Terpaksa Cinta

Terpaksa Cinta
Bab 55. Rahasia Dhito


__ADS_3

"Eh Ri.. Tunggu dulu yaa.. Gue masih kenyang nih. Nanti kalo langsung sepedahan, bisa tepar gue." Kata Wina sembari mengelus - elus perutnya. 


"Iyaa, santai ajaa. Gue juga masih kekenyangan coy..."


"Eh mending lo chat si Dhito Ri..."


"Mau ngapain?"


"Yaa kasih tau kita disini. Basa basi ajee.."


"Gak ah... Lo aja." 


"Hahahaha bener ya? Gue chat nih.."


"Iyaa silahkan.."


"Okee.." Wina pun sambil tersenyum.


"Beneran?" Tanyaku sambil menarik ponsel Wina.


"Ihhh kaget ah. Iyaa benerannnn.. Sini HP gue..." Wajah Wina terkejut.


"Dih.. Apaan nih chatnya.. Ka.. Gue sama Riri di tukang bubur deket rumah lo nih. Sini dong.. Udah di send lagi.." Aku membaca isi chat Wina ke Dhito keras - keras.


"Ri.. Sini HP gue." Wina berusaha mengambil ponselnya dari tanganku.


"Iya iya ini gue balikin HP lo. Yaudah yuk balik.." Ajakku ke Wina.


"Eh gila lo ya? Gue baru aja chat Dhito suruh kesini, lo langsung minta balik. Jangan gitu kek Ri. Kasian anak orang..."


"Yaa lagian lo ngomong sama dia, kan gue bilang gak usah."


"Lo tadi mengiyakan yaa Ri.. Udah nunggu balesan dia aja dulu deh..."


"Lama Winnn, gue ngerinya dia masih tidur itu. Soalnya semalem begadang dia nongkrong sama temen - temennya.."


"Yaudah tunggu aja dulu lah Ri... Siapa tau sebentar lagi di jawab sama Dhito. Yaa 20 menit lagi deh, baru kita balik."


"Astaga.. Lama banget 20 menit Win.. 5 menit ajalah. Gue mau istirahat.."


"YaAllah Riri.. Gak sabaran banget. Yaudah... 10 menit deh. Gimana?"


"Yaudah 10 menit yaa... Bener yaaa.." 


"Iyaaa..."


Wina terus membuka dan menutup ponselnya hanya untuk memastikan Dhito membalas pesannya.


"Udah 5 menit nih..." Sahutku sembari melihat jam tanganku.


"Iyaa masih ada 5 menit lagi Ri. Sabar..." 


"Iyaa gue tungguin kok..." Jawabku sembari melihat ponsel.


"Duh lama banget nih Ka Dhito." Wina menggerutu.


Setelah 10 menit aku langsung berdiri dari tempat dudukku.


"Ih mau kemana Ri?" Tanya Wina.


"Udah 10 menit Win, udah lah yuk pergi. Balik pulang, nanti lo di cariin nyokap lo.." Aku langsung berjalan menuju sepedaku.


"Ihh Ri....tungguin." Wina langsung bergegas berdiri dari tempat duduk dan menyusulku. 


Tanpa menunggu kabar dari Dhito, akhirnya aku dan Wina pulang. Di perjalanan Wina tampak sedih karena aku tidak menunggu Dhito.


"Lo kenapa Win? Jangan sedih gitu lah." Tanyaku saat sampai di rumah Wina.

__ADS_1


"Lo jahat Ri. Kasian Ka Dhito." Jawab Wina.


"Lah.. Coba sekarang dia bales gak chat lo?" Tanyaku dengan nada tinggi.


"Belum." Jawab Wina singkat.


"Nah kan. Yaudah. Kalo kita nunggu lebih lama lagi, bisa capek kita Win."


"Iyasih. Ah tapi kan gue udah chat dia, seenggaknya di liat gitu HPnya kek."


"Yaudah biarin aja dia masih tidur itu. Yaudah gue balik yaa.." 


"Iyaa hati - hati lo Ri.."


"Okee.."


Aku pergi meninggalkan Wina dan pulang untuk beristirahat. Sesampainya di rumah aku langsung membersihkan badan dan makan lagi pastinya. 


"Tadi sepedahan kemana aja Ri?" Tanya Mama.


"Hmm ke arah pondok kelapa sih Ma.."


"Jauh yaaaa.. Wina kuat itu sepedahan sampai sana?" 


"Kuat kok dia Ma.. Pelan - pelan kok kita sepedahannya." 


Tak lama saat aku sdang berbincang - bincang di meja makand engan mama, Bapak pulang membuka pagar rumah.


"Alhamdulillah Bapak udah pulang." Mama langsung keluar rumah untuk menyambut bapak pulang.


Tiba - tiba aku mendengar ponselku berdering keras dari kamar, aku pun segera berlari masuk ke kamar. Saat aku melihat, ternyata Dhito menelponku, aku pun segera mengangkatnya.


"Halo..."


"Halo Ri. Assalamualaikum.." Salam Dhito dari telpon.


"Kamu tadi sepedahan sama Wina ke komplek rumah aku?" Tanya Dhito dengan semangat.


"Hmm iya.. Pasti gara - gara Wina yaa tadi Chat?" Aku langsung to the point.


"Hmm iyaa hehehe.. Terus ini udah pulang?" 


"Udah laahh, masamau nungguin lo sampe bangun. Gue tau itu lo masih tidur tadi.. Kan lo bilang semalem lo begadang." 


"Hehehe iyaa Ri.... Aku kira kamu nungguin tadi."


"Gak lah. Eh Dhit, chat aja yaa. Ini gue mau ke depan, bokap pulang soalnya."


"Oh oke oke Ri. Yaudah kalo gitu Assalamualaikum Ri."


Iya iya Walaikumsalam." 


Setelah aku menutup telpon dari Dhito, aku langsung keluar kamar dan menyambut bapak pulang.


"Assalamualaikum." Sapa Bapak.


"Walaikumsalam Pak." Jawabku.


"Tadi habis sepedaan kata Mama?" Tanya Bapak sambil tersenyum.


"Iyaa Pak.. Ini mau istirahat. Capek banget, tadi lumayan jauh sepedahannya soalnya."


"Ke pondok kelapa kata Mama.."


"Iyaaa.."


"Sama Si Wina?"

__ADS_1


"Iya Pak."


"Kamu jangan jauh - jauh dulu kalo mau sepedahan Ri.." 


"Yaa kan dulu aku SMA sering ke bundaran HI Pak."


"Yaa kan beda, itu udah lama. Ini kan kamu udah lama gak olahraga.. Nanti itu badan sakit semua biasanya."


"Iyaa sih ini udah lumayan pegel - pegel."


"Ngajak si Wina lagi hehehe.." Ledek Bapak sambil terkekeh. 


"Wina mau ikut aku olahraga Pak. Makanya sekalian aja tadi." 


"Awas nanti badannya Wina sakit - sakit, kamu di omelin Bude Tari loh." Sahut Mama.


"Gakk lahh.." 


Setelah obolan santai antara aku, mama dan bapak. Kita semua pun beristirahat siangnya di kamar masing - masing. Akupun asik chatting dengan Dhito.


"Ri... Kamu lagi ngapain sekarang?"


"Lagi tiduran nih, meluruskan kaki yang pegel - pegel habis sepedahan tadi hahahaha...."


"Yaampun... lagian kamu jauh banget sih sepedahannya sampe ke komlek rumah aku."


"Belum jauh itu mah, aku dulu di SMA sering ke HI kok tiap minggu."


"Ih kan udah lama kamu gak olahraga. Kaget itu pasti otot - otot."


"Iyasih. Semalem pada balik jam berapa Dhit?"


"Oh anak - anak? Nongkrong sampe jam 3 pagi kita. Tapi aku yaa semenjak kerja udah gak pernah nongkrong di lapangan sering - sering kalo malem Ri." 


"Yaampun, terus itu emang langsung tidur? Oh iya? Kenapa emangnya Dhit?"


"Gak hehehe.. Jam 5 habis sholat subuh baru tidur aku. Hmmm aku mau cerita sama kamu boleh?"


"Oh ya bagus masih inget sholat subuhnya yaa... Cerita apa Dhit?"


"InsyaAllah kalo sholat aku mau semakin memperbaiki Ri. Jujur.... Ini aku belum pernah cerita sama Mytha. Yang tau yaa anak - anak yang suka nongkrong bareng aku aja.. Aku tuh dulu sering minum alkohol Ri. Bahkan sempet pemakai juga dulu... Coba - coba. Sampai lulus SMA aku udah mulai mengurangi alkohol dan kalo pemakai aku gak lama karena hampir di grebek sama polisi waktu itu."


Aku terkejut membaca chat dari Dhito bahkan membuatku menjadi membacanya berulang kali untuk di cerna. 


"Dhit. Gue speechless nih. Seriussan lo peminum sama pemakai dulu? Mytha gak tau ini?"


"Iyaa Ri.. Gak sama sekali. Mytha kan juga jarang nongkrong sama anak - anak, dia kan ngumpul kalo di masjid aja."


"Oh iya kalian kan remaja masjid yaa.. Dhit, YaAllah... Padahal kamu aktif jadi remaja masjid di komplek lohh.."


"Iyaa Ri... Tapi aku udah mulai berubah kok. Tinggal rokok aja nih yang susah lepas."


"Yaa pelan - pelan lah Dhit. Semua itu kan butuh proses yaa.."


"Iyaa aku lagi usaha kok Ri. Aku lega banget udah cerita sama kamu. Jadi gak ada yang aku tutup - tutupin dari kamu."


"Iyaa terima kasih udah mau cerita yaa Dhit. Semoga gak kembali lagi ke masa itu yaaa.. Inget umur makin bertambah, lo juga kan anak paling tua Anak pertama, adik - adik lo banyak dan lo masih punya adik kecil banget."


"Iyaa Ri. Semenjak nyokap hamil Celia sih, gue mulai mau berubah. Gak mau jadi peminum sama pemakai lagi."


"Beruntung lo gak di penjara Dhit. YaAllah."


"Iyaa Alhamdulilah masih di sayang sama Allah yaa Ri.."


"Iyaaaa makanyaaa...."


Aku senang Dhito bisa menceritakan masa lalunya yang sangat rahasia itu saat itu. Dan aku juga bersyukur dia mau kembali ke jalan yang benar dan meninggalkan hal - hal negatif.

__ADS_1


__ADS_2