
Setelah selesai makan, Dhito mengantarkanku ke rumah. Kali ini aku mau, tapi aku memintanya hanya di depan ujung gang rumahku saja.
"Dhit, makasih yaa.." Aku tersenyum dan memegang tangannya.
"Sama - sama Ri..." Jawab Dhito sambil tersenyum.
"Yaudah Dhit, gue masuk yaa.."
"Hmm iya masuklah, udah malem."
"Okee.. Hati - hati yaa.."
"Iyaa nanti aku chat kamu kalo udah di rumah. Gapapa kan?"
"Iyaa gapapa kok."
"Oke. Pulang yaa Ri..."
Dhito pun pergi meninggalkanku dengan motor maticnya. Aku pun segera masuk ke dalam gang rumahku dan segera masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum..." Salamku saat masuk ke dalam rumah.
"Walaikumsalam.." Jawab Mama.
Aku masuk tanpa bicara lagi setelah salam.
"Loh, kamu pulang naik apa?" Tanya Mama.
"Hmm Aku naik ojek tadi Ma." Jawabku berbohong.
"Kok kamu gak kontak mama sih? Kan bisa mama jemput."
"Yaudah Ma.. Hpku low batt soalnya Ma.." Aku berbohong lagi.
"Oalah.. Yaudah sana mandi, udah makan?"
"Iya ini aku mau mandi, udah makan kok aku tadi."
"Makan apa?"
"Makan nasi uduk sama lele."
"Makan dimana itu?"
"Tadi makan sama anak - anak famtom." Aku berkali - kali berbohong untuk menutupi bahwa aku jalan dengan Dhito.
"Enak banget yaa nasi uduk sama lele goreng... Beli dimana nak?"
"Beli deket kampus kok Ma.. Yaudah ah aku mandi dulu. Gak mandi - mandi ini mah."
"Hahaha iya iya sana mandi."
Setelah aku selesai mandi, aku membuka ponsel sudah ada chat dari Dhito.
"Ri.. Aku udah sampai rumah. Kamu udah bersih - bersih?"
"Iyaa Dhit. Udah kok, baru aja selesai."
"Yaudah, istirahat gih."
"Iyaa... Lo gak istirahat Dhit?"
"Aku lagi nunggu anak - anak nih. Katanya pada mau main ke rumah, soalnya kan besok libur juga Ri."
__ADS_1
"Oh pada mau nongkrong?"
"Iyaa nongkrong di rumah. Tadinya mau di lapangan, tapi lagi gak jadi. Pada maunya di rumah aku.."
"Gak capek apa?"
"Aku? Hahaha emang aku capek ngapain?"
"Yaa tadi kan kita habis jalan..."
"Hahaha jalan sama kamu mah aku gak bakalan capek Ri.. Yang ada aku malah seneng banget.."
"Masa sih? Lo masih sesuka itu sama gue?"
"Bukan suk lagi Ri, Aku masih sayang sama kamu."
"Kalo suatu saat gue hilang rasa sama lo, lo masih tetep berusaha buat sayang sama gue?"
"Bukan berusaha, tapi emang aku akan tetap masih sayang sama kamu sampai kapanpun."
"Tapi kalau udah gak sanggup lo harus move on yaa Dhit."
"Kamu mau aku lupain kamu? Susah sih. Aku udah sayang banget sama kamu Ri."
"Hmm gimana caranya lo gak terlalu sayang sama gue?"
"Yaa gak gimana - gimana. Kalo pun kita jodoh yaa aku bakal tetep sayang terus sama kamu, tapi kalo gak jodoh yaa nanti juga hilang dengan sendirinya kok."
"Yaah.. Yang penting kalaupun kita gak bisa sama - sama, setidaknya kita masih berteman yaa Dhit. Inget yaa.."
"Iyaa Ri, sekarang perasaan kamu sama aku gimana?"
"Lo lagi ngejebak gue ya?"
"Iyaa pertanyaannya tuh."
"Yaa gak, aku cuma mau tau perasaan kamu sekarang gimana sama aku.. Gakmau menjebak atau gimana.."
"Yaa terkesannya hari ini penentuan hubungan kita lanjut atau gak Dhit."
"Emang gitu ya?"
"Iyaa.."
"Gak Rii.. Aku cuma mau tau aja kok."
"Okee.. Kalo mau tau aja, jawabannya adalah ya gak gimana gimana..."
"Gak gimana? Maksudnya?"
"Yaa perasaan gue sama lo sekedar nyaman aja.. Lo baik dan sangat melindungi gue. Tapi untuk perasaan yang lebih masih belum ada. Ini kayaknya semakin hilang rasa gue sama lo.."
"Alhamdulillah kamu udah nyaman Ri.. Itu udah kemajuan buat aku walaupun perasaan kamu belum ada sepenuhnya. Kalau masalah hilang rasa, mungkin karna kita break terlalu lama yaa jadi gini. Gapapa Ri.."
"Hmm maybe.. Yah gak tau lah Dhit. Eh gue ngantuk nih, tidur duluan ya.."
"Yaudah, selamat istirahat yaa.."
"Iyaa... Good Night Dhit."
"Night."
Usahaku sudah maksimal untuk tetap mau menerima Dhito, tapi rasanya hati ini belum bisa menerimanya. Aku tidak tau kenapa rasanya kali ini semakin hilang, bukan karna dia perokok aku mulai melupakannya tapi mungkin karna aku yang berusaha menutup hati rapat - rapat. Tapi Dhito selalu berusaha untuk meyakinkanku bahwa dia bisa membuatku benar - benar sayang dengannya.
__ADS_1
***
Pagi yang cerah untukku bersepeda. Aku bangun lebih pagi dari biasanya, dan mengeluarkan sepeda.
"Mau sepedaan kemana kamu Ri?" Tanya Mama saat aku bersiap - siap.
"Yaa paling ke rumah Wina Ma..."
"Yaudah hati - hati yaa Nak, liat kanan kiri kalo mau nyebrang."
"Iyaa Maaa.. Bapak pulang jam berapa?"
"Jam 10 katanya... Kamu harus udah pulang yaa sebelum Bapak sampai."
"Iyaa siap bos! Yaudah aku berangkat yaa Ma..."
"Iyaa hati - hati.."
"Assalamualaikum.."
"Walaikumsalam..."
Aku pun bersepeda ke arah rumah Wina, dan memang sudah janjian mengajaknya bersepeda ke arah rumah Dhito.
"Ri.. Lo jangan ngebut - ngebut yaa..." Sahut Wina saat dia keluar dari pagar rumahnya.
"Iyaa bawel, gue udah jemput lo jauh - jauh nih kesini."
"Ihhh.. Deg - deggan deh gue."
"Deg - deggan kenapa deh lo?"
"Deg - deggan nanti ketemu si Ka Dhito gak ya? Nanti gue jadi nyamuk lo berdua lagi ah.."
"Apaansih. Paling dia masih molor, gue juga gak bilang mau sepedaan deket rumah dia."
"Ih kok lo gak ngomong sih?"
"Yaa ngapain Win?"
"Yaa seenggaknya kasih tau Ri.."
"Udah deh, ini mau debat apa mau jalan?"
"Ih galak amat, iyaa yaudah yaudah jalan lah kita cuss.."
Aku dan Wina pun bersepeda ke arah rumah Dhito, lalu kami sarapan bubur di kompleknya.
"Eh kalo tiba - tiba ketemu Dhito gimana Ri?"
"Yaa gak gimana - gimana lah. Lagian gue juga masih komunikasi sama dia kok.."
"Hmmm gituuu.."
"Gue juga habis nonton kok semalem sama dia di kokas.."
"Hah???? IHHHHH kok lo gak bilang sama gue sih? Parah sih.. Terus kalian balikan lag ini?"
"Belum Win... Gue gak tau sih bakal balikan atau gak.."
"Yaah yaudahlah pokoknya yang terbaik aja buat kalian yaa...."
Aku sempat berfikir, sepertinya aku tidak boleh membuat Dhito semakin lama menunggu keputusanku. Aku harus tegas dengan keputusanku.
__ADS_1