Terpaksa Cinta

Terpaksa Cinta
Bab 36. Introspeksi


__ADS_3

Kali ini aku sedang sibuk - sibuknya ujian, banyak materi yang harus aku pelajari. Dan yahhh.... Jadi mahasiswi kedokteran itu sangat tidak bisa di tebak. Terkadang aku bisa dengan mudah belajar dan mengerti apa yang aku pelajari, tapi terkadang aku tidak bisa memahami dan mengerti apa yang sudah aku pelajari. Benar - benar memuakkan, dulu aku berfikir menjadi dokter itu sepertinya menyenangkan. Mendengar curhatan orang - orang yang datang berobat penyakitnya diawali dengan pikiran dan cerita - cerita kehidupannya entah bercerita soal keluarga ataupun teman - temannya. Tapi ternyata sebelum ke bagian menyenangkan itu, harus ke bagian yang menyebalkan dulu. Harus belajar anatomi manusia, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Bagaimana proses bernafas, proses makanan masuk sampai akhirnya di buang ke pembuangan terakhir, bagaimana otak bisa bekerja, bagaimana jantung bisa bertahan, sampai akhirnya kenapa ada diabetes, kenapa ada hipertensi, kenapa ada kanker, kenapa ada usus buntu, kenapa terjadi gagal jantung, gagal ginjal, lalu bagaimana bisa menyatukan tulang yang patah, proses tumbuh kembang manusia dan masih banyak lagiiiiii. Bagaimana bisa di saat aku sedang dilema dengan hubunganku dan Dhito, aku juga terus memikirkan pendidikanku yang semakin hari semakin sulit. Bahkan jika aku sudah mulai stress dengan ujian, aku tidak bisa belajar tapi memilih tidur. 


"Duh gue belum siap ujiannnnn.." Kata Mily sambil mengacak - acak rambutnya sendiri.  


"Gue juga ih.. Duh udah serangan panik nih gue.." Sahutku sambil terbatuk - batuk.


"Duhhh bisa gak yaa gue nih ngerjain nanti.." Sahut Sera sembari mondar - mandir berjalan di depanku. 


"Diem kek Ser.. Bikin gue makin pusing aja liat lo bolak balik kayak setrikaan." Sahut Fily.


Tami, Resty, Aira, Yanti, Sissy dan Viana masih diam dan terus membolak balik kertas materi yang dengan serius mereka baca. 


"Tuh lo liat anak - anak pinter pada diem. Lo pada bawel banget.." Sahut Fily lagi. 


"Udah siap di bantai lah gue nih sama dokternya kalo gak bisa jawab di dalem.." Sahut Sissy tiba - tiba. 


"Hahahha dari tadi lo anteng banget padahal Sy..." Ledek Mily. 


"Pusing nih Miii... Bisa gak sih aku tukeran otak sama yang pinter gitu..." Jawab Sissy mengerutu. 


"Hahahahaha yaudah sana lo buka dulu isi kepala lo sama yang paling pinter di angkatan kita." Sahutku. 

__ADS_1


"Udahlah pasrah aja gue..." Jawab Tami. 


"Gak sih, lo mah pinter..." Sahutku.


"Amiin aja deh gue di bilang pinter Ri..." Jawabku.


Tak lama kami semua di panggil untuk masuk ke ruangan dan memulai ujian hari ini. Kami sudah berusaha dan berdoa tinggal bagaimana Tuhan menentukan kita bisa mengerjakan atau tidak, lulus atau tidak lulus. 


***


Tiba saatnya di akhir ujian rasanya lega sekali hari terakhir ini. Setelah selesai ujian hari ini kami berencana jalan ke mall untuk sekedar makan dan jalan - jalan. Yaa anggap seperti refreshing untuk kami para calon dokter yang sudah lelah belajar dan stressnya menghadapi ujian hehe... 


"Aneh kenapa?" Tanyaku lagi.


"Yaa biasanya lo lebih bawel aja gitu, ini dari hari pertama ujian udah murung. Jarang ketawa..." 


"Iya ya? Emang keliatan banget kalo gue lagi murung?" 


"Eh... Lo tuh temen deket gue Ri... Gue udah bisa tebak lah. Kenapa? Cerita sama gue.." 


"Gapapa kok, gue lagi butuh waktu introspeksi aja untuk hubungan gue sama Dhito Mil. Gue kayak egois aja gitu sama dia, dia udah usaha banget supaya gue mau menerima sepenuhnya hati dia. Tapi guenya kayak gak mau juga berusaha membuka hati buat dia sepenuhnya. Cuma ya gue dilema Mil, gimana caranya gue bisa buka hati sedangkan sesuatu yang gue gak suka di diri dia aja masih dia lakuin... Yaitu merokok. Gue mau kok bawa dia kenalin ke orang tua gue.. Asal dia mau stop ngerokok. Tapi kan buktinya sampe sekarang gak bisa dia. Dan gue gak bisa maksa itu. Itu loh intinya." 

__ADS_1


"Duh duh duh pusing juga yaa jadinya... Jujur yaa Ri... Yang tadinya gue kesel sama lo malah jadi kesel sama Dhito. Karna yaa jadinya dia maksa lo buat sayang sama dia tapi dianya gak bisa berubah. Ya ngapain mempertahankan. Sabarnya dia jadi gak ngaruh apa - apa buat lo Ri." Jawab Mily kesal. 


"Tapi gue juga gak mau salahin dia Mil. Ini salah gue juga, harusnya dari awal gue gak kasih dia kesempatan."


"Yaa oke lo salah tapi setidaknya dia dewasa dong. Masa mau bertahan sayang sama lo tapi dia gak mau usaha lepas rokok. Ya mending gak usah maksa bertahan, kan bikin lo jadi dilema."


"Yaaudah makanya skearang gue harus introspeksi dulu. Gue masih diemin dia udah seminggu, gak komunikasi juga. Gue butuh waktu bilang sama dia, dan dia masih mau nunggu sampe gue bener - bener buka hati buat dia. Bikin sebel dan bingung aja." 


"Udah udah.. Yang penting sekarang lo happy dulu sama kita supaya sejenak pikiran lo lepas dari Dhito."


"Hahaha iya makasih yaa Mil. Gue bersyukur banget bisa punya sahabat kayak kalian..." 


"Woy... Lo jangan asik ngobrol berdua doang dong... Cerita sama kita juga..." Sahut Fily.


"Hahaha iya iyaaa..." 


Akhirnya aku menceritakan isi hatiku ke mereka. Yang awalnya berpihak dengan kebaikkan dan ketulusan hati Dhito sekarang mereka jadi kesal dan mensupport aku apapun pilihanku. Yaa memanggap aku yang salah di awal menerimanya karna kasihan dan mau memberikan kesempatan. Tapi kali ini aku harus berusaha ikuti kata hati lanjut atau stop.


"Semoga lo bisa lebih bijak yaa Ri, bakal lanjut atau gak sama Dhito." Sahut Tami.


"Amiiinnn... Makasih yaaa tam. Makasih yaa semuaaa.." Jawabku sambil memeluk mereka semua.

__ADS_1


__ADS_2