADS_1
"Mau sampai kapan sih kayak gini Dhit?"
"Kamu kenapa sih Ri? Aku disini cuma mau coba kontak kamu lagi loh karena udah hampir sebulan kita gak komunikasi. Tapi disini kamu malah membahas kata aku dan kamu atau gue dan lo. Aku gak ngerti..."
Aku pun tidak membalas chat Dhito yang terakhir.
"Lo kenapa Ri? Muka lo kok tiba - tiba tegang gitu?" Tanya Tami sembari menatapku tajam.
"Ini loh, tiba - tiba si Dhito ngechat gue lagi. Gue sebel banget sama ini anak, udah gue bilang jangan pake aku kamu. Eh masih aja kekeh.. Padahal posisi kita sekarang lagi break." Jelasku dengan penuh emosi.
"Sabar sabar Ri..." Sahut Sera.
Aku menghela nafas.
"Mau apapun pilihan lo nanti Ri, akhirnya mau gimana sama Dhito dan mau gimana nantinya hubungan lo sama Gaga.. gue tetep support lo yaa.. Yang penting kalo mau cerita yaa cerita aja..." Jawab Tami sembari mengelus pundakku.
"Makasih yaa Tam..." Jawabku sambil tersenyum.
"Eh gue juga dong.... Gue juga kok Ri dukung apapun keputusan lo.." Sahut Sera.
"Hahaha iya iyaa makasih yaa Ser..." Jawabku dengan tawa.
Tiba - tiba ponselku berdering tanda telepon masuk. Saat ku lihat ternyata dari Dhito, Tami dan Sera saling melihat setelah melihat layar ponselku.
"Angkat aja Ri.." Kata Tami.
"Jangan Ri..." Kata Sera.
"Gak... Emosi Riri belum stabil Tam... Daripada nanti di telepon jadi emosi." Sahut Sera.
"Ser, dari pada gak angkat sama sekali. Mending angkat dulu aja..." Debat Tami.
"Tam, gak akan penyelesaian apa - apa.." Debat Sera.
"Ihhhh kalian nih, kok malah pada debat sihh... Udah udah, ini telepon keburu mati. Jadi gue matiin aja yaahh sekalian.." Jawabku dengan nada tinggi.
"Ri... Kenapa gak lo dengerin dulu dia mau ngomong apa sama lo?" Tanya Tami.
"Buat apa?" Tanyaku kesal.
"Biasain dengerin deh Ri, jangan mau di denger." Jawab Tami.
"Tam, gue kurang sabar ya sama Dhito? Atau kurang baik?"
"Bukan gitu Ri, lo jangan maunya di denger kali ini. Coba dulu dengerin si Dhito... Jangan malah emosi gini dong.." Jawab Tami lagi.
"Udah udah.. Kok malah kalian yang ribut. Lagian teleponnya udah mati itu.... Masih mau di debatin emang?" Timpal Sera.
Aku dan Tami menghela nafas.
__ADS_1
"Maaf yaa Tam, gue bukannya marah sama lo.." Aku berusaha tenang.
"Iyaa Ri.. Gue paham kok... Lagian lo udah sampai sejauh ini kasih Dhito kesempatan. Mungkin lo sekarang udah lelah banget, makanya gini sikap lo ke dia."
"Gue salah yaa minta dia berhenti merokok?" Tanyaku sambil meneteskan air mata.
"Gak kok Ri... Malah itu baik.." Sahut Sera.
"Ri.. Jangan nangis." Tami langsung menggenggam tanganku.
Tiba - tiba ponselku berdering lagi.
"Ri... Saran gue dengerin dulu deh. Dia mau ngomong apa itu sama lo." Kata Tami saat melihat layar ponselku.
Aku pun menghela nafas panjang dan mengangkatnya sembari menahan tangis.
"Halo.... Assalamualaikum..." Jawabku dengan nada pelan.
"Iyaa halo Walaikumsalam... Chat aku kenapa gak di bales?" Jawab Dhito tegas.
"Apalagi yang harus di bahas setelah isi chat dari lo?" Jawabku kesal.
"Setidaknya kamu kasih aku alasan lain selain itu."
"Alasan apalagi yaa Dhit?"
"Yaa kenapa kamu minta aku nurutin terus apa yang kamu mau?"
"Maksud kamu?"
"Yaa ini contohnya. Dari kemarin aku udah ikutin semua mau kamu.. Kenapa sih gak sekali aja kamu ikutin kata aku?"
"Oh ceritanya mau ungkit - ungkit masalah rokok?"
"Yaa sekarang gini.. Namanya pasangan kan harus saling menerima satu sama lain.. Kenapa kamu gak mau berusaha gitu sama aku?"
"Emang salah gue yaa terima perasaan lo dari awal.."
Dhito menghela nafas.
"Udah ya. Gue mau kuliah lagi... Assalamualaikum..."
"Walaikumsalam..."
Lalu aku langsung menutup ponselku lalu menangis.
"Ri..." Sera dan Tami mendengar pembicaraanku dan Dhito di telepon, lalu mereka memelukku.
Dan aku menangis dengan hebatya setelah itu. Sera dan Tami berusaha menenangkanku.
__ADS_1
Aku semakin yakin kali ini untuk selesai dengan Dhito.